tirto.id - Nada bicara Yandri Tehumase (30) tiba-tiba meninggi saat Saya bertanya apa arti kata “alamo”. Padahal, sebelumnya Yandri baru saja menjawab dengan jujur bahwa ia habis mengonsumsi narkotika jenis sabu-sabu semalam sebelumnya.
Saat ditanya kata tersebut, kedua tangan Yandri sontak naik dari pangkuan. Kedua matanya menatap ke arah tangannya yang terborgol kabel ties berwarna merah. Dengan tegas ia mengaku tidak mengetahui apapun tentang arti kata “alamo.”
“Wah gua enggak tahu gua, gua pendatang,” kata Yandri menjawab pertanyaan Tirto.
Yandri adalah salah satu dari tujuh orang yang ditangkap saat aparat kepolisian menggerebek kawasan Kampung Ambon di Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat, pada Kamis (15/10/2026) pagi. Sejak lama, kawasan itu memang dikenal sebagai sarang peredaran narkotika.
Selain Yandri, Saya juga berupaya mencari tahu apa arti kata “alamo” kepada dua orang lainnya yang ikut digelandang polisi ke dalam mobil untuk kemudian dibawa ke Mapolda Metro Jaya.
Kedua orang yang tidak mau memberi tahu namanya itu dengan cepat langsung menekankan bahwa mereka sama sekali tidak tahu menahu apa arti kata “alamo.”

Saya berupaya mencari tahu arti kata “alamo” karena kata itu tersebar di berbagai tempat di kawasan Kampung Ambon. Mulai dari graffiti di tembok sampai stiker di pintu, kata itu dapat ditemui di hampir setiap sudut gang.
Di salah satu bangunan kosong yang tampak dijadikan tempat berkumpul warga sekitar, terdapat tulisan “alamo” di bagian tembok. Tepat di sampingnya, terdapat tulisan “Israel” yang ditulis dengan menggunakan pilok berwarna biru.
“Alamo straight outta camp Ambon,” demikian salah satu tulisan yang dilihat di lokasi.
Pada beberapa tembok, tulisan “alamo” itu bahkan bersanding dengan tulisan “all cops are bastards”, yang dalam Bahasa Indonesia berarti “semua polisi adalah bajingan.”
Tulisan “alamo” juga terlihat di pintu salah satu rumah yang digeledah polisi. Di bagian jendela, terpampang kata “Israel” yang ditulis dengan pilok berwarna abu-abu.

Saat kami memasuki rumah itu, bagian dalamnya tampak gelap. Tak ada lampu yang menyala. Para penghuni juga tampaknya sudah pergi meninggalkan rumah itu. Hanya ada seekor anjing hitam yang tampak kebingungan.
Polisi kemudian mendobrak pintu kamar depan dari rumah itu. Di dalamnya berserakan puntung rokok dan bungkus air minum dalam kemasan. Meski begitu, pendingin ruangan di kamar itu masih menyala. Sebuah pertanda bahwa sebelumnya habis ada orang yang menetap di kamar tersebut.
Sementara itu di kamar lainnya, polisi menemukan puluhan botol minuman keras. Di kamar itu, ditemukan juga sebilah pisau, plastik klip, sampai lem.
Penyisiran polisi kemudian berlanjut ke sebuah indekos. Suara mesin pendingin udara dari indekos itu masih terdengar menyala. Namun anehnya, pintu gerbang indekos itu justru digembok dengan rantai.
Saat polisi memotong rantai dan berhasil masuk, tiap kamar pun mulai disisir satu per satu. Saat berhasil mendobrak pintu, hampir semua kamar itu ternyata sudah kosong tak berpenghuni.

Saya kembali melihat stiker bertuliskan “alamo” di hampir seluruh kamar indekos yang digeledah polisi. Stiker itu ditempel di bagian pintu masuk sampai lemari baju.
Di salah satu kamar, tulisan “alamo” bahkan dicetak cukup besar dan dipajang tepat di bawah lukisan The Last Supper atau Perjamuan Terakhir, lukisan fenomenal karya Leonardo da Vinci yang menampilkan Yesus bersama 12 rasulnya.
Alamo Merujuk pada Benteng di Texas
Untuk memastikan seluruh rumah yang mencurigakan berhasil digeledah, polisi membagi dua tim untuk melakukan penyisiran ke arah yang berbeda.
Saat tiba di depan GPIB Silo yang berlokasi di Jalan Akik Permata, polisi sempat menangkap seorang pemuda yang dicurigai. Polisi juga menginterogasi seorang perempuan paruh baya, dan memintanya menunjukkan isi jok motor. Perempuan itu diketahui bernama Cece.
Setelahnya, Saya menghampiri Cece dan berbincang singkat. Kami berbincang tepat di depan sebuah lahan kosong yang bagian depannya dijadikan kandang anjing berjenis Pitbull milik Cece.
“Itu anjing saya. Makannya banyak, bahkan pernah dia makannya es krim,” ucap Cece.
Tepat di depan kandang itu, kembali terlihat graffiti bertuliskan “alamo.” Saya lantas bertanya kepada Cece, apa sebenarnya arti kata itu.
Cece menjelaskan, kata “alamo” yang ditemukan di berbagai sudut Kampung Ambon itu merujuk pada Benteng Alamo yang berlokasi di San Antonio, Texas, Amerika Serikat (AS).
Menurut versinya, orang-orang yang tinggal di kawasan Kampung Ambon merasa memiliki kedekatan dengan cerita terkait benteng itu. Ia juga membantah bahwa alamo merupakan nama atau kode dari suatu geng tertentu.
“Oh itu ngambil dari nama benteng [di Texas], orang sini merasa dekat aja. Bukan [nama geng tertentu],” kata Cece.
Sebagai informasi, pada 23 Februari–6 Maret 1836, Benteng Alamo diserbu oleh 3.000 pasukan Meksiko. Pasukan yang dipimpin Jenderal Antonio López de Santa Anna melancarkan serangan dan pengepungan selama 13 hari terhadap benteng itu. Benteng Alamo pun akhirnya jatuh ke tangan Meksiko.
Saya juga berupaya mengonfirmasi kepada pihak kepolisian terkait temuan tulisan “alamo” tersebut. Kasubdit I Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya, Kompol Ardiyan Yudo Setyantono, mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih mendalami arti kata itu.
“Belum tahu [artinya apa], masih kami dalami. Yang ada tulisan-tulisan di tembok itu, kan?” terang Yudo.
7 Orang Ditangkap dari Penggerebekan di Kampung Ambon
Dalam penggerebekan dan penyisiran yang dilakukan pada Kamis pagi, tim gabungan Polda Metro Jaya bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menangkap tujuh orang.
Kompol Yudo mengatakan, dari tujuh orang yang ditangkap, enam di antaranya positif mengonsumsi narkotika.
Selain melakukan penangkapan, polisi juga menemukan sejumlah barang bukti seperti narkotika jenis sabu-sabu, senjata tajam (sajam), hingga uang tunai.
“Kami akan lakukan pemeriksaan, dan juga berikut barang buktinya ada beberapa klip kecil jenis sabu, diduga jenis sabu. Dan juga ada sajam dan lain sebagainya,” ucap Yudo.
Yudo menyebut, sejumlah sajam seperti pedang, pisau, hingga tombak yang ditemukan diduga dipersiapkan untuk melakukan penyerangan apabila aparat kepolisian tiba.
Ke depannya, Ditresnarkoba Polda Metro Jaya akan tetap melakukan penindakan secara acak di Kampung Ambon tersebut.
Yudo menambahkan, penggerebekan kembali dilakukan karena diduga masih ada sejumlah pihak yang berjualan di kawasan Kampung Ambon, meskipun penggerebekan sudah dilakukan beberapa kali sejak 9 Oktober 2026.
“Tapi kami masih belum mendapatkan buktinya. Sehingga dalam artian orang tersebut belum ada, barang buktinya juga kami informasinya juga di dalam itu masih ada,” tutupnya.

Penulis: Naufal Majid
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































