Donald Icazus (D. I.) Panjaitan

Asisten IV Menpangad (Menteri/Panglima Angkatan Darat)
LahirBalige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Indonesia, 19 Juni 1925
ProfesiAsisten IV Menpangad (Menteri/Panglima Angkatan Darat)
Karier
  • Komandan Batalyon TKR Pekanbaru
  • Komandan Batalyon I Resimen IV Pekanbaru
  • Wakil Komandan Resimen IV Pekanbaru
  • Kepala Organisasi/Pendidikan Divisi IX Banteng Bukittingi
  • Kepala Staf IV (Supply) Komandemen Sumatra
  • Kepala Staf IX Tentara dan Teritorial Sumatra
  • Kepala Seksi II Staf Tentara dan Teritorium (TT) I Sumatra Utara
  • Wakil Kepala Staf Tentara dan Teritorium II Sumatra Selatan
  • Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat
  • Deputi-I Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)
  • Asisten IV Menpangad (Menteri/Panglima Angkatan Darat)
Pendidikan
  • Holladsvh Inladsche School (Sekolah Dasar)
  • Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (Sekolah Menengah Pertama)

Mayor Jenderal D.I Pandjaitan adalah salah seorang perwira militer yang mendapat gelar pahlawan revolusi. Dia meninggal di dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

D.I Pandjaitan memiliki nama panjang Donald Isaac Pandjaitan. Ia seorang Mayor Jenderal TNI Anumerta. Dia lahir di Balige, Sumatera Utara, 19 Juni 1925.

Pendidikan umum tertinggi yang pernah ditempuh D.I. Panjaitan ialah MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs, Sekolah Menengah Pertama). la memasuki MULO tanpa ujian pendahuluan, karena angka-angka rapornya selama di HIS (Holladsvh Inladsche School, Sekolah Dasar) cukup menonjol. Sebenarnya Panjaitan ingin melanjutkan sekolahnya ke HBS (Hoogere Burger School), tetapi keadaan ekonomi orang tuanya, sebagai pedagang kecil, tidak memungkinkan. Karena itulah ia pada akhirnya memasuki MULO di Tarutung sesuai dengan permintaan orang tuanya. Pada waktu bersekolah di MULO, Panjaitan mengalami musibah; kedua orang tuanya meninggal dunia. Meskipun dalam keadaan yang demikian, ia berhasil juga menyelesaikan pendidikannya.

Tidak lama sesudah Panjaitan menamatkan MULO, di Indonesia terjadi perubahan Politik. Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang dan sejak bulan Maret 1942 Indonesia berada di bawah kekuasaan pemerintah pendudukan Jepang. Untuk beberapa waktu lamanya Panjaitan hidup menganggur. Dalam tahun 1943 ia berangkat ke daerah Riau dan bekerja sebagai kepala pembukuan pada sebuah perusahaan kayu milik Jepang. Untuk mengambil kayu di hutan-hutan, perusahaan ini memperkerjakan ratusan orang Romusha (pekerja paksa) yang didatangkan dari Jawa. Mereka diperlakukan sangat kasar, dipaksa melakukan pekerjaan yang berat tanpa di gaji, sedangkan makanan kurang terjamin banyak diantara mereka yang meninggal atau jatuh sakit. Panjaitan menyaksikan drama tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa.

Dalam masa pendudukan Jepang para pemuda memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan militer. Tujuan Jepang sebenarnya ialah untuk menggunakan tenaga para pemuda untuk kepentingan Jepang yang pada waktu itu masih dalam berperang dengan pihak Sekutu. Di Jawa dibentuk tentara Peta (Pembela Tanah Air), sedangkan di Sumatra dibentuk pasukan lokal) disebut guyugun. Kedua jenis pasukan ini dimaksudkan untuk membantu Jepang dalam mempertahankan Indonesia dari serangan pembalasan Sekutu. Selain itu dibentuk pula pasukan yang disebut heiho. Berbeda dengan tentara Peta dan gyugun, kesatuan heiho diikut sertakan dalam pertempuran di luar Indonesia, antara lain,di Malaysia dan di Birma.

Seperti kebanyakan pemuda Sumatra, D.I. Pandjaitan pun memasuki gyugun. Setelah selesai dilatih, ia ditempatkan di Pekanbaru. la tetap berada di kota ini ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan pada waktu kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Jepang sudah membubarkan gyugun. Mereka itu dilucuti senjatanya dan disuruh kembali kekampung masing-masing.

Sesudah proklamasi kemerdekaan diketahui di Pekanbaru, D.I. Pandjaitan berusaha kembali mengumpulkan anggota-anggota gyugun. Ia juga mengadakan kontak dengan pemuda-pemuda lain, baik yang sudah mendapatkan pendidikan militer maupun belum. Mereka membentuk organisasi yang disebut PRI (Pemuda Republik Indonesia) PRI inilah yang dalam bulan Desember menjelma menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Di daerah Riau dibentuk tiga batalyon TKR, masing-masing berkedudukan di Pekanbaru, Bengkalis dan Indragiri. D.I. Pandjaitan diangkat menjadi komandan batalyon TKR Pekanbaru.

