Menuju konten utama

IHSG Ambrol 10%, BEI Berlakukan Trading Halt Ke-5 di Era Prabowo

IHSG kembali alami trading halt usai anjlok 8 persen akibat kekhawatiran rencana MSCI merubah status pasar modal Indonesia jadi standalone market.

IHSG Ambrol 10%, BEI Berlakukan Trading Halt Ke-5 di Era Prabowo
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penghentian perdagangan sementara atau trading halt pada Jumat (16/10/2026) setelah dibuka merosot tajam hingga 10,76 persen.

Situasi genting di pasar modal ini dipicu oleh kekhawatiran para investor terhadap rencana lembaga indeks global MSCI yang mewacanakan pengubahan klasifikasi pasar modal Indonesia menjadi standalone market dari emerging market

Insiden ini memperpanjang catatan di mana Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa membekukan perdagangan untuk meredam aksi jual masif di pasar. Secara aturan, trading halt sendiri berfungsi sebagai mekanisme penghentian sementara saat terjadi koreksi ekstrem agar pelaku pasar mempunyai waktu yang cukup dalam mencerna informasi secara rasional dan terukur.

Kendati demikian,ini bukan berarti pasar saham mengalami kebangkrutan ataupun penutupan permanen, sebab aktivitas perdagangan akan kembali dibuka setelah durasi halt berakhir sesuai regulasi.

Merujuk pada catatan Tirto, pembekuan perdagangan akibat gejolak ekstrem di pasar domestik biasanya dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari krisis global, hantaman pandemi, dinamika internasional, hingga persoalan kepercayaan investor terhadap integritas pasar modal.

Berdasarkan catatan, di masa pemerintahan Prabowo Subianto, IHSG telah mengalami trading halt sebanyak lima kali. Kejadian pertama berlangsung pada tahun 2025, yakni pada 18 Maret 2025 saat IHSG merosot sekitar 5 persen serta pada 8 April 2025 ketika indeks ambles hingga menyentuh 8 persen.

Pada awal kemunculan gejolak di era pemerintahan Prabowo, tepatnya hari Selasa (8/4/2025), IHSG sempat dibuka ambruk 9,19 persen ke level 5.912,06 akibat sentimen respons pasar terhadap kebijakan tarif impor baru yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, yang kala itu direspons BEI dengan memberlakukan trading halt selama 30 menit.

Seiring dengan dinamika tersebut, penyesuaian aturan baru mulai diberlakukan pada tanggal yang sama. Berdasarkan regulasi tersebut, ambang batas penghentian perdagangan tahap pertama dinaikkan dari yang mulanya 5 persen menjadi di atas 8 persen. Apabila tren penurunan terus berlanjut hingga melewati 15 persen, maka pihak bursa akan kembali menghentikan perdagangan selama 30 menit.

Penerbitan kebijakan trading halt ini didasarkan pada Peraturan BEI Nomor II-A mengenai Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas serta diperkuat lewat Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025.

Lalu, trading halt ketiga terjadi pada Rabu (28/1/2026) siang menyusul koreksi tajam IHSG yang nyaris menyentuh level 8 persen imbas pembekuan rebalancing saham Indonesia oleh MSCI.

Trading halt juga terjadi sehari setelahnya. Baru beberapa menit perdagangan berjalan pada Kamis (29/10/2026), IHSG kembali ambles hingga 8 persen ke level 7.654,66. BEI terpaksa mengaktifkan trading halt beruntun selama 30 menit sekaligus jadi yang keempat di masa pemerintahan Prabowo.

Sementara trading halt kelima terjadi pada pembukaan perdagangan hari ini usai terkoreksi sebesar 8 persen, bahkan hingga 10,76 persen. IHSG sendiri dibuka melemah 469,86 poin ke posisi 5.393,92. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 49,14 poin atau 8,33 persen ke posisi 540,95.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana