tirto.id - Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mewaspadai lonjakan harga pangan di tengah kondisi kekeringan yang melanda Indonesia beberapa waktu terakhir. Suahasil beralasan, kenaikan harga pangan yang terjadi dapat memicu inflasi pangan bergejolak (volatile food) yang kini berada di level 5,81 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi lebih tinggi.
"Kemudian yang perlu kita waspadai adalah volatile food karena sedang dalam kekeringan. Jadi, memang harus kita waspadai terus ke depannya," katanya kepada wartawan usai pelantikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), di Mahkamah Agung (MA), Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).
Suahasil menilai, kondisi kekeringan berpotensi memengaruhi produksi sejumlah komoditas pangan sehingga berdampak terhadap ketersediaan pasokan dan pergerakan harga di pasar. Hal inilah yang kemudian mendorong inflasi volatile food bergerak lebih tinggi.
Oleh karena itu, pemerintah terus meningkatkan koordinasi untuk memastikan ketersediaan pangan. Langkah tersebut diperlukan agar kenaikan harga komoditas pangan tidak semakin membebani masyarakat maupun mengganggu stabilitas perekonomian.
"Kita tingkatkan, kita koordinasi terus di pemerintah memastikan ketersediaan pangan. Ya, volatile food itu, ya. Pangan kita yang harganya itu memang mesti kita perhatikan terus-menerus," jelasnya.
Pemerintah pun terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas harga.
Adapun ketika ditanya apakah kenaikan harga pangan berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026, Suahasil belum memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia meminta publik menunggu pengumuman pertumbuhan ekonomi yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini.
"Nanti kita lihat pertumbuhan ekonomi kan minggu ini diumumkan, ya. Kita lihat angkanya," tutur dia.
Meski begitu, Suahasil menilai inflasi Indonesia yang berada di level 3,23 persen masih dalam rentang sasaran Bank Indonesia (BI). Meski begitu, pemerintah tetap perlu mencermati perkembangan komponen pembentuk inflasi, terutama harga pangan yang rentan mengalami kenaikan akibat gangguan produksi.
"Oh, inflasi kan 3,2. Dan itu ada di dalam range. Kemudian kita lihat komponen-komponennya, yang perlu semua administered price oke, kalau inflasi inti juga oke," kata Suahasil.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id







































