Menuju konten utama

Eskalasi Houthi Picu AS Tarik Diplomat, Harga Minyak Melonjak

Kebijakan darurat ini diambil Washington setelah serangkaian serangan gencar yang dilancarkan oleh kelompok Houthi di wilayah Kerajaan tersebut.

Eskalasi Houthi Picu AS Tarik Diplomat, Harga Minyak Melonjak
Pejuang Houthi mengikuti unjuk rasa untuk merekrut lebih banyak pejuang di Sanaa pada 7 Oktober 2026. Kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan terhadap target-target Arab Saudi pada 7 Oktober, termasuk penembakan rudal balistik ke arah bandara Riyadh, di tengah upaya kelompok tersebut memperebutkan wilayah di Yaman melawan pasukan pemerintah yang didukung oleh kerajaan tersebut. foto/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Konflik geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (22/10/2026), menyusul keputusan Amerika Serikat (AS) yang memerintahkan sebagian diplomat dan keluarga mereka untuk meninggalkan misi diplomatiknya di Arab Saudi.

Kebijakan darurat ini diambil Washington setelah serangkaian serangan gencar yang dilancarkan oleh kelompok Houthi di wilayah Kerajaan tersebut.

Berdasarkan pantauan pasar pada pukul 00:34 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent mencatat kenaikan sebesar 1,29 dolar AS (1,2 persen) ke level 110,11 dolar AS per barel. Tren serupa juga dialami oleh minyak mentah US West Texas Intermediate (WTI) yang menguat 97 sen (1 persen) menjadi 98,12 dolar AS per barel.

Lonjakan ini kontras dengan perdagangan Rabu sebelumnya, di mana Brent ditutup relatif stagnan sementara WTI sempat melemah 67 sen.

Para pejabat AS kepada Reuters mengungkapkan bahwa Departemen Luar Negeri tidak hanya membatasi evakuasi di Arab Saudi, tetapi juga berencana menarik anggota keluarga dari berbagai perwakilan diplomatik AS lainnya di kawasan tersebut.

Langkah preventif ini merespons serangan kelompok Houthi yang didukung Iran pada hari Rabu, yang menargetkan sejumlah titik vital.

“Sedikitnya satu orang tewas dan delapan lainnya mengalami luka-luka dalam serangan di bandara sipil Dammam, sementara dua korban jiwa lainnya jatuh akibat serangan pesawat tak berawak (drone) yang menghantam salah satu ladang minyak Arab Saudi,” tulis Reuters.

Ketegangan di kawasan kian runcing setelah media Iran melaporkan adanya suara ledakan di wilayah Sirik, Iran selatan, pada hari Rabu, dengan sifat dan sumber ledakan yang hingga kini masih misterius.

Di tengah situasi yang memanas, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa negaranya siap sepenuhnya mempertahankan diri. Senada dengan hal tersebut, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan kepada media pemerintah bahwa Iran menutup pintu dialog selama AS masih memberlakukan blokade dan ancaman.

Ancaman terhadap jalur pasokan energi global juga semakin nyata. Data dari lembaga Kpler mencatat adanya sedikitnya 18 serangan terhadap kapal pengangkut dalam dua pekan terakhir.

Para analis LSEG memperingatkan bahwa sasaran Iran kini meluas jauh melampaui Selat Hormuz hingga merangsek ke Teluk Oman, yang secara langsung membahayakan aktivitas pemuatan minyak mentah Teluk serta transfer antarkapal (ship-to-ship).

Di luar krisis Timur Tengah, pasar juga mencermati perkembangan dinamika perang di Ukraina. Presiden Rusia, Vladimir Putin, diketahui menjamu Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg pada hari Rabu guna membahas upaya damai. Kremlin menyatakan Putin sepakat melanjutkan pembicaraan damai dengan Ukraina melalui mediasi AS selambat-lambatnya bulan depan, sebuah langkah yang disambut baik oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, demi segera mengakhiri konflik berdarah di Eropa tersebut.

Sementara itu, dari dalam negeri AS, Badan Informasi Energi (EIA) melaporkan penurunan cadangan minyak mentah domestik sebesar 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan lalu, jauh lebih dalam dibanding ekspektasi analis Reuters yang mematok angka 820.000 barel. Sebaliknya, cadangan distilat yang mencakup solar dan minyak pemanas justru naik 1,68 juta barel menjadi 104,3 juta barel.

Menghadapi lonjakan harga akibat kelangkaan solar imbas perang di Iran dan Ukraina, Departemen Energi AS mengumumkan pada hari Rabu bahwa pemerintahan Trump menawarkan pinjaman hingga hampir sepertiga dari cadangan darurat minyak pemanas nasional yang berjumlah 1 juta barel guna meredam tekanan harga di pasaran.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher