tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat akumulasi 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga Kamis (22/10/2026).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 75.172 kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun (balita), sedangkan 258.298 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut penambahan kasus harian dan jumlah wilayah dengan kualitas udara sangat buruk hingga berbahaya mulai menurun dibandingkan awal September 2026.
Penambahan kasus ISPA harian yang sempat mencapai 10.000-15.000 kasus pada awal September juga menurun menjadi sekitar 3.000 kasus per hari.
Sebaran Kasus ISPA akibat Karhutla di Indonesia
Menkes Budi Gunadi Sadikin menyampaikan perkembangan kasus ISPA akibat karhutla dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, meskipun akumulasi kasus telah mencapai 333.470, perkembangan terbaru menunjukkan penurunan laju penambahan pasien dibandingkan periode awal bencana.
“Untuk teman-teman, informasi, kan ada 7 provinsi terdampak, ada 81 kabupaten/kota. Pada saat awal-awal bulan September itu ada 50 daerah yang hitam dan merah. Sekarang sudah turun ke 22,” ujar Budi.
Tujuh provinsi di Indonesia yang mencatat kasus ISPA tertinggi adalah:
- Kalimantan Selatan
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Timur
- Sumatera Selatan
- Riau
- Jambi
Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 3.000 kasus per hari. Meski demikian, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti menyebut pemantauan masih menemukan 4.522 kasus ISPA harian.
Dari keseluruhan kasus yang tercatat, 75.172 kasus dialami balita, sedangkan 258.298 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus karena paparan asap dapat mengganggu sistem pernapasan yang masih berkembang. Selain anak-anak, kelompok rentan lainnya meliputi lansia, ibu hamil, penderita penyakit penyerta, dan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida yang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Dampaknya tidak hanya berupa ISPA, tetapi juga dapat memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.
Pemerintah daerah bersama Kemenkes juga telah menyiapkan 491 rumah oksigen bagi masyarakat terdampak. Fasilitas tersebut dilengkapi tabung oksigen dan alat oxygen concentrator. Pemerintah juga mengoperasikan unit mobil oksigen yang menyusuri kawasan padat penduduk untuk membantu warga yang membutuhkan dukungan oksigen.
Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas di wilayah dengan kualitas udara sangat buruk dan berbahaya memiliki fasilitas oksigenasi darurat. Dengan demikian, masyarakat yang mengalami kesulitan bernapas dapat segera memperoleh pertolongan awal di fasilitas kesehatan terdekat.
Then Suyanti juga menyatakan bahwa pemerintah menanggung biaya perawatan medis bagi pasien yang terdampak karhutla dan kabut asap.

Update Karhutla di Indonesia
Dashboard Informasi Penanganan Karhutla per 22 Oktober 2026 mencatat total 5.818 titik hotspot dalam akumulasi enam provinsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 299 titik tercatat sebagai fire spot.
Dalam periode 24 jam terakhir, luas lahan terbakar tercatat mencapai 850,04 hektare di enam provinsi. Luas area yang masih akan dipadamkan sendiri mencapai 465,86 hektare.
Di Kalimantan Tengah, kualitas udara tercatat berada pada rentang sedang hingga berbahaya, dengan jarak pandang di bandara terdekat sekitar 0,8 kilometer.
Di Sumatra Selatan, kualitas udara berada pada kategori sedang hingga sangat tidak sehat, dengan jarak pandang di bandara terdekat berkisar 0,2–2,5 kilometer. Kondisi tidak sehat hingga berbahaya juga tercatat di Jambi, dengan jarak pandang sekitar 1,3 kilometer.
Riau mencatat kualitas udara pada kategori sedang hingga sangat tidak sehat, dengan jarak pandang sekitar lima kilometer.
Di Kalimantan Barat, kualitas udara berada pada kategori sedang hingga tidak sehat, dengan jarak pandang berkisar 0,5–10 kilometer. Adapun di Kalimantan Selatan, kualitas udara tercatat dari kategori tidak sehat hingga berbahaya, dengan sejumlah wilayah mengalami kondisi sangat tidak sehat.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































