Menuju konten utama

Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah Rp18.097 Per Dolar AS

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS hari ini. Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyampaikan laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang postif.

Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah Rp18.097 Per Dolar AS
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (6/11/2026). Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah dibuka di level Rp18.097 per dolar AS pada pukul 09.03 WIB. Posisi tersebut melemah 0,09 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Kamis (5/11/2026), yang berada di level Rp18.082 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia yang bergerak melemah terhadap dolar AS. Di sisi lain, dinamika ekonomi domestik, termasuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 dan perkembangan pasar modal, turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Pemerintah menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan, meskipun tetap mewaspadai sejumlah risiko yang dapat memengaruhi nilai tukar, seperti kondisi pasar keuangan global dan tekanan harga pangan serta energi.

Pergerakan Rupiah dan Mata Uang Asia

Pada perdagangan Jumat (6/11/2026) pagi, mayoritas mata uang di kawasan Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,30 persen, diikuti dolar Taiwan yang turun 0,22 persen dan yen Jepang sebesar 0,20 persen.

Selanjutnya, dolar Singapura melemah 0,14 persen, baht Thailand turun 0,13 persen, rupiah melemah 0,09 persen, peso Filipina turun 0,06 persen, dan yuan China melemah 0,05 persen terhadap dolar AS.

Hanya dua mata uang Asia yang berhasil menguat pada perdagangan pagi ini, yakni won Korea yang naik 0,15 persen dan dolar Hong Kong yang menguat 0,04 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi Penopang Rupiah

Di tengah pelemahan nilai tukar, kondisi perekonomian domestik menunjukkan pertumbuhan positif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut konsumsi pemerintah menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026.

Menurut Airlangga, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan belanja pemerintah selama kuartal II dan III-2026, termasuk melalui sejumlah program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP).

Selain belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga juga memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian. Komponen ini tumbuh 5,04 persen dan menyumbang 51,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen pada kuartal III-2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal II-2026 yang mencapai 5,29 persen.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi salah satu sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi. Sektor yang memiliki kontribusi sebesar 19,22 persen terhadap PDB tersebut tumbuh 5,87 persen.

Pertumbuhan industri pengolahan didukung oleh sejumlah subsektor, antara lain industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,09 persen, industri kimia dan farmasi sebesar 8,10 persen, logam dasar sebesar 9,94 persen, serta alat angkutan dan otomotif sebesar 6,14 persen. Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan sebesar 6,42 persen.

Pemerintah optimistis momentum pertumbuhan ekonomi masih dapat dipertahankan pada kuartal IV-2026. Salah satu indikator yang menjadi dasar optimisme tersebut adalah indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur Indonesia.

Pada Oktober 2026, PMI manufaktur Indonesia berada di level 54,0, meningkat dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar 52,4. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi atau mengalami peningkatan aktivitas dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri yang disusun Kementerian Perindustrian tercatat sebesar 53,77. Penjualan listrik juga meningkat 9,21 persen, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level optimistis sebesar 118,1.

Meski demikian, Airlangga mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, terutama tekanan harga pangan dan energi serta dinamika nilai tukar rupiah.

"Capaian pertumbuhan sebesar 5,47 persen ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah, dipimpin Bapak Presiden Prabowo, sudah berada di jalur yang tepat dengan fundamental yang kuat dan investasi yang terus meningkat. Dukungan kebijakan yang terarah akan terus dijalankan, meskipun masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diselesaikan," tutur Airlangga dikutip Antara (6/11/2026).

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar