Menggapai Cinta Ilahi Lewat Tari Sufi

Tari Sufi memiliki gerakan memutar ke arah kiri. sebagai tanda bentuk kecintaan kepada ilahi. tirto.id/Andrey Gromico
6 Juni 2017
Malam setelah salat Tarawih, terdengar suara nyaring zikir dan Sholawat yang diiringi tabuh gendang dan rebana dii lantai 2 Rumi Cafe di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Sedangkan, di lantai 1 dua orang darwis atau penari sufi bersiap mengenakan kostum seragam warna biru dan merah untuk bersiap menari sufi di lantai 2. Mereka mengenakan Kostum yang memiliki desain dan corak yang khas. Topi memanjang atau biasa disebut sikke dan baju melebar dibagian bawah seperti rok. Sedangkan alas kaki terbuat dari kulit yang disebut kuff.

Penari mencium setiap bagian kostum yang dipakai mulai dari alas kaki sampai topi. Ritual tersebut sebagai bentuk penghormatan dan bentuk cinta kepada sang pencipta.

Setelah proses memakai baju, sikke, dan kuff selesai, mereka menuju lantai 2 dan bersiap untuk menari. Mereka berdiri dikelilingi jamaah zikir. Kemudian, membungkukan badan dengan posisi tangan bersilang mencengkeram bahu sebagai tanda hormat. Kaki mulai merapat, lalu mulailah gerakan berputar berlawanan arah jaru jam. Perlahan-lahan tangan dilepas dari bahu dengan anggun. Telapak tangan kanan menghadap atas dan kiri ke bawah. Telapak tangan dihadapkan ke atas artinya menuju surga dan tangan kiri menunjuk tanah tempat manusia menjalani kehidupan.

Semakin lama gerakan berputar semakin cepat selaras dengan ketukan irama hadrah yang mengiringi. Mata terlihat sayu dan wajah penari terlihat syahdu. Rok dikostum yang dikenakan berkibar dan mengembang sempurna. Suara zikir dan Sholawat semakin nyaring dan menggema seisi ruangan dan menciptakan suasana yang magis.

Tarian sufi ini sebagai bentuk pengungkapan cinta kepada sang ilahi. Para penari dan orang-orang yang berzikir disekitarnya berharap bisa menggapai kesempurnaan iman. Selain itu berharap menghapuskan ego dan hasrat duniawi berlebihan dalam hidupnya.

FOTO: Andrey Gromico
a