tirto.id - Pakar energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar, menilai aksi diplomasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, ke berbagai negara mampu mengamankan kebutuhan energi jangka pendek serta kestabilan harga di Indonesia.
"Diplomasi yang dilakukan Menteri ESDM ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, merupakan langkah taktis jangka pendek yang sangat krusial untuk mengamankan pasokan fisik atau supply security dan kepastian harga atau price stability," ujar Ary dalam keterangan dikutip, Jumat (9/10/2026).
Ary menjelaskan, upaya Bahlil yang tidak hanya mengandalkan diplomasi internasional, tetapi juga mendorong peningkatan lifting minyak serta pengembangan bahan bakar nabati melalui program B50 dan E50. Menurutnya, pendekatan tersebut mampu menjawab tantangan ketahanan energi dari sisi pasokan jangka pendek maupun kemandirian jangka panjang.
"Kombinasi tersebut merupakan kebijakan yang sangat tepat dan komprehensif karena menyerang masalah dari dua sisi sekaligus, yakni mengamankan keran pasokan luar negeri dalam jangka pendek dan melepaskan ketergantungan melalui substitusi domestik dalam jangka menengah hingga panjang," jelasnya.
Kendati demikian, Ary berharap pemerintah bisa bergerak cepat mencari sumber minyak mentah dengan keekonomian terbaik dari berbagai negara. Langkah tersebut penting untuk memastikan kilang domestik, seperti Cilacap, Balongan, dan Balikpapan, tetap memperoleh pasokan bahan baku yang memadai. Meski demikian, diplomasi perlu dibarengi percepatan modernisasi kilang dan pembenahan tata kelola hulu migas agar ketergantungan terhadap pasokan luar negeri terus berkurang.
Ary menambahkan, pengembangan biodiesel dan bioetanol menjadi peluang strategis untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya domestik, khususnya kelapa sawit, tebu, dan singkong. Namun, implementasinya tetap perlu memperhatikan kesiapan industri, keberlanjutan lingkungan, serta keseimbangan kebutuhan energi dan pangan.
Ia juga memandang integrasi kebijakan sektor ESDM dengan hilirisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan energi Indonesia. Penyatuan koordinasi tersebut dinilai dapat mempercepat pengembangan industri pengolahan sumber daya alam, termasuk hilirisasi gas bumi dan batu bara menjadi produk bernilai tambah yang mampu mengurangi ketergantungan impor.
"Penyatuan portofolio sektor ESDM dan koordinasi hilirisasi di bawah satu komando merupakan langkah strategis yang tepat. Integrasi ini memastikan bahwa rantai nilai energi kita berjalan utuh, dari perut bumi dikelola, diolah di dalam negeri, hingga menjadi produk bernilai tambah tinggi," katanya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global. Konflik yang terjadi di berbagai wilayah dunia dinilai telah berdampak luas terhadap rantai pasok industri dan harga energi.
Bahlil mengatakan ketegangan geopolitik saat ini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik, tetapi juga merembet ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurut dia, ketidakpastian tersebut turut memengaruhi rantai pasok industri dan harga bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, komunikasi dengan kementerian energi dari berbagai negara belum memberikan kepastian mengenai kapan konflik geopolitik tersebut akan berakhir.
“Bagaimana rantai pasok industri, bagaimana harga BBM-nya melambung, dan saya pun melakukan komunikasi lintas negara dengan kementerian-kementerian energi di dunia. Hampir dapat dipastikan tidak ada yang bisa menjawab kapan selesai persoalan yang terjadi. Tidak ada yang bisa meramalkan itu,” kata Bahlil dalam acara Investor Daily Summit 2026, Rabu (7/10/2026).
Masuk tirto.id







































