Tasawuf Underground Bagi Yang Terabaikan

Pendiri Tasawuf Underground, Halim Ambiya, berdialog dengan anak jalanan yang berdandan ala 'punk' dalam kegiatan belajar mengaji di kolong jembatan depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. tirto.id/Andrey Gromico
Seorang relawan dari komunitas Tasawuf Underground berdialog dengan anak jalanan yang berdandan ala 'punk' dalam kegiatan belajar mengaji di kolong jembatan depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. tirto.id/Andrey Gromico
Seorang anak jalanan menunjuk huruf hijaiyah di buku Iqro saat belajar mengaji di kolong jembatan depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. tirto.id/Andrey Gromico
Seorang anak jalanan menunjuk huruf hijaiyah di buku Iqro saat belajar mengaji di kolong jembatan depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. tirto.id/Andrey Gromico
Sejumlah anak jalanan belajar mengaji bersama komunitas Tasawuf Underground di kolong jembatan depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. tirto.id/Andrey Gromico
Sejumlah anak jalanan belajar mengaji bersama komunitas Tasawuf Underground di kolong jembatan depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. tirto.id/Andrey Gromico
Intan, anak jalanan yang berumur 15 tahun asal Salatiga mengikuti kegiatan mengaji bersama dengan komunitas Tasawuf Underground di bawah flyover Tebet depan Stasiut KRL Tebet, Jakarta. tirto.id/Andrey Gromico
Angga, anak jalanan yang berumur 25 tahun asal Jakarta mengikuti kegiatan mengaji bersama dengan komunitas Tasawuf Underground di bawah flyover Tebet depan Stasiut KRL Tebet, Jakarta. tirto.id/Andrey Gromico
Sejumlah anak jalanan yang beberapa berdandan ‘punk’ belajar mengaji dengan membaca buku IQRA di bawah flyover Tebet di depan stasiun KRL Tebet, Jakarta.
8 Januari 2019
Sejumlah anak jalanan yang beberapa berdandan ‘punk’ belajar mengaji dengan membaca buku IQRA di bawah flyover Tebet di depan stasiun KRL Tebet, Jakarta.

Didampingi Halim Ambiya, seorang relawan dari komunitas Tasawuf Underground yang membimbing anak-anak jalanan melafalkan huruf-huruf hijaiyah meski masih terbata-bata.

Selama 3 tahun, Komunitas Tasawuf Underground mengabdikan diri untuk memberikan bimbingan bagi anak-anak jalanan.

Saat ini sekitar 80 orang termasuk di Tebet yang sudah mereka dampingi. Dengan mengabdikan diri membimbing para anak jalanan ini, Halim dan Komunitas Tasawuf Underground berharap anak-anak jalanan ini mampu bertahan hidup layak serta mampu menemukan “jalan pulang” berkumpul bersama sanak keluarganya. tirto.id/Andrey Gromico