Sutan Syahrir

LahirPadang Panjang, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia, 5 Maret 1909
Profesi
Karier
  • Perdana Menteri Pemerintah Republik Indonesia (1945-1947)
Pendidikan
  • Algemeene Middelbare School (AMS) (1927-1930)

Sutan Syahrir adalah Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia. Sebagai politisi, Syarir adalah pendiri Partai Sosialis Indonesia. Syahrir berperan penting dalam diplomasi penyelesaian sengketa Indonesia-Belanda 1945-1949. Syahrir berusaha mengamankan posisi Indonesia yang terus dipersempit Tentara Belanda melalui perjanjian Linggarjati yang dia tandatangani, namun membuatnya dituduh menguntungkan Belanda. Ketika kuliah di Belanda, Syahrir aktif dalam Perhimpunan Indonesia.

Setelah kembali ke Indonesia, bersama Hatta, mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, yang dikenal sebagai PNI Baru. Organisasi itu kemudian digulung pemerintah kolonial. Hingga Syahrir, Hatta dan pengurus PNI Baru pun diasingkan. Syahrir dibuang ke Boven Digoel lalu Banda Naira hingga 1942. Di masa pendudukan Jepang, Syahrir menjadi pimpinan gerakan bawah tanah anti Jepang. Untuk menutupi kegiatan bawah tanahnya, Syahrir rela memberi kuliah di Asrama Indonesia Merdeka milik Angkatan Laut Jepang. Syahrir yang membatasi diri dengan Jepang dianggap orang yang bebas dari pengaruh Jepang. Dia tidak dituduh Tentara Inggris dan sekutunya sebagai kolaborator penjahat perang Jepang seperti Soekarno Hatta.

Setelah Jepang menyerah, pengikut Syahrir melakukan Proklamasi Kemerdekaan di Cirebon pada 15 Agustus 1945. Sejak 14 November 1945, Syahrir diangkat menjadi Perdana Menteri. Setelah tidak jadi Perdana Menteri lagi Syahrir ikut serta membantu diplomasi jelang pengembalian kedaulatan 27 Desember 1949. Syahrir pernah menjadi Ketua PSI. Ketika orang-orang PSI terlibat PRRI tahun 1958 dan PSI dibubarkan, hubungan Syahrir dengan Soekarno memburuk.