tirto.id - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menyodorkan lima tuntutan dalam aksi unjuk rasa memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Mereka mengancam kembali turun dengan massa lebih besar pada 28 Oktober 2026 jika tuntutan tak direspons.
Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Muhammad Hafidz Haernanda, mengatakan kelima tuntutan itu disusun berdasarkan prioritas.
Kelima tuntutan itu adalah, [1] tetapkan karhutla sebagai bencana nasional, adili korporasi, dan pulihkan ekosistem, [2] benahi tata kelola kebijakan ekonomi untuk memberantas ketimpangan sosial, [3] hentikan penyempitan ruang sipil dan militerisasi, [4] berantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), [5] turunkan biaya pendidikan serta wujudkan sistem pendidikan yang mengabdi kepada rakyat.
Soal tuntutan ekonomi, Hafidz menyebut kondisi saat ini timpang.
"Karena kami merasa sekarang justru yang kaya makin kaya tapi yang miskin makin miskin," kata Hafidz.
Alasan Memilih Tugu Tani
Hafidz menyebut Tugu Tani sebagai tempat yang simbolik dan menegaskan aksi ini merupakan hak mahasiswa sebagai pembayar pajak.
"Karena kami rasa ini merupakan tugu simbolik dan ini merupakan hak kita untuk demo karena sudah membayar pajak, kami sudah menghasilkan banyak penghasilan yang dipotong untuk jalanan ini, untuk rumput-rumput ini, untuk patung ini," ujarnya.
Ia juga menyinggung kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam aksi unjuk rasa kali ini.
"Dan ironik ketika kita masih ada Tugu Tani tapi kita melihat flora dan fauna kita masih terbakar dan terdiamkan saja oleh pemerintah. Jadi ini sebagai bentuk simbolik," kata Hafidz.
Dalam aksi itu, peserta BEM UI tidak mengenakan jaket almamater, dengan alasan ingin lebih membaur dengan masyarakat. Menurut Hafidz, aksi unjuk rasa tak hanya sebatas dilakukan BEM UI saja, tetapi juga oleh seluruh mahasiswa dan rakyat Indonesia.
"Kami ingin lebih membaur dengan seluruh kawan-kawan kami. Kami ingin aksi ini tidak hanya aksi BEM UI. Bahkan saya sangat mendorong para media untuk membuat ini tidak hanya aksi BEM UI saja, banyak sekali teman-teman BEM universitas yang turun tidak pakai almet, banyak sekali NGO-NGO yang turun, banyak sekali lingkup-lingkup dari masyarakat sipil yang turun gitu loh," ujarnya.
"Pada dasarnya ini bukan aksi BEM UI, tapi inilah aksi rakyat Indonesia pas 2 tahun Prabowo Gibran," lanjut Hafidz.
Peserta aksi juga mengenakan topeng sebagai simbol dari rakyat yang tertindas.
"Karena banyak orang itu bisa membayangkan dirinya di belakang topeng tersebut. Itu bisa Anda, itu bisa saya, itu bisa siapapun itu. Karena sejatinya bentuk topeng itu, itu merupakan bentuk rakyat-rakyat yang tertindas. Di balik topeng tersebut tidak hanya ada satu individu, tidak hanya ada dua individu, tapi seluruh rakyat Indonesia yang merasa tertindas," katanya.
Ancam Aksi Lebih Besar
BEM UI memberi tenggat hingga sebelum 28 Oktober bagi pemerintah untuk merespons. Jika tak ada perubahan, mereka menyatakan akan turun lagi.
"Bila sebelum tanggal 28 belum ada perubahan, belum ada respons, kami akan turun lagi tanggal 28 akan lebih masif dan akan lebih besar dan saya yakin akan lebih menggelegar daripada ini," kata Hafidz.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari pemerintah atas tuntutan tersebut.
Penulis: Muhammad Rayfahd Haykal
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































