tirto.id - GIC dan Temasek, dua dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) Singapura, membantah tuduhan bahwa mereka atau stafnya menekan penyedia indeks MSCI untuk mempertimbangkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Bantahan tersebut menyusul pernyataan mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang menuding kedua investor asal Singapura itu berupaya memengaruhi MSCI. Menurut Lutfi, penurunan klasifikasi dapat memicu kepanikan pasar sekaligus membuka peluang membeli saham Indonesia dengan harga lebih murah.
Juru bicara GIC mengatakan kepada The Straits Times bahwa keputusan investasi lembaganya tidak didasarkan pada klasifikasi indeks atau pandangan makro terhadap pasar, melainkan pada fundamental perusahaan dan aset.
“Kami telah berinvestasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun di berbagai kelas aset dan akan terus berinvestasi di tempat-tempat di mana kami menemukan peluang yang baik, berdasarkan pendekatan bottom-up, dan disesuaikan dengan risiko," kata juru bicara GIC, dikutip Kamis (22/10/2026).
Sementara itu, Kepala Temasek Global Investment untuk Asia-Pasifik di luar China dan India, Fock Wai Hoong, menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar dan jelas tidak benar.
“Tidak seorang pun dari Temasek, baik lembaga itu sendiri maupun individu-individu yang bekerja di lembaga tersebut, pernah menghubungi MSCI untuk memengaruhi keputusan apa pun yang pernah mereka buat terkait pertukaran di seluruh wilayah tersebut. Mungkin saya akan berhenti sampai di situ,” ujarnya.
Fock menyampaikan bantahan tersebut kepada media saat peluncuran laporan e-Conomy SEA 2026 di kantor Google, Mapletree Business City, Rabu (21/10/2026).
Di Indonesia, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi enggan menanggapi tuduhan Lutfi secara langsung.
Jeffrey mengatakan BEI akan berfokus pada tugas pokok dan fungsinya serta meyakini MSCI sebagai penyedia indeks global yang independen.
"Kami akan sangat fokus kepada hal teknis dan kami selalu meyakini dan tetap percaya bahwa global index provider selalu independen," kata Jeffrey di kantor BEI, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Ia menegaskan BEI akan memprioritaskan langkah-langkah teknis untuk mereformasi pasar modal.
"Karena itu, kami akan fokus saja kepada hal-hal teknis yang bisa kami lakukan dalam upaya mereformasi pasar modal," tuturnya.
Senada, Friderica menyatakan OJK akan tetap bekerja sesuai tugas dan fungsinya. Ia mempersilakan pihak lain menyampaikan pandangan masing-masing mengenai rencana MSCI.
"Kita kerja saja, silakan orang lain mengomentari, silakan orang berpikir sendiri, tapi kita kerja saja, kita kerja saja," ujarnya di Jakarta Pusat, Selasa.
Friderica juga mengaku telah melaporkan perkembangan reformasi pasar modal kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Prabowo meminta agar penegakan aturan terus dijalankan.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































