tirto.id - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan pengecualian terhadap sanksi dan tarif untuk Rusia. Kebijakan tersebut berpotensi mendorong peningkatan ekspor bahan bakar Rusia.
Pada pagi ini, harga minyak mentah Brent turun 1,94 dolar AS atau 1,77 persen, menjadi 107,92 dolar AS per barel pada pukul 02.27 waktu setempat. Sedangkan pada perdagangan Jumat (16/10/2026), harga Brent ditutup pada level tertinggi sejak 19 Mei.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan pada level 100,58 dolar AS per barel, turun 83 sen atau 0,82 persen. Pada Jumat, harga WTI ditutup pada level tertinggi sejak 17 September.
Sebelumnya, Trump dilaporkan telah menandatangani perintah eksekutif pada Jumat untuk memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi dan tarif utama berdasarkan undang-undang yang dikenal sebagai Graham Act. Undang-undang tersebut ditandatanganinya bulan lalu atas desakan sejumlah anggota parlemen yang ingin menekan Moskow terkait perang di Ukraina.
Namun, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan Trump akan menggunakan waktu hingga 60 hari untuk menilai dampak ekonomi sanksi dan tarif tersebut terhadap perekonomian global. Langkah ini diambil setelah Trump mencapai kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengekspor solar ke AS dan negara-negara lain.
Berdasarkan pengumuman Trump, ekspor solar tersebut akan dimulai sekitar 2,3 juta barel pada bulan ini, sebelum meningkat menjadi sekitar 7,6 juta barel per bulan.
Di sisi lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan langkah AS tersebut akan merugikan Ukraina.
Karena pengumuman itu, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 110 dolar AS per barel pada Jumat, untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan dan ancaman keamanan di Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran serta semakin ketatnya pasokan energi global.
"Kombinasi dari melunaknya sikap terkait sanksi dan aksi ambil untung setelah kenaikan harga baru-baru ini membantu membatasi kenaikan harga dalam jangka pendek," kata Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, dikutip Reuters (https://www.reuters.com/business/energy/oil-slips-trumps-sanction-waiver-may-lead-more-russian-fuel-supplies-2026-10-18/).
Ia menambahkan, pengecualian sanksi AS terhadap Rusia berpotensi meningkatkan ekspor bahan bakar Rusia. Namun, pernyataan yang beragam dari pemerintah AS menimbulkan ketidakpastian di pasar.
"Sampai perincian dan durasinya menjadi lebih jelas, pasar kemungkinan belum akan sepenuhnya memperhitungkan potensi peningkatan pasokan yang berkelanjutan," ujarnya.
Perusahaan analitik Kpler menyatakan, serangan yang semakin intensif terhadap kapal-kapal komersial memangkas tajam aliran minyak mentah dari kawasan Teluk. Berdasarkan rata-rata tujuh hari, aliran minyak turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari pada pekan lalu, dari lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.
Dalam catatannya pada Jumat (16/10/2026), Kpler menambahkan bahwa setidaknya terdapat 10 insiden terkonfirmasi yang melibatkan kapal-kapal komersial sepanjang pekan lalu.
Ketegangan di Timur Tengah berpotensi semakin meningkat setelah Mesir menyatakan kesiapannya untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan Arab Saudi guna mempertahankan keamanan dan stabilitasnya dari kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





































