Menuju konten utama

Rahayu Saraswari Ajak Pemuda Diksusi Konstruktif dan Solutif

Ajakan itu disampaikan Rahayu saat menyoroti perdebatan kusir di media sosial yang dinilai tak berdampak positif kepada masyarakat.

Rahayu Saraswari Ajak Pemuda Diksusi Konstruktif dan Solutif
Rahayu Saraswati. wikimedia/Dok. Gerindra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, merasa prihatin terhadap tren komunikasi publik yang kerap berujung pada perdebatan tanpa arah di media sosial. Menurut Saras, perdebatan seperti itu tidak memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Ia mendorong generasi muda untuk menyalurkan energi dan pemikiran mereka ke dalam ruang diskusi yang konstruktif dan solutif.

Hal tersebut disampaikan Saras saat mengapresiasi acara Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 yang berlangsung di The Tribrata, Hotel & Convention Center, Sabtu (31/10/2026).

“Satu hal yang saya sangat apresiasi kepada teman-teman Rembuk Pemuda, semangat untuk bisa membuka ruang berdiskusi, ruang untuk berkomunikasi. Di saat di mana di media sosial dan juga ruang umum banyak terjadi perdebatan dan sayangnya perdebatan kusir, perdebatan yang tidak berujung pada sebuah rekomendasi maupun hal-hal yang bisa kita kerjakan bersama-sama,” kata Saraswati, yang juga Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda.

Rahayu menilai hadirnya Rembuk Pemuda mengisi kekosongan wadah komunikasi yang menjembatani para pemuda dari ragam latar belakang, suku, agama, ras, dan profesi untuk duduk bersama dan menghasilkan kesepakatan.

“Kekosongan yang ada adalah tempat untuk berkomunikasi, berdiskusi dari lintas afiliasi, lintas latar belakang. Apakah itu pengusaha, apakah itu politisi, apakah itu teknokrat, apakah itu akademisi, apakah itu dari sektor kesehatan. Mereka semua dari latar belakang mereka masing-masing untuk bisa berkumpul,” ujar Saraswati.

Saraswati menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi berbagai tantangan global dan nasional, termasuk bagaimana menyikapi pesatnya perkembangan teknologi di tengah bonus demografi Indonesia.

Ia berharap masukan dan aspirasi yang dihimpun dari perwakilan pengurus Rumbuk Pemuda di 29 provinsi ini dapat dikawal hingga ke tingkat penyusunan kebijakan nasional, baik yang berkaitan dengan lapangan kerja, UMKM, industri, hingga sektor agroforestri.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap tren komunikasi publik yang sering kali berujung pada perdebatan tanpa arah di media sosial.

Dirinya menilai, perdebatan seperti itu tidak memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ia mendorong generasi muda untuk menyalurkan energi dan pemikiran mereka ke dalam ruang diskusi yang konstruktif dan solutif.

Hal tersebut disampaikan putri dari Hashim Djojohadikusumo tersebut saat mengapresiasi acara Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 yang berlangsung di The Tribrata, Hotel & Convention Center, Sabtu (31/10/2026).

“Satu hal yang saya sangat apresiasi kepada teman-teman Rembuk Pemuda, semangat untuk bisa membuka ruang berdiskusi, ruang untuk berkomunikasi. Di saat di mana di media sosial dan juga ruang umum banyak terjadi perdebatan dan sayangnya perdebatan kusir, perdebatan yang tidak berujung pada sebuah rekomendasi maupun hal-hal yang bisa kita kerjakan bersama-sama,” ujar Saraswati, yang juga Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda.

Rahayu menilai, hadirnya Rembuk Pemuda mengisi kekosongan wadah komunikasi yang menjembatani para pemuda dari ragam latar belakang, suku, agama, ras, dan profesi untuk duduk bersama dan menghasilkan kesepakatan.

“Kekosongan yang ada adalah tempat untuk berkomunikasi, berdiskusi dari lintas afiliasi, lintas latar belakang. Apakah itu pengusaha, apakah itu politisi, apakah itu teknokrat, apakah itu akademisi, apakah itu dari sektor kesehatan. Mereka semua dari latar belakang mereka masing-masing untuk bisa berkumpul,” ujar Saraswati.

Saraswati menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi berbagai tantangan global dan nasional, termasuk bagaimana menyikapi pesatnya perkembangan teknologi di tengah bonus demografi Indonesia.

Ia berharap masukan dan aspirasi yang dihimpun dari perwakilan pengurus Rembuk Pemuda di 29 provinsi ini dapat dikawal hingga ke tingkat penyusunan kebijakan nasional, baik yang berkaitan dengan lapangan kerja, UMKM, industri, hingga sektor agroforestri.

“Di sini harus ada tempat ruang untuk kita bisa bahkan bukan hanya berdiskusi, tapi ada satu kesimpulan yang bisa diambil dalam bentuk apa pun itu di daerah, yang ujungnya harus berdampak secara positif untuk masyarakat di daerah mereka masing-masing,” pungkas Saras.

Baca juga artikel terkait RAHAYU SARASWATI atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khizbulloh Huda
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama