tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (5/11/2026).
Rupiah naik 98 poin atau 0,54 persen ke level Rp18.070 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya pada Rabu (4/11/2026) yang berada di Rp18.168 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global.
Menurut Amru, pelemahan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh surplus perdagangan Indonesia yang mengalami penurunan pada September 2026.
Kementerian Perdagangan pada Selasa (3/11/2026) menyampaikan Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan surplus perdagangan pada Agustus 2026 yang mencapai 3,55 miliar dolar AS. Meski masih mencatatkan surplus, penurunan tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar karena menunjukkan selisih antara nilai ekspor dan impor Indonesia semakin menyempit.
Amru menjelaskan, pertumbuhan impor Indonesia juga tercatat lebih tinggi dibandingkan ekspor. Impor tumbuh sebesar 18,41 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan pertumbuhan ekspor berada di angka 11,87 persen.
Menurut dia, peningkatan impor terutama terjadi pada barang modal dan bahan baku yang digunakan untuk mendukung kegiatan industri. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan produksi di dalam negeri.
Namun, peningkatan impor juga perlu dicermati karena dapat mendorong kenaikan kebutuhan valuta asing, termasuk dolar AS, untuk membiayai transaksi perdagangan internasional. Permintaan dolar yang meningkat berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Indeks Dolar AS Melemah
Di tengah tekanan dari faktor domestik, pergerakan dolar AS di pasar global justru menunjukkan pelemahan. Indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) tercatat bergerak turun ke sekitar 101,46 atau melemah sekitar 0,40 persen.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik pada perdagangan Kamis. Sebab, ketika dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah, dapat berkurang.
"Koreksi dolar AS tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik, meskipun tekanan dari faktor domestik masih perlu diperhatikan," ungkap Amru dikutip Antara (4/11/2026).
Sebelumnya, data lowongan pekerjaan Amerika Serikat atau Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang dirilis pada Selasa (3/11/2026) tercatat mencapai 7,52 juta. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar.
Data JOLTS merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kondisi pasar tenaga kerja AS, termasuk jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia. Tingginya angka lowongan pekerjaan menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat.
Kondisi tersebut berpotensi membuat bank sentral AS (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Jika suku bunga AS tetap tinggi, dolar berpeluang mempertahankan daya tariknya bagi investor karena menawarkan imbal hasil yang relatif menarik.
Meski demikian, pelemahan DXY pada perdagangan yang menjadi acuan Amru memberikan sentimen positif bagi rupiah. Pergerakan dolar AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed pun masih menjadi perhatian investor dalam menentukan arah transaksi mata uang.
Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Kamis (5/11/2026). Dua indikator yang menjadi perhatian adalah laporan ketenagakerjaan ADP dan ISM Services Purchasing Managers' Index (PMI) sektor jasa.
Kedua indikator tersebut dapat memengaruhi penilaian pasar terhadap kekuatan ekonomi AS. Jika data menunjukkan perekonomian dan pasar tenaga kerja masih kuat, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dapat meningkat. Sebaliknya, data yang menunjukkan perlambatan ekonomi berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara lain.
Selain data ekonomi AS, pasar juga menantikan rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 yang dijadwalkan pada Kamis (5/11/2026).
"Data ini diperkirakan dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global," paparnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






































