Menuju konten utama

Sadar Risiko Lewat Sains untuk Solusi Masalah Perkotaan

Kueri Insight untuk pertama kalinya digelar luring di Bandung, membahas sampah, smart city, dan pentingnya kesadaran risiko berbasis sains dan data.

Sadar Risiko Lewat Sains untuk Solusi Masalah Perkotaan
Event Kueri "Sadar Risiko Lewat Sains" di Bandung, 25 September 2026. tirto.id/Firman
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Program podcast Kudapan Eksperimen & Riset (Kueri) Insight untuk pertama kalinya digelar secara luring di Kota Bandung. Program yang mengemas sains, penelitian, dan berbagai persoalan berbasis data secara santai itu mengangkat tema “Sadar Risiko Lewat Sains” dan digelar di CGV Kings, Kota Bandung, Jumat (25/9/2026).

Forum tersebut mendiskusikan tiga persoalan Kota Bandung, yakni “Potensi Ekonomi di Balik Sampah Organik”, “Bandung Smart City”, dan “Bandung sebagai Pioner Kota Sadar Risiko”.

Dalam diskusi “Potensi Ekonomi di Balik Sampah Organik”, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Neni Sinta Wardani mengajak masyarakat mulai mengelola sampah dari rumah sebagai salah satu upaya mengurangi beban pengelolaan sampah di Bandung Raya.

Peneliti yang pernah meraih The Underwriters Laboratories-ASEAN-U.S. Science Prize for Women 2021 itu menjelaskan persoalan sampah di Bandung Raya masih cukup besar. Berdasarkan data yang dimilikinya, timbulan sampah di Bandung Raya mencapai sekitar 1.500 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 980 ton dapat masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, sedangkan sekitar 500 ton lainnya belum tertangani secara optimal.

Persoalan ini tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah atau pihak lain, kata Neni, sebab masyarakat turut menghasilkan sampah setiap hari.

“Kalau kita mengharapkan dan selalu hanya menuding ke pihak yang lain, tidak akan pernah selesai. Karena kita sendiri setiap hari memproduksi sampah. Itu tanggung jawab kita sendiri,” ujar Neni dalam acara Kueri Insight.

Dia mendorong masyarakat memulai pengurangan risiko sampah dari tingkat rumah tangga, salah satunya melalui pemilahan. Berdasarkan simulasi yang dilakukan bersama timnya, pemilahan sampah dari rumah dapat mengurangi sekitar 20 persen sampah yang harus dibuang.

Selain memilah, sampah organik juga dapat diolah langsung dari sumbernya sehingga tidak perlu diangkut keluar rumah. Ia menerapkan konsep pengelolaan sampah organik di rumahnya menjadi kompos dengan menggunakan kotak yang diisi serbuk gergaji.

“Setiap hari semua sampah dapur saya maupun bekas makanan yang sudah basi saya masukkan ke situ dan tidak menimbulkan bau. Nanti setelah satu setengah bulan saya panen, sudah jadi kompos untuk tanaman saya,” jelas Neni.

Selain mengurangi volume sampah, pemilahan sampah memiliki potensi ekonomi. Ia mencontohkan petugas pengelolaan sampah di salah satu TPS Sukapura, Kiaracondong di Bandung yang memperoleh penghasilan dari memilah sampah rumah tangga.

“Di Sukapura, Kiaracondong, bisa hidup dari sampah karena semua sampah dari rumah tangga diangkut tukang sampah. Itu dibawa ke TPS, kemudian langsung dipilah. Yang basah diangkut sama pemerintah kota karena dianggap residu,” bebernya

“Mulai dari memilah sampah, lakukan terus sampai menjadi kebiasaan,” jelasnya.

Upaya memilah sampah dari rumah menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat di tengah persoalan pengelolaan sampah di Kota Bandung. Namun, persoalan tersebut tidak berdiri sendiri.

Dalam diskusi “Bandung Smart City”, Profesor Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Hanif Fakhrurroja, menyebut sampah, kemacetan, serta banjir sebagai tiga persoalan krusial yang dihadapi Kota Bandung.

Ia menyebut, banjir di Bandung menjadi persoalan penting karena sejumlah faktor lingkungan dan keterbatasan sistem pemantauan. Peneliti lulusan ITB ini menyoroti juga berbagai sensor yang dimiliki pemerintah, kampus, dan lembaga riset yang belum terintegrasi.

