STOP PRESS! Hasil Pembicaraan Menlu & Kedubes AS Soal Penolakan Jenderal Gatot

Asih Widodo Pejuang Keadilan lewat Tulisan

09 Agustus, 2017

Aku ekspresikan amarah dan kejengkelanku dengan menulis semauku. tirto.id/Arimacs Wilander

Setelah anaku semata wayang meninggal hidupku hancur, otaku serasa gila. tirto.id/Arimacs Wilander

Aku ingin terus mencari keadilan, menuntut keadilan pada pemerintah. tirto.id/Arimacs Wilander

Wiranto adalah sebab dari kematian anaku. tirto.id/Arimacs Wilander

Aku yakin anaku mati dibunuh TNI. tirto.id/Arimacs Wilander

Aku akan terus mencari keadilan sampai berkalang tanah. tirto.id/Arimacs Wilander

Aksi Kamisan 501 di depan Istana Negara. tirto.id/Arimacs Wilander

Aksi Kamisan 501 di depan Istana Negara. tirto.id/Arimacs Wilander

Asih Widodo ayah dari Sigit Prasetyo, korban penembakan aparat keamanan 13 November 1998. Widodo 2017 ini berusia senja, 66 tahun. Tubuhnya masih cukup tegap, bicaranya masih lantang, meski kulitnya telah keriput khas lansia.

Usai wafatnya Sigit, 19 tahun silam, hidupnya oleng. Amarah dan sakit hatinya banyak dicurahkan dengan tulisan bernada protes. Ia membuat tulisan-tulisan itu pada ukiran kayu, helm, motor, dan jaket yang biasa ia kenakan.

Waktu yang terus berjalan berkelindan sejak anaknya wafat, tak sedikit pun semangat mencari keadilannya kendor. Meski negara abai, dalam rapalan doa dan ikhtiarnya mencari keadilan, Widodo tetap ngotot: Negara harus bertanggungjawab atas kematian anaknya. Penjara bagi Wiranto dan Habibie baginya adalah harga mati.

Foto dan Teks: Arimacs Wilander

Keyword


Asih Widodo Pejuang Keadilan lewat Tulisan