Dalam perkembangan selanjutnya, satuan-satuan militer di daerah Riau ditempatkan dibawah komando Divisi IX/Banteng yang berkedudukan di Bukittinggi, Sumatra Barat. Divisi ini mempunyai empat resimen. Salah satu diantaranya ialah Resimen IV di Riau dan dipimpin oleh Letnan Kolonel Hasan Basri. D.I. Panjaitan diangkat menjadi komandan Batalyon I Resimen IV di Pekanbaru. Sebagai komandan Batalyon, D.I. Pandjaitan diberi pangkat mayor.

Dari jabatan komandan batalyon, karirnya terus meningkat, sehingga ia diangkat menjadi Wakil Komandan Resimen IV. Pada bulan Maret 1948 ia dipindahkan ke Bukittinggi untuk menduduki jabatan Kepala Organisasi/ Pendidikan Divisi DC. Pada waktu itu dikalangan Angkatan Perang dilaksanakan Rera (Reorganisasi dan Rasionalisasi). Salah satu kebijaksanaan yang diambil dalam rangka Rera ialah penurunan pangkat perwira satu tingkat. Demikianlah, D.I. Pandjaitan yang sudah berpangkat mayor diturunkan satu tingkat menjadi kapten.

Jabatan sebagai Kepala Organisasi/Pendidikan Divisi IX Banteng dipangkunya selama beberapa bulan. Sesudah itu ia diangkat menjadi kepala staf IV (Supply) Komandemen Sumatra yang kemudian berganti nama manjadi Tentara dan Tentorial Sumatra. Secara organik ia tidak lagi berada di lingkungan divisi IX. Belum beberapa lama jabatan sebagai kepala staf IV ini dipangkunya, Belanda sudah melancarkan agresi militer ke dua kalinya. Panjaitan bersama kesatuan-kesatuan lain meninggalkan kota untuk melancarkan perang gerilya.

Beberapa hari setelah Belanda melancarkan agresi, di Sumatra Barat dibentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dibawah pimpinan Syafruddin Prawiranegara SH. Tenaga D.I. Panjaitan ternyata diperlukan pula untuk membantu kelancaran tugas-tugas PDRI. Karena itulah sejak tanggal 15 Januari 1949 ia diangkat menjadi pimpinan Pusat perbekalan PDRI disamping jabatanya sebagai Kepala Staf IX Tentara dan Teritorial Sumatra.

Sesudah pangkuan kedaulatan. Kapten D.I. Panjaitan ditempatkan di Medan sebagai Kepala Seksi II Staf Tentara dan Teritorium (TT) I Sumatra Utara. Lebih dari dua tahun kemudian, yakni bulan Oktober 1952, ia dipindahkan ke Palembang untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala Staf Tentara dan Teritorium II Sumatra Selatan. Pada waktu itu ia sudah memperoleh kenaikan pangkat menjadi Mayor Sementara. Barulah bulan Januari 1956 status sementara itu dicabut dan sejak itu D.I. Panjaitan berpangkat Mayor efektif.

D.I. Panjaitan termasuk salah seorang perwira yang haus akan ilmu pengetahuan, terutama yang bersangkutan dengan kemiliteran. Dalam banyak hal ia belajar sendiri. Setiap waktu yang terluang digunakannya untuk memperdalam pengetahuannya. Karena itulah pimpinan Angkatan Darat memberi kesempatan kepadanya untuk mengikuti Kursus Militer Atase (Milat) gelombang pertama pada tahun 1956. Dalam masa itu pula, Juni 1956, pangkatnya telah dinaikkan menjadi Letnan Kolonel.

Kursus Milat yang dibuka bulan April 1956 itu berakhir pada permulaan Oktober 1956. Karena prestasinya dianggap baik, Letnan Kolonel Panjaitan ditunjuk sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Satu tahun lamanya ia bertugas di luar negeri. Sewaktu kembali ke Indonesia, ia diserahi tugas baru sebagai perwira diperbantukan pada Deputi-I Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Pangkat Kolonel diterima Panjaitan bulan Juli 1960. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Asisten IV Menpangad (Menteri/Panglima Angkatan Darat). Pada waktu memegang jabatan sebagai Asisten IV ini ia memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan pada Associatet Command and Gen­eral Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Pendidikan di luar negeri ini ditempuhnya sejak Desember 1963 sampai Juni 1964. Sementara itu pangkatnya sudah dinaikkan menjadi brigadir jenderal.

Pulang dari Amerika Serikat, ia diserahi kembali memegang jabatan sebagai Asisten IV Menpangad. Jabatan ini tetap dipegangnya sampai ia dibunuh pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari oleh orang-orang PKI (Partai Komunis Indonesia) yang melancarkan pemberontakan untuk merebut kekuasaan negara.

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI. No.: 111/Koti tanggal 5 Oktober 1965 Brigjen Panjaitan ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Pangkatnya dinaikkan secara Anumerta menjadi mayor Jenderal. la meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Istrinya bernama Marike Anie Halomoan. Mereka menikah pada tanggal 3 September 1946, dan mempunyai enam orang anak.