Menuju konten utama

Sudahkah MagangHub Berhasil Serap Lulusan Baru ke Dunia Kerja?

Pemerintah perlu memperbesar daya tampung program MagangHub agar lebih banyak pencari kerja memperoleh kesempatan hingga mendapatkan pekerjaan.

Sudahkah MagangHub Berhasil Serap Lulusan Baru ke Dunia Kerja?
ilustrasi Perguruan Tinggi. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Satu tahun setelah diluncurkan, program Magang Nasional atau MagangHub menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membantu lulusan baru perguruan tinggi memasuki dunia kerja. Program ini memberikan pengalaman kerja selama enam bulan kepada peserta yang ditempatkan di kementerian, lembaga, dan perusahaan.

Persoalan tersebut menjadi penting di tengah ketatnya persaingan kerja bagi lulusan baru atau fresh graduate. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi mencapai 1,3 juta orang pada Mei 2026, atau sekitar 14,3 persen dari total pengangguran terbuka di Indonesia.

Di sisi lain, Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mencatat perguruan tinggi di Indonesia meluluskan sekitar 1,26 juta sarjana setiap tahun. Besarnya jumlah lulusan tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja formal. Persyaratan pengalaman kerja yang kerap diminta perusahaan juga menjadi tantangan bagi mereka yang baru lulus kuliah.

MagangHub berupaya menjembatani persoalan tersebut dengan memberikan kesempatan kepada lulusan baru untuk memperoleh pengalaman profesional. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 102.696 peserta mengikuti program Magang Nasional pada 2025, melampaui target awal sebanyak 100.000 peserta.

Pada pelaksanaan tahun kedua, pemerintah menargetkan jumlah peserta meningkat menjadi 150.000 orang.

Meski demikian, keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya peserta yang diterima. Persoalan berikutnya adalah apakah pengalaman yang diperoleh selama magang membantu lulusan baru mendapatkan pekerjaan setelah program berakhir.

Pengalaman Magang yang Berharga untuk Lulusan Baru

Fauzhia, peserta MagangHub Angkatan 1 Batch 2 Tahun 2025, ditempatkan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Surabaya sebagai Pembantu Pembimbing Kemasyarakatan. Penempatan tersebut sesuai dengan latar belakang pendidikannya karena berkaitan dengan bidang hukum, terutama hukum pidana dan pemasyarakatan.

Selama magang, Fauzhia membantu penyusunan Penelitian Kemasyarakatan (Litmas), melakukan wawancara dengan klien dan pihak terkait, serta melakukan kunjungan rumah untuk memverifikasi informasi. Ia juga berkoordinasi dengan lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan, keluarga, dan penjamin klien, sekaligus membantu pengelolaan dokumen administrasi.

Meski memperoleh pengalaman yang relevan dengan bidang pendidikannya, Fauzhia kembali mencari pekerjaan setelah program selesai.

“Setelah program magang selesai, saat ini saya kembali mencari pekerjaan dan terbuka terhadap peluang kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun pengalaman saya,” kata Fauzhia kepada Tirto, Rabu (14/10/2026).

Ia mengaku tidak mendapatkan tawaran untuk langsung diangkat menjadi pegawai di tempat magangnya. Menurut Fauzhia, hal tersebut berkaitan dengan mekanisme rekrutmen pegawai pemerintah yang harus mengikuti ketentuan tersendiri.

“Untuk menjadi pegawai pemerintah, umumnya perlu mengikuti seleksi resmi, seperti CPNS apabila tersedia formasi yang sesuai,” ujarnya.

Fauzhia sempat mendapat informasi bahwa peserta dengan pengalaman relevan berpotensi direkomendasikan apabila formasi CPNS yang sesuai dibuka pada masa mendatang. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada kebijakan dan ketentuan rekrutmen yang berlaku.

Pengalamannya memperlihatkan bahwa kesesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan tidak otomatis menjamin peserta memperoleh pekerjaan setelah magang. Dalam kasus penempatan di instansi pemerintah, pengalaman tersebut juga tidak menggantikan proses seleksi lain, seperti CPNS untuk menjadi pegawai.

Meski begitu, Fauzhia menilai program tersebut memberikan manfaat bagi lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja.

“Program ini sangat membantu fresh graduate dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah, memahami lingkungan kerja profesional, dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja,” katanya.

Ia berharap pemerintah memperbanyak kuota peserta dan memperluas kesempatan penempatan di berbagai instansi maupun perusahaan. Dengan begitu, lebih banyak lulusan dari beragam latar belakang pendidikan bisa memperoleh pengalaman kerja yang relevan.

Peserta Berkesempatan Ditawari Kontrak

Pengalaman lain dialami Intan Pudes, peserta MagangHub angkatan 1 Batch 1 pada 2025. Ia diterima di Rumah Zakat, organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang sosial, pada divisi customer experience, khususnya bagian contact center yang menangani pekerjaan back office.

