Surya Paloh

Chairman Media Group (1969 - 2016)
LahirKuta Raja, Kota Banda Aceh, Aceh, Indonesia, 16 Juli 1951
ProfesiChairman Media Group (1969 - 2016)
Karier
  • Chairman Media Group (1969-2016)
Pendidikan
  • Universitas Sumatra Utara

Surya Dharma Paloh alias Surya Paloh adalah pemilik Metro TV dan Media Indonesia. Dia dikenal sebagai politisi pendiri Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Menurut Surya Paloh, Nasdem, yang berdiri sejak 1 Ferbruari 2010 itu, tidak dimaksudkan untuk menjadi partai. Namun, 26 juli 2011, Nasdem berubah jadi partai politik dan ikut pemilu pada 2014.

Surya Paloh muda sudah terbiasa bersekolah sambil berdagang teh, ikan asin, karung goni, dan lain sebagainya. Saat tinggal di Medan, ia membuka perusahaan karoseri sekaligus menjadi agen penjualan mobil. Ia menempuhnya sambil tetap bersekolah di SMA Negeri 7 Medan.

Usai SMA, ia melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Tapi tidak selesai. Ia lalu pindah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Islam Sumatera Utara. Di universitas inilah jiwa kepemimpinan dan wajah politiknya mulai terbentuk. Dikenal aktif berorganisasi, ia membuat organisasi massa yang menentang kebijakan-kebijakan salah dari pemerintahan Orde Lama. Beberapa organisasi kepemudaan yang pernah ia geluti antara lