tirto.id -
Masih ingat dalam ingatan saya, masa ketika album Menari dengan Bayangan, milik Hindia, menjadi teman. Di antara banyak lagu di album debut Hindia tersebut, “Membasuh” jadi salah satu lagu yang membuat saya jatuh cinta pada musik garapan Baskara Putra dkk ini.Bagi saya, “Membasuh” bukan cuma lagu yang enak didengar berulang kali. Ada sesuatu dari lagu itu yang terasa menenangkan. Saya seperti menemukan ruang untuk berdamai dengan diri sendiri di tengah kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa musik Hindia terasa dekat bagi saya sejak masa kuliah.
Karena itu, menyaksikan Hindia tampil di Synchronize Fest 2026 pada Sabtu (17/10/2026) memiliki makna tersendiri. Namun, malam itu saya tidak datang hanya untuk bernostalgia dengan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga. Hindia justru membawa penonton memasuki pertunjukan yang terasa jauh dari pengalaman mendengarkan album pertamanya.
Bertempat di Dynamic Stage, Hindia hadir dengan konsep Post Order Set, sebuah pertunjukan khusus yang mengeksplorasi teritori musik baru. Sejak diumumkan beberapa hari sebelum festival, konsep ini sudah menarik perhatian karena Baskara menjanjikan pendekatan musikal yang berbeda dari penampilan Hindia pada umumnya.
Dalam pengumumannya, Hindia menjelaskan bahwa konsep tersebut terinspirasi dari runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 dan perkembangan musik elektronik sebagai simbol kebebasan. Hindia juga memberi sinyal bahwa lagu-lagu populernya tidak akan mendominasi setlist seperti biasanya.
Bagi pendengar yang datang dengan harapan menyanyikan seluruh lagu favorit dengan aransemen biasanya, keputusan ini mungkin terdengar berisiko. Namun, justru di situlah daya tarik Post Order Set. Hindia tidak mau mengulang formula yang sudah berhasil, tetapi mencoba membawa musiknya ke wilayah yang berbeda.
Pertunjukan dibuka dengan simulasi perjalanan menuju tahun 2099. Visual pada layar LED mengajak penonton membayangkan seperti apa Indonesia di masa depan.
Menari dengan Bayangan, Berdansa dengan Masa Depan
Seperti yang sudah diduga, atmosfer elektronik langsung terasa sejak awal pertunjukan. Lagu-lagu seperti “Janji Palsu”, “Matahari Tenggelam”, dan “Secukupnya” hadir dalam balutan aransemen yang sama sekali lain. Alih-alih hanya mengandalkan kekuatan lirik yang selama ini menjadi salah satu ciri khas Hindia, Post Order Set memberi ruang bagi elemen elektronik untuk membangun atmosfer pertunjukan.
Eksplorasi itu berlanjut lewat “anak itu belum pulang”, “YAAYO”, “Kami Khawatir, Kawan”, hingga “harga satu pil”. Musik dan visual bergerak beriringan, membentuk gambaran tentang masa depan yang tidak sepenuhnya utopis.
Di tengah pertunjukan, Baskara menyapa penonton dengan kalimat, “Selamat malam. Selamat datang di 2099. Suatu hari kita akan punah. Internet telah mati. Panjang umur perjuangan.”
Kalimat itu terasa seperti pengingat bahwa teknologi dan kemajuan tidak otomatis menjamin kehidupan yang lebih baik. Ada persoalan yang tetap mengikuti manusia, bahkan ketika kita membayangkan diri berada puluhan tahun di masa depan.
Ketika layar kemudian menampilkan tulisan “System disconnected”, disusul efek visual seperti percikan api dari sistem yang mengalami kerusakan, perjalanan tersebut seolah terputus. Pertunjukan lalu beralih ke kilas balik Indonesia pada 2026, termasuk kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta program Makan Bergizi Gratis.
Dari Membasuh ke Berdansalah, Karir Ini Tidak Ada Artinya
Sebagai pendengar yang mengenal Hindia lewat Menari dengan Bayangan, ada sesuatu yang menarik dari menyaksikan eksplorasi di panggung Synchronize ini.
Saya pertama kali jatuh cinta pada musiknya melalui lagu yang memberi ruang untuk merenung dan berdamai. Sementara itu, Post Order Set memperlihatkan sisi lain Hindia yang lebih berani bermain dengan bunyi, atmosfer, dan gagasan tentang dunia di luar diri sendiri.
Malam itu, “Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya” menjadi salah satu lagu yang menguatkan karakter pertunjukan. Judulnya sendiri terasa seperti ajakan untuk sejenak melepaskan diri dari tuntutan yang terus mengejar di kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Post Order Set, ajakan berdansa itu terasa selaras dengan semangat untuk membayangkan kebebasan dan kemungkinan hidup yang berbeda.
Kejutan lain hadir ketika Dipha Barus naik ke panggung dan memainkan gitar dalam lagu “Nafas”, yang dirilis pada April 2026. Kolaborasi tersebut menjadi penutup pertunjukan yang mempertegas karakter Post Order Set sebagai ruang eksplorasi, bukan sekadar parade lagu populer.
Menutup Eksplorasi dengan Pengumuman
Menjelang akhir pertunjukan, Hindia membawa satu kejutan lain bagi para pendengarnya. Melalui visual di layar, ia mengumumkan Menari dengan Bayangan: Evakuasi, film yang diadaptasi dari album debutnya dan dijadwalkan tayang pada 2027.
Film tersebut akan disutradarai oleh Edwin, dengan Hindia terlibat sebagai executive producer. Pengumuman ini juga cukup bikin girang, terutama bagi pendengar yang sejak 2019 tumbuh bersama lagu-lagu dalam Menari dengan Bayangan.
Album yang pernah menjadi teman bagi banyak orang dalam melewati fase hidup tertentu itu kini akan memasuki medium baru. Musik yang sebelumnya hadir melalui lirik dan melodi akan mendapat kesempatan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa sinema.
Bagi saya, pengumuman tersebut seperti mempertemukan dua hal: kenangan tentang album yang membuat saya jatuh cinta pada Hindia dan rasa penasaran terhadap perjalanan artistik Baskara berikutnya.
Pada akhirnya, tumbuh bersama seorang musisi bukan berarti kita akan selalu menemukan bunyi yang sama setiap kali mendengarkannya. Terkadang, kita justru perlu bersedia mengikuti perjalanan mereka ke tempat-tempat baru, tanpa kehilangan alasan mengapa kita jatuh cinta pada musiknya sejak awal.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id
































