tirto.id - PT Bank Syariah Indonesia (BSI) menyiapkan dana dari kas internal hingga senilai Rp500 miliar untuk melakukan pembelian kembali atau buyback saham mulai hari ini, Selasa (27/10/2026).
Langkah ini akan berlangsung selama tiga bulan hingga 26 Januari 2027 guna menjaga stabilitas di tengah kondisi pasar modal yang masih bergejolak.
Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (26/10/2026), perkiraan nilai tadi sudah mencakup biaya transaksi serta tidak melebihi 20 persen dari modal disetor perseroan. Manajemen BSI memastikan penggunaan kas internal tidak akan mengganggu likuiditas perbankan.
"Perseroan meyakini bahwa pelaksanaan buyback tidak akan mempengaruhi kegiatan usaha dan operasional serta pertumbuhan usaha Perseroan di masa mendatang, karena Perseroan telah memiliki kecukupan modal (CAR) yang cukup untuk menjalankan kegiatan usaha Perseroan," tulis Manajemen BSI dalam keterbukaan informasi tersebut.
Pelaksanaan buyback diperkirakan membuat total aset dan ekuitas BSI masing-masing menjadi Rp464 triliun dan Rp50,54 triliun. Kendati CAR diproyeksikan sedikit bergerak dari 20,41 persen ke 20,19 persen, aksi ini berpotensi mendongkrak laba bersih per saham dari Rp90,09 menjadi Rp91,06 serta return on equity (ROE) dari 18,14 persen menjadi 18,18 persen.
Selain BSI, langkah buyback saham juga ditempuh oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BRI). Perusahaan ini sudah memasuki tahapan II buyback saham dengan nilai mencapai Rp1 triliun yang berlangsung dari 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.
Sebelumnya, BRI telah mengalokasikan dana maksimal Rp500 miliar untuk buyback tahap I pada 12 Juni hingga 11 September 2026. Langkah buyback BRI ditopang fundamental kuat perusahaan yang mencatat laba bersih Rp31,2 triliun, pertumbuhan aset 11,7 persen menjadi Rp2.352 triliun, serta CAR 21,5 persen hingga akhir triwulan II 2026.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengungkapkan keputusan buyback secara bertahap mempertimbangkan dinamika pasar global, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga tensi geopolitik yang mempengaruhi volatilitas pasar domestik.
“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny, dikutip dari keterbukaan informasi perusahaan, Rabu (22/10/2026).
Dhanny menambahkan posisi permodalan dan likuiditas yang kuat akan terus menopang pertumbuhan perusahaan. Ia juga optimis, BRI akan mampu memberikan hasil optimal bagi para pemegang saham di masa mendatang.
“Ke depan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” pungkas Dhanny.
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id







































