Runtuhnya Cagar Budaya Rumah Dinas Peruri

Komplek rumah tua terbengkalai tak terawat di kawasan Brawijaya; tepat di belakang rumah Wakil Presiden RI, Jusuf Kala, Jakarta Selatan (1/2/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Komplek rumah tua terbengkalai tak terawat di kawasan; Brawijaya tepat di belakang rumah Wakil Presiden RI, Jusuf Kala, Jakarta Selatan (1/2/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Kabel listrik melintang di halaman depan komplek rumah tua yang terbengkalai; di kawasan Brawijaya tepat di belakang rumah Wakil Presiden RI, Jusuf Kala, Jakarta Selatan (1/2/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Seekor kucing liar melintasi di komplek rumah tua terbengkalai di kawasan Brawijaya tepat di belakang rumah Wakil Presiden RI, Jusuf Kala, Jakarta Selatan (1/2/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Seekor kucing liar berdiri di komplek rumah tua terbengkalai di kawasan Brawijaya tepat di belakang rumah Wakil Presiden RI, Jusuf Kala, Jakarta (1/2/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Slot pintu halaman depan komplek rumah tua terbengkalai di kawasan Brawijaya tepat di belakang rumah Wakil Presiden RI, Jusuf Kala, Jakarta Selatan (1/2/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Sisa unit Rumah Dinas Peruri bergaya arsitektur 'Jengki' yang terbengkalai di Jl. Brawijaya IV, Kebayoran Baru, Jakarta (1/2/18).
2 Februari 2018
Rumah Dinas Peruri bergaya arsitektur 'Jengki' terbengkalai di Jl. Brawijaya IV, Kebayoran Baru, Jakarta (1/2/18). Gaya arsitektur 'Jengki' berasal dari kata 'Yankee' yang kemudian menjadi gaya pertama arsitek Indonesia dan menjadi 'identitas arsitektur Indonesia'. Konsep arsitektur ini juga bagian dari bentuk perlawanan terhadap rumah kolonial Belanda atau Indis.

Perumahan ini dibangun tahun 1957 oleh Mohammad Soesilo, seorang pelopor profesi arsitek dan perencana kota di Indonesia. Dahulu ada 32 unit Rumah Dinas Peruri yang telah menjadi bagian dari cagar budaya pada tahun 1975 di era Gubernur Ali Sadikin. Namun sungguh disayangkan, setengah unit dari komplek rumah 'Jengki' telah lenyap dibangun kediaman rumah pribadi tambahan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tahun 2017. tirto.id/Hafitz Maulana