tirto.id - Aktor Hollywood Patrick Stewart dilaporkan meninggal dunia pada Rabu (28/10/2026). Ia merupakan pemeran karakter Professor X yang ikonik dalam film X-Men. Dinilai sebagai legenda dunia sinema, berikut sepak terjangnya di dunia seni peran.
Kabar meninggalnya Stewart sebelumnya telah dikonfirmasi oleh Hugh Jackman, kompatriotnya dalam semesta film X-Men. Melalui sosial media, Jackman menyebut bahwa dunia sinema telah kehilangan seorang legenda.
“Hari ini, kita kehilangan salah satu yang terbaik di atas panggung dan layar,” katanya.
Juru bicara keluarga Stewart, Kelly Bush Novak, mengatakan bahwa aktor senior itu meninggal dunia di Los Angeles, Amerika Serikat. Menukil AP, Novak menjelaskan bahwa Stewart meninggal setelah “perjalanan singkat dan mengharukan” dalam melawan penyakit Alzheimer dan Lewy Down Dementia.
Stewart kini dikenang banyak orang di dunia sebagai aktor pemeran sejumlah karakter ikonik. Selain Professor Charles Xavier pada semesta X-Men, ia juga pemeran karakter Kapten Jean-Luc Picard pada serial Star Trek.
Layar lebar Hollywood telah membuat namanya tersiar di seluruh dunia. Namun, sepak terjangnya di dunia seni peran bermula dari panggung teater. Ia lebih dulu disegani sebagai aktor teater yang hebat, sebelum kini jadi aktor film yang terkemuka.
Sosok Patrick Stewart dan Kiprahnya dalam Dunia Seni Peran
Sebelum jadi apapun, Stewart semula adalah seorang anak yang lahir pada 1940 di Mirfield, West Yorkshire, Inggris. Ia tumbuh dalam keluarga kelas pekerja yang serba terbatas secara ekonomi.
Ia adalah anak seorang veteran Perang Dunia II. Ayahnya mantan sersan mayor sebuah resimen di Angkatan Darat Inggris.
Memiliki ayah seorang mantan serdadu membuat masa kanak Stewart lekat dengan kekerasan. Stewart dewasa menggambarkan periode tersebut sebagai salah satu fase kelam dalam hidupnya.
Stewart menceritakan bahwa perang telah membuat ayahnya jadi sosok yang terlampau keras. Ketidakstabilan psikologis menghinggapinya dan menjadikan sang ayah sebagai sosok yang abusif.
Dalam banyak kesempatan, Stewart menceritakan bagaimana ia terpaksa melihat ibunya jadi "samsak tinju" ayahnya ketika marah. Melalui memoarnya, Making It So, Stewart turut mengenang episode kelam ketika ia mesti menghadapi malam-malam mencekam setiap kali ayahnya pulang dalam keadaan mabuk dan emosional. Itu dikenang Stewart sebagai masa ketika ibunya jadi korban kekerasan berulang.
“Terkadang dengan telapak tangan, di lain waktu dengan kepalan tangan. Ia [sang ayah] selalu mengincar bagian kepala ibu saya,” tulis Stewart dalam memoarnya.
Keadaan rumah yang tak aman membuat Stewart remaja mencari rumah lain yang bisa membuatnya nyaman. Hal itu lalu ia temukan dalam bentuk panggung pertunjukan.
Pertaliannya dengan seni panggung bermula ketika ia bersekolah. Semula ia menjadikan hal itu sebagai hobi. Stewart yang beranjak remaja kemudian memperdalamnya dengan menempuh pelatihan di Bristol Old Vic Theatre School.
Saat usianya beranjak dewasa, Stewart sempat bekerja sebagai reporter surat kabar di Inggris. Namun, seni peran telah menyita perhatiannya melebihi apa pun hingga ia akhirnya memutuskan untuk jadi pemeran profesional.
“Panggung menjadi ruang yang aman, tempat pelarian dari kehidupan nyata di mana saya bisa menjelma jadi orang lain, hidup di tempat dan waktu yang lain,” tulis Stewart dalam memoarnya.
Pada 1966, ketika usianya menginjak 26 tahun, Stewart bergabung dengan kelompok teater Royal Shakespeare Company. Selama beberapa dekade setelahnya, ia naik panggung sebagai karakter-karakter Shakespeare. Terkadang ia jadi Mark Antony, di lain waktu jadi Henry IV, waktu berganti dan ia jadi Shylock hingga Oberon.
Renjana pada panggung itu kemudian membuat nama Patrick Stewart tenar di industri teater London maupun Broadway. Suaranya yang berwibawa dan kemampuannya untuk menghidupkan karakter yang kompleks, membuatnya menjadi pemeran dengan reputasi yang diakui di Inggris.
Pada 1987, Stewart mengalami terobosan karier yang mengubah hidupnya. Kala itu, ia menjalani debut internasionalnya ketika dipilih sebagai pemeran Kapten Jean-Luc Picard dalam serial Star Trek: The Next Generation yang diproduksi di Amerika Serikat (AS).
Serial itu mendapatkan kesuksesan besar secara global. Kemampuan Stewart juga dipuji dalam serial itu karena dianggap dapat memerankan sosok Picard yang bijaksana dan diplomatis secara apik.
Setelah serial itu berhenti pada 1994, nama Patrick Stewart telah menjelma sebagai aktor yang diperhitungkan dalam kancah perfilman Hollywood. Ia pun kemudian mendapat peran sebagai Charles Xavier dalam film X-Men (2000).
Lagi-lagi, Stewart berhasil memerankan karakter itu dengan apik lagi ikonik. Seiring semesta X-Men terus difilmkan, karakter Profesor X juga berulang kali diperankan Stewart.
Kecintaannya pada dunia seni peran itu kemudian membuatnya dianugerahi gelar ksatria oleh Ratu Elizabeth II pada 2010. Gelar itu diberikan sebagai penghargaan dan pengakuan atas kiprah Stewart dalam dunia seni peran.
Gelar ini melengkapi penghargaan yang telah ia raih, termasuk Piala Grammy 1996 kategori album tutur (spoken word) terbaik untuk penampilannya dalam Peter and the Wolf.
Akan tetapi, momen yang membuatnya dikenang sebagai legenda bukan hanya terletak pada kiprahnya di dunia seni peran. Ia juga dikenal lewat aktivismenya untuk meredam kekerasan dalam rumah tangga.
Ia merupakan duta resmi bagi Refuge, organisasi yang membantu para penyintas kekerasan rumah tangga. Ia juga aktif terlibat dalam Combat Stress, organisasi serupa untuk membantu para veteran perang memerangi kekerasan rumah tangga.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