Ahli mekatronika ini menilai Bandung membutuhkan satu platform yang dapat mengintegrasikan data sensor cuaca, kondisi tanah, permukaan sungai, CCTV, hingga citra satelit. Nantinya, data tersebut dapat diolah menggunakan machine learning dan AI untuk menghasilkan prediksi serta sistem peringatan dini.

“Masalah yang terjadi di kita itu datanya terpisah-pisah. Masing-masing punya data sendiri, tidak terintegrasi,” jelas Hanif.

Ia memberi contoh dalam sistem peringatan banjir. Data curah hujan di wilayah hulu dapat digunakan untuk memprediksi kemungkinan banjir di Bandung Selatan sehingga warga yang memperoleh peringatan dapat menghindari wilayah terdampak.

Dalam persoalan infrastruktur, Hanif bilang perbaikan jalan dan trotoar perlu memiliki roadmap yang jelas agar berkelanjutan dan tidak berulang kali dibongkar akibat pekerjaan utilitas.

“Harusnya ada semacam blueprint yang jelas dan berkelanjutan,” ujarnya

Selain persoalan infrastruktur dan kebutuhan akan data, berbagai persoalan perkotaan juga berkaitan dengan cara masyarakat mengenali dan merespons risiko. Kesadaran tersebut diperlukan dalam menghadapi kemacetan, banjir, sampah, polusi, hingga penurunan tanah.

Pada diskusi “Bandung sebagai Pioner Kota Sadar Risiko”, Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (Masindo), Dimas Syailendra R., menuturkan bahwa kesadaran risiko perlu dibangun sebagai budaya untuk berpikir sebelum mengambil keputusan. Lulusan Fisika ITB ini menambahkan, pengambilan keputusan seharusnya tidak hanya didasarkan pada emosi, tetapi juga data dan pertimbangan rasional.

"Kalau bahasa Sunda, orang Indonesia umumnya itu 'kumaha engke'. Nah, budaya sadar risiko adalah budaya membalik, 'engke kumaha?' Nanti bagaimana?" jelas Dimas.

Dimas menyebut persoalan di perkotaan bersifat kompleks dan saling berkaitan. Persoalan sampah, misalnya, tidak hanya berdampak terhadap kebersihan, tetapi juga dapat memicu persoalan lain seperti banjir dan bau.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai interconnectivity of risks, yaitu berbagai risiko yang saling berhubungan dan dapat memunculkan risiko baru. Dimas juga menjelaskan, penyelesaian persoalan perkotaan membutuhkan asesmen serta dukungan data.

"Risiko ini bukan untuk ditakuti, tapi untuk diukur, kemudian kita cari tahu dan dimitigasi," terangnya.

Konsep sadar risiko (risk awareness) hingga upaya menguranginya (harm reduction) harus diterapkan termasuk dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Contoh lain yang dipaparkan Dimas adalah terkait kebiasaan merokok.

“Kebiasaan merokok itu kan berisiko. Dalam konteks itu, harm reduction bicara bagaimana memitigasi dan mengurangi dampaknya. Misal dengan mengganti rokok ke produk tembakau alternatif yang tidak ada pembakaran,” ucapnya, menekankan pentingnya menyadari risiko yang ada di kehidupan sehari-hari dan mencari solusi untuk mengurangi.

Dimas menambahkan bahwa secara konsep ada lima pertanyaan yang perlu dijawab untuk mengurangi risiko itu. “Risiko apa yang mau dihindari, siapa yang kena dampak risiko itu, ada alternatif lain atau nggak, ukur benefit atau manfaat dari alternatif tersebut, monitor lagi keputusan kita masih ada risiko atau nggak,” paparnya.

Kesadaran terhadap risiko juga diperlukan dalam proses pengambilan kebijakan publik. Dimas mengatakan kebijakan yang dibuat pemerintah dapat menghasilkan dampak yang berlangsung panjang dan meluas.

Kebijakan yang memberikan manfaat, menurut Dimas, dapat menghasilkan efek berantai, begitu pula kebijakan yang mengandung risiko.

Lebih lanjut ia menyebut, pengambilan kebijakan perlu diawali dengan mengenali dan mengatasi risiko, mengukur manfaat serta dampaknya, kemudian menentukan langkah mitigasi. Oleh karena itulah Dimas menekankan pentingnya data dan pengambilan keputusan berbasis sains.

"Data sangat dibutuhkan dalam proses pembuatan kebijakan publik," pungkasnya.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis