tirto.id - Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Manggarai, Wensislaus Sedan, mengatakan sekitar 90 persen kegiatan belajar-mengajar di sekolah terdampak gempa Flores telah berjalan semi-normal. Dia menambahkan, beberapa sekolah menerapkan sistem sif dalam belajar-mengajar karena keterbatasan ruang kelas. Saat ini, pemerintah daerah berupaya memastikan kegiatan belajar-mengajar sesuai kurikulum yang berlaku.
“Target kita adalah walaupun di masa bencana, layanan pembelajaran untuk anak tetap harus dilaksanakan sesuai dengan target guru-guru. Karena apa pun itu, hak anak tidak boleh dibatasi karena bencana,” ujar Wensislaus saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, NTT, Minggu (18/10/2026).
Ia menjelaskan, siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP menjadi prioritas agar tetap mendapatkan layanan pembelajaran setiap hari. Hal ini dilakukan karena mereka akan menghadapi ujian semester pada awal Desember dan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sekitar April mendatang.
Sementara itu, sekitar 10 persen kegiatan pembelajaran lainnya masih berlangsung dengan keterbatasan. Wensislaus mencontohkan sekolah-sekolah di wilayah Reo menerapkan pola pembelajaran bergilir, yakni siswa masuk sekolah dua hingga empat hari dalam sepekan, bergantung pada kondisi dan ketersediaan ruang kelas. Pada hari lainnya, siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Wensislaus menyebut keterbatasan anggaran pemerintah daerah menjadi salah satu kendala dalam penyediaan ruang kelas darurat. Pemerintah Kabupaten Manggarai telah menyurati kementerian terkait untuk mengajukan kebutuhan sekitar 700 ruang kelas darurat.
“Kabupaten Manggarai punya keterbatasan kemampuan untuk mengalokasikan anggaran untuk itu,” tutur Wensislaus.
Ia berharap pembangunan ruang kelas darurat dapat segera direalisasikan pada Oktober ini agar kegiatan pembelajaran di sekolah terdampak dapat berjalan lebih optimal.
Reporter: Jasmin
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