Intan menilai pekerjaan tersebut cukup sesuai dengan latar belakang pendidikannya di bidang ilmu komunikasi.

“Honestly, untuk pekerjaan di MagangHub kemarin lumayan linear dengan jurusan aku, karena jurusan aku kan ilmu komunikasi ya, jadi memang cakupannya luas,” kata Intan kepada Tirto, Rabu (14/10/2026).

Setelah masa magang berakhir, Intan mendapat tawaran untuk melanjutkan kontrak di Rumah Zakat. Namun, ia memutuskan tidak mengambil tawaran tersebut karena ingin mencoba bidang pekerjaan lain dan memperluas pengalamannya.

“Setelah pelaksanaan magang selesai aku ditawarin buat lanjut kontrak di sana, namun dengan beberapa pertimbangan dan aku juga pengen coba dengan jobdesk lain dan pengen lebih explore beberapa macam pekerjaan lainnya, jadi aku tidak mengambil tawaran kontrak dari Rumah Zakat,” ujarnya.

Intan kemudian beralih ke bidang usaha fesyen sebagai bagian dari tim kreatif dan sesekali menjadi talent.

Meski tidak melanjutkan kontrak di tempat magangnya, Intan menilai MagangHub bermanfaat karena memberikan kesempatan kepada lulusan baru untuk mengenal lingkungan kerja profesional dan memperoleh penghasilan selama program berlangsung.

Ia berharap pemerintah mempertahankan program tersebut dan memperbaiki sejumlah aspek pelaksanaannya. Salah satu persoalan yang disorot adalah sistem pendaftaran daring yang masih mengalami kendala.

“Menurutku yang perlu diperbaiki dari MagangHub yang terpenting pasti web-nya, karena ternyata ketika aku baca testimoni teman-teman tahun ini web-nya pun masih sangat loading parah ketika pendaftaran dimulai,” kata Intan.

Ia juga meminta Kemnaker lebih selektif dalam memilih perusahaan mitra. Menurutnya, seleksi diperlukan agar program tidak diikuti perusahaan yang hanya membuka lowongan tanpa memberikan pengalaman magang yang memadai atau memiliki kebutuhan perekrutan yang jelas.

Intan berharap pemerintah mempertimbangkan perluasan kelompok peserta, termasuk lulusan yang telah melewati tiga tahun sejak kelulusan. Ia juga mengusulkan agar kesempatan mengikuti program lebih dari satu kali dapat dipertimbangkan.

Kemnaker: 30 Persen Peserta Ditawari Bekerja

Diketahui, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, menyatakan sekitar 30 persen peserta Magang Nasional 2025 mendapat tawaran bekerja setelah program berakhir. Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR pada Senin (20/7/2026), Yassierli menyebut hasil evaluasi pada hari terakhir program menunjukkan sekitar 30 persen peserta ditawari bekerja.

“Kami sudah melakukan evaluasi di hari terakhir magang dan hasilnya 30 persen dari semua peserta itu ditawari bekerja,” kata Yassierli, Senin (20/7/2026) sebagaimana dikutip Antara.

Kemnaker mencatat terdapat 102.696 peserta Magang Nasional pada 2025. Jumlah tersebut mencakup peserta yang ditempatkan di kementerian atau lembaga pemerintah maupun perusahaan.

Yassierli menjelaskan, peserta yang ditempatkan di kementerian atau lembaga tidak mendapatkan tawaran pekerjaan dari tempat magangnya karena rekrutmen pegawai pemerintah mengikuti formasi yang tersedia.

“Untuk mereka yang magang di kementerian, tentu tidak mendapatkan penawaran pekerjaan. Karena rekrutmen di kementerian atau lembaga dilakukan terpusat berdasarkan formasi yang ada dari KemenPAN-RB,” ujarnya.

Peringatan Hari Ozon Sedunia 2026 di Bekasi

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan sambutan pada puncak peringatan Hari Ozon Sedunia 2026 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/9/2026). Peringatan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat komitmen dan aksi bersama dalam melindungi lapisan ozon sekaligus mendorong upaya pendinginan berkelanjutan dengan mengusung tema Global Action for Cooler Planet. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/nym.

Evalusi Berkala MagangHub agar Bisa Tekan Angka Pengangguran

Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Tadjuddin Noer Effendi, menilai MagangHub belum cukup efektif untuk menurunkan angka pengangguran secara luas.

Tadjuddin menyoroti besarnya jumlah pengangguran dibandingkan daya tampung program. Ia menyebut jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi mencapai sekitar 1,2 juta orang, sedangkan peserta magang yang memperoleh pekerjaan masih menjadi bagian kecil dari keseluruhan pengangguran.

