Menuju konten utama

Kasus Film NAZA: PM Netanyahu Minta Asal Sumber Data Diselidiki

Film NAZA yang kontroversial bagi Israel mulai ditelusuri sumber anonimnya. PM Netanyahu bahkan memerintahkan Shin Bet untuk ikut menyelidiki.

Kasus Film NAZA: PM Netanyahu Minta Asal Sumber Data Diselidiki
Jurnalis dan sutradara asal Israel, Rachel Szor, serta jurnalis dan pembuat film asal Israel, Yuval Abraham, menghadiri karpet merah upacara penutupan Festival Film Venesia ke-83 di Venice Lido pada 12 September 2026 (Foto oleh Tiziana FABI / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Polemik seputar film dokumenter NAZA (2026) terus bergulir. Film yang berupaya mengungkap cara operasi genosida Israel di Gaza dilakukan ini telah membuat pemerintahan Zionis gerah. Terbaru, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu secara pribadi meminta sumber film itu diselidiki.

Seturut Al Jazeera, permintaan Netanyahu itu diungkapkannya melalui akun X miliknya pada Sabtu (10/10/2026). Dalam keterangan itu, badan kontra-intelijen Israel, Shin Bet, disebut Netanyahu akan turut terlibat dalam penyelidikan terhadap produksi film tersebut.

“Saya menuntut agar kepala staf umum, kepala Shin Bet, dan jaksa agung meluncurkan penyelidikan komprehensif terhadap para peserta film ‘NAZA’ dan menuntut mereka atas pelanggaran serius terhadap keamanan informasi, pencemaran nama baik, dan kerugian terhadap kepentingan diplomatik dan keamanan Israel,” kata Netanyahu.

Film NAZA, yang mendapatkan penghargaan di ajang Venice Film Festival ke-83, mengungkap dugaan keterlibatan AI dalam operasi militer Israel di Gaza. Oleh para sumber militer dan intelijen yang muncul dalam film, AI disebut merupakan salah satu alasan utama mengapa korban sipil terus berjatuhan di Gaza.

Para sumber militer dan intelijen tersebut secara mengejutkan menyebut bahwa dinas intelijen Israel telah menyerahkan tugas pengintaian kepada agen AI. Teknologi AI disebut mereka telah digunakan untuk menganalisis komunikasi antar anggota Hamas.

Dari sana, kemudian muncul puluhan ribu aktivitas telepon yang dikategorikan memiliki pola serupa dengan aktivitas telepon para anggota Hamas yang dianalisis. Data ini kemudian dijadikan dasar penentuan target, yang diklaim, secara sembarangan.

Militer dan intelijen Israel disebut menerapkan ambang batas kesalahan sebesar 15 persen. Hal ini kemudian berujung pada kesalahan deteksi dan penargetan warga sipil tak bersalah.

Seorang responden bahkan menyebut serangan Israel di Gaza memiliki probabilitas kematian penduduk sipil mencapai 20 orang. Secara sederhana, sebuah serangan untuk mengeliminasi anggota Hamas sejak awal memiliki kemungkinan 20 orang sipil yang ikut terbunuh. Militer Israel disebut tahu hal tersebut namun tetap melakukan serangan tersebut.

Seiring dirilisnya film itu, pemerintahan Zionis berang. Dalam pernyataan pada Sabtu, Netanyahu melabeli film itu sebagai “bias”, “salah”, dan “menyesatkan”. Ia juga menuduh film itu telah “merusak reputasi Israel” secara internasional.

Pada September lalu, militer Israel juga membantah tuduhan “secara kategoris”. Mereka menyebut bahwa persetujuan serangan “hanya dilakukan oleh personel manusia”, kendati tak membantah keterlibatan AI dalam menghimpun data intelijen.

Sutradara film NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor dari Israel, telah dituduh sebagai pengkhianat oleh Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar. Menteri itu bahkan mengancam akan mencabut kewarganegaraan Israel milik kedua sutradara tersebut.

Belakangan juga muncul film tandingan yang diatribusikan ke Roi Danino, sutradara yang juga menjadi perwira cadangan IDF. Film tandingan itu diberi judul NAZA: The True Story dan memuat bantahan dari apa yang ditampilkan di film NAZA yang asli.

Akan tetapi, kendati NAZA dicela oleh pemerintahan Zionis, dua sutradara film ini telah dibela oleh para kelompok hak asasi manusia.

Perang genosida Israel di Gaza sendiri hingga kini telah membunuh setidaknya 74.000 warga Palestina. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut 21.000 di antaranya adalah anak-anak.

Baca juga artikel terkait FILM POLITIS atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar