Merry Riana

Owner Merry Riana Organization Merry Riana Organization
Lahir: Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, 29 Mei 1980
Karir
  • Owner Merry Riana Organization Merry Riana Organization
Pendidikan
  • SD Don Bosco Pulomas (1986-1992) (1986-1992)
  • SMP Santa Ursula (1992-1995) (1992-1995)
  • SMU Santa Ursula (1995-1998) (1995-1998)
  • Nanyang Technological University (1998-2002) (1998-2002)

Nama Merry Riana kini tengah melambung sebagai seorang Entrepreneur Perempuan yang sukses di usia muda. Ia juga Seorang Speaker, Trainer dan menjadi Motivator Wanita No.1 di Asia. Profil kesuksesan Merry Riana mulai dikenal publik setelah muncul di artikel The Strait Times pada tanggal 26 Januari 2007 yang berjudul "She's made her first million at just age 26" ("Ia mencapai satu juta dolar pertamanya di usia 26 tahun").

Merry Riana dilahirkan pada 29 Mei 1980 di Jakarta. Ayahnya bernama Ir. Suanto Sosrosaputro dan ibunya, Lynda Sanian. Merry Riana lahir dan tumbuh di Jakarta dalam sebuah keluarga sederhana keturunan Tionghoa. Orangtua Merry, khususnya sang ayah berprofesi sebagai seorang pebisnis. Ia merupakan anak sulung dari 3 bersaudara.

Merry Riana memulai pendidikannya di Sekolah Dasar (SD) Don Bosco Pulomas, tamat dari sana ia kemudian masuk di SMP Santa Ursula dan juga SMA Santa Ursul, yang merupakan sekolah Katolik khusus perempuan yang berada di Jakarta Pusat.

Setelah lulus dari SMA, Merry hendak melanjutkan kuliahnya di Universitas Trisakti. Namun, cita-cita untuk kuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti buyar karena kerusuhan besar di tahun 1998.

Karena kondisi yang tidak aman khususnya bagi masyarakat keturunan Tionghoa, Merry kemudian pergi ke Singapura untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Ayah Merry yaitu Suanto Sosrosaputro memutuskan untuk mengirim anaknya belajar di luar negeri. Dan Singapura kala itu merupakan sebuah pilihan yang paling masuk akal karena jaraknya yang relatif dekat, lingkungan yang aman dan sistem pendidikannya yang bagus.

Merry pun akhirnya kuliah di jurusan Electrical and Electronics Engineering (EEE) di Nanyang Technological University (NTU) pada tahun 1998. Merry mengaku jurusan ini menjadi jurusan yang pas karena ia bercita-cita menjadi seorang insinyur.

Tanpa persiapan yang memadai untuk kuliah di luar negeri, Merry sempat gagal dalam tes bahasa Inggris di Nanyang Technological University. Tanpa persiapan bekal dana yang memadai pula, Merry meminjam dana dari Pemerintah Singapura. Ia meminjam dana beasiswa dari Bank Pemerintah Singapura sebesar $40.000 dan harus dilunasi setelah ia lulus kuliah dan bekerja.

Dana tersebut sangatlah minim, karena setelah dihitung-hitung ia hanya mangantungi $10 selama seminggu. Untuk berhemat, Merry menyiasatinya dengan menekan pengeluaran makanannya setiap hari. Ia hanya makan mie instant di pagi hari, makan siang dengan 2 lembar roti tanpa selai, ikut seminar dan perkumpulan di malam hari demi makan gratis, bahkan untuk minum pun ia mengambil dari air keran/tap water di kampusnya.

Hal itu berlangsung hampir setiap hari di tahun pertamanya kuliah. Kehidupan yang sangat memprihatinkan tersebut mendorongnya untuk mencari penghasilan dengan bekerja. Dari mulai membagikan pamflet/brosur di jalan, menjadi penjaga toko bunga, dan menjadi pelayan Banquet di hotel.

Ketika menyadari hidupnya tak berubah meski sudah memasuki tahun kedua kuliah, Merry mulai memikirkan cara lain. Karena tak punya latar belakang pendidikan dan pengalaman bisnis, Merry mengumpulkan informasi dengan mengikuti berbagai seminar dan melibatkan diri dalam organisasi kemahasiswaan yang berhubungan dengan dunia bisnis.

Ia pun mencoba peruntungan dengan bisnis pembuatan skripsi, bisnis Multi Level Marketing, sampai mencoba bermain saham. Namun semua cara itu berakhir dengan kegagalan. Merry juga mencoba praktik dengan terjun ke multi level marketing meski akhirnya rugi 200 dollar. Merry bahkan pernah kehilangan 10.000 dollar ketika memutar uangnya di bisnis saham.

Setelah merasa siap, ia pun memutuskan untuk menekuni industri perencanaan keuangan. Merry berpikir itulah hal yang akan membuatnya mampu mewujudkan impiannya dalam waktu yang relatif singkat. Tamat kuliah, barulah Merry mempersiapkan diri dengan matang. Bersama Alva Tjenderasa yang merupakan temannya ketika kuliah dulu dan kini menjadi suaminya, mereka memulai menjalankan usaha bersama dengan belajar dari pengalaman para pengusaha sukses.

Merry Riana kemudian memulai dari sektor penjualan di bidang jasa keuangan. Saat Merry memulai karier sebagai seorang penasihat keuangan, ia harus bergulat dengan sejumlah tantangan dan hambatan, di antaranya keterbatasan bahasa Mandarin yang justru sangat penting saat berhadapan dengan separuh penduduk Singapura yang etnis Tionghoa.

Tanpa merasa terlalu terbebani dengan kemungkinan gagal atau keharusan untuk berhasil, Merry lebih memilih untuk memfokuskan diri pada pengalaman dan pelajaran yang ia bisa dapatkan selama fase-fase awal kariernya. Namun Merry sudah bertekad bekerja 14 jam dalam sehari, berdiri di dekat stasiun MRT & halte bus untuk menawarkan asuransi. Ia bekerja sampai tengah malam dan baru pulang jam 2 dini hari, belum lagi pendapatan yang tidak pasti membuatnya terpaksa kembali berhemat untuk mengatur kebutuhan sehari-hari.

Hingga akhirnya, ia sukses sebagai Financial Consultant yang menjual produk-produk keuangan dan perbankan seperti asuransi, kartu kredit, deposito, tabungan,dll. Dalam enam bulan pertama karirnya di Prudential, Merry berhasil melunasi utangnya sebesar 40 ribu dolar Singapura.

Tepat satu tahun pertamanya ia berhasil mendapatkan penghasilan sebesar 200 ribu Dollar Singapura atau sektar Rp1,5 miliar. Kemudian, di tahun 2004, prestasi Merry yang cemerlang membuatnya dipromosikan sebagai manajer.

Merry lalu memulai bisnisnya sendiri setelah diangkat menjadi manajer dengan menyewa kantor dan memiliki karyawan sendiri kemudian ia mendirikan Merry Riana Organization (MRO) sebuah perusahaan jasa keuangan. Selain itu ia juga mendirikan MRO Consultancy yang bergerak di bidang pelatihan, motivasi serta percetakan buku yang berbasis di Singapura.

Bersama timnya di MRO, Merry memiliki program pemberdayaan perempuan dan anak-anak muda. Anggota timnya di lembaga ini bahkan tergolong muda, berusia 20-30 tahun. Tahun 2005, Merry menerima penghargaan sebagai penghargaan Top Agency of the Year dan penghargaan Top Rookie Agency.

Hingga kini Merry telah memotivasi dan melatih ribuan profesional dan eksekutif dalam bidang penjualan, motivasi dan pemasaran. Dalam perusahaannya, Merry menaungi 40 penasihat keuangan, yang uniknya memiliki usia yang masih belia (antara 21- 30 tahun).

Kini, Merry Riana mempunyai mimpi untuk memberikan dampak positif bagi 1 juta orang di Asia, terutama di Indonesia. Salah satunya dengan meluncurkan buku "Mimpi Sejuta Dolar" yang pada 2014 diadaptasi menjadi film layar lebar. Merry kini aktif sebagai pembicara di berbagai seminar, perusahaan, sekolah dan media massa di Singapura dan beberapa negara di Asia Tenggara.

Instagram: @merryriana
Twitter: @MerryRiana
Situs Resmi Merry Riana: merryriana.com

DarkLight