“Kalau dikatakan itu untuk mengurangi pengangguran, tampaknya belum berhasil,” ujar Tadjuddin, saat dihubungi Tirto, Rabu (14/10/2026),

Ia merujuk pada angka sekitar 30 persen peserta yang memperoleh pekerjaan setelah mengikuti program. Menurutnya, persentase tersebut belum cukup untuk memberikan dampak besar terhadap jumlah pengangguran secara nasional.

“Kalau bahasa kasarnya ya program magang ini belum dapat menurunkan angka pengangguran yang jumlahnya kini ada sekitar 7 juta orang,” katanya.

Tadjuddin mengakui program magang dapat membuka jalan bagi lulusan baru untuk memasuki dunia kerja. Pengalaman profesional dan sertifikat yang diperoleh selama program dapat menjadi bekal ketika peserta kembali mencari pekerjaan.

Namun, ia menilai pemerintah perlu memperbesar daya tampung program agar lebih banyak pencari kerja memperoleh kesempatan mengikuti magang.

“Jadi kalau memang mau menurunkan angka pengangguran kita, ya harus lebih besar jumlah yang bisa ikut magang itu,” ujarnya.

Menurut Tadjuddin, persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi juga berkaitan dengan ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan pasar kerja.

“Jadi ada mismatch. Lulusan-lulusan yang banyak sarjana itu ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pasar kerja. Ada ketidaksesuaian,” katanya.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan pengalaman kerja perlu berjalan beriringan dengan upaya menyesuaikan kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan. Tanpa kesesuaian tersebut, pengalaman magang belum tentu meningkatkan peluang peserta untuk mendapatkan pekerjaan.

Pandangan serupa disampaikan Arif Novianto, pengamat ketenagakerjaan sekaligus Direktur Policy Research Center (Porec). Ia menilai MagangHub dapat membantu lulusan baru mengenal lingkungan kerja, tetapi tidak bisa dijadikan solusi utama untuk mengatasi pengangguran lulusan muda.

“MagangHub ini bisa membantu lulusan baru untuk mendapatkan pengalaman kerja dan mengenal dunia kerja secara langsung. Tapi kalau tujuannya untuk mengatasi pengangguran lulusan muda, kita perlu lihat lebih jauh, apakah program ini benar-benar menghasilkan pekerjaan atau sekadar menempatkan lulusan di tempat magang selama beberapa bulan,” kata Arif kepada Tirto, Rabu (14/10/2026).

Arif menilai peluang peserta beralih dari magang ke pekerjaan tetap bergantung pada kebutuhan perusahaan dan kondisi pasar kerja. Ia mengingatkan agar program tersebut tidak dimanfaatkan perusahaan untuk memperoleh tenaga kerja sementara tanpa komitmen perekrutan.

“Jangan sampai perusahaan justru menjadikan program magang sebagai cara mendapatkan tenaga kerja murah yang sifatnya sementara, tanpa ada komitmen merekrut peserta setelah program selesai,” ujarnya.

Karena itu, Arif menilai pemerintah perlu membuka data secara transparan mengenai hasil program setelah peserta menyelesaikan masa magang. Data tersebut perlu menunjukkan berapa peserta yang benar-benar mendapatkan pekerjaan, apakah pekerjaan yang diperoleh sesuai dengan kompetensi lulusan, serta apakah peserta mendapatkan pengalaman belajar yang memadai.

“Jadi perlu dilihat berapa persen peserta yang benar-benar direkrut menjadi pekerja tetap setelah magang, bukan cuma berapa banyak yang ikut program,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah memastikan program magang tidak menggantikan posisi pekerja reguler atau menjadi cara bagi perusahaan untuk menekan biaya tenaga kerja.

“Persoalan pengangguran anak muda juga berkaitan dengan terbatasnya penciptaan lapangan kerja layak, sementara pencari kerja terus bertambah. Kalau masalah struktural ini nggak dibenahi, program magang sebagus apa pun dampaknya akan terbatas,” ujar Arif.

Besarnya minat terhadap MagangHub menunjukkan kebutuhan lulusan baru terhadap akses pengalaman kerja. Akan tetapi, evaluasi program perlu melihat apakah kesempatan tersebut benar-benar membantu peserta memasuki pasar kerja secara berkelanjutan.

Pemerintah menargetkan 150.000 peserta pada tahun kedua Magang Nasional, lebih banyak dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Meski demikian, bertambahnya jumlah peserta belum tentu diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Program MagangHub dapat menjadi jembatan bagi lulusan baru untuk mengenal dunia kerja dan membangun kompetensi. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman tersebut benar-benar meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.

Jika kesempatan kerja tidak bertambah dan hasil program tidak dievaluasi secara berskala, MagangHub berpotensi hanya memberikan pengalaman kerja sementara tanpa menyelesaikan persoalan pengangguran lulusan baru.

Baca juga artikel terkait PROGRAM MAGANG atau tulisan lainnya dari Hanang Septioyudho

tirto.id - News Plus
Reporter: Hanang Septioyudho
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Bayu Septianto