Menuju konten utama

Saksi Puputan Badung, Bale Kulkul Puri Pemecutan Dibersihkan

Pembersihan Bale Kulkul Puri Agung Pemecutan dilakukan bersama Penglingsir. Simak selengkapnya.

Saksi Puputan Badung, Bale Kulkul Puri Pemecutan Dibersihkan
Jaga warisan budaya Bali, Bale Kulkul Puri Agung Pemecutan Denpasar dibersihkan, Sabtu (17/10/2026). Foto/Dok.Pemkot Denpasar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Bali bersama Dinas Kebudayaan Kota Denpasar membersihkan Bale Kulkul Puri Agung Pemecutan berlokasi di Jalan Gunung Batur, Pemecutan, Kota Denpasar yang menjadi warisan budaya Indonesia, Sabtu (17/10/2026).

Kepala Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Kota Denpasar, Ni Wayan Sri Witari, menjelaskan pembersihan atau kerap disapa warga lokal ngayah ring (bekerja di) cagar budaya dilakukan untuk merawat kembali peninggalan budaya Bali.

"Kegiatan ini, tidak hanya sekedar pemeliharaan fisik tapi juga merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran, kecintaan dan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan serta keberlanjutan warisan budaya," terang Sri Witari, Sabtu (17/10/2026).

Bale Kulkul Puri Agung Pemecutan menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat Bali khususnya di Kota Denpasar (kala itu masih disebut Badung) dengan sebutan peristiwa perang Puputan Badung pada 20 September 1906.

Dimana rakyat dan raja-raja dari Badung kala itu, mencoba untuk mempertahankan kehormatan dan kedudukannya dari serangan kolonial Belanda yang datang ke Sunda Kecil (sebutan lawas Pulau Dewata, Bali).

Warisan budaya ini juga menjadi salah satu peninggalan yang tersisa utuh dari kompleks Puri Pemecutan sehingga menjaga, merawat dan melestarikan cagar budaya menjadi upaya Pemerintah Kota Denpasar untuk menunjukkan identitas dan sejarahnya.

"Kebudayaan adalah jati diri bangsa yang harus kita jaga, kembangkan dan wariskan kepada generasi mendatang," imbuhnya.

Pembersihan Bale Kulkul Puri Agung Pemecutan dikatakan Sri Witari, dilakukan bersama Penglingsir (sebutan sesepuh atau tetua) Puri Agung Pemecutan, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Kader Pelestarian Budaya Kota Denpasar, hingga mahasiswa Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (Unud) Bali.

Semangat gotong royong yang dilakukan, diharapkan bisa menciptakan sinergi yang lebih kuat baik instansi pemerintah, Puri Agung Pemecutan, pelestari budaya hingga generasi muda dalam melestarikan budaya Bali di Kota Denpasar.

"Ini tanggung jawab kita bersama, semangat ngayah, kita rawat warisan leluhur, sebagai identitas budaya Bali," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait CAGAR BUDAYA atau tulisan lainnya dari Ahmad Firizqi Irwan

tirto.id - Flash News
Reporter: Ahmad Firizqi Irwan
Penulis: Ahmad Firizqi Irwan
Editor: Anggun P Situmorang