Menuju konten utama

KNMP Lampung Selatan Dongkrak Nilai Ikan Belo dan Selangat

Melalui pengolahan menjadi produk fillet, komoditas tersebut kini memiliki nilai jual hingga Rp13.000–Rp14.000 per kilogram.

KNMP Lampung Selatan Dongkrak Nilai Ikan Belo dan Selangat
Foto udara Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Pulau Kasu, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (22/9/2026). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun berbagai infrastruktur terintegrasi di kawasan tersebut mulai dari dermaga tambatan perahu, kios perbekalan, bengkel nelayan, mesin es bubur, hingga gudang beku portabel guna mendorong produktivitas serta menjaga kualitas hasil tangkapan masyarakat nelayan setempat. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, mendorong peningkatan nilai tambah ikan belo (Anodontostoma selangkat) dan ikan selangat (Anodontostoma chacunda) yang sebelumnya dijual dengan harga sekitar Rp700–Rp1.000 per kilogram.

Melalui pengolahan menjadi produk fillet, komoditas tersebut kini memiliki nilai jual hingga Rp13.000–Rp14.000 per kilogram.

"Ikan dari nelayan saat ini dihargai Rp2.000/kg oleh offtaker, kemudian menjadi ikan fillet dengan harga jual Rp13.000-14.000/kg. Artinya nilainya mengalami kenaikan signifikan," terang Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Plt. Dirjen PDSPKP), Erwin Dwiyana, dilansir dari Antara, Jumat (2/10/2026).

Proses fillet ikan belo dan ikan selangat dilakukan di area penanganan cold storage di lokasi KNMP. Kegiatan ini menunjukkan operasional KNMP tidak hanya mendukung produktivitas perikanan di hulu, tapi juga menciptakan usaha turunan di hilir. Terlebih, KNMP Ketapang berhasil memberdayakan 11 perempuan-istri nelayan sebagai tenaga kerja.

Direktur Pengolahan Ditjen PDSPKP, Budi Yuwono, mengapresiasi KNPM Ketapang yang juga berhasil menyulap limbah ikan seperti isi perut, tulang, dan kepala ikan menjadi bahan baku tepung ikan. Limbah tersebut dihargai Rp3.000–Rp4.000/kg sekaligus menjadi bukti penerapan zero waste.

"Kami sangat mengapresiasi bahwa hilirisasi juga mengubah limbah menjadi emas. Jadi tidak ada satu bagian pun yang terbuang," ujar Budi.

Budi berharap keberhasilan KNMP Ketapang menjadi dorongan sekaligus energi bagi KNMP lain, yang memiliki komoditas serupa.

"Kami percaya optimalisasi KNMP mampu mewujudkan kesejahteraan nelayan dan kejayaan maritim Indonesia," tutupnya.

Baca juga artikel terkait KAMPUNG NELAYAN MERAH PUTIH

tirto.id - Sosial Budaya
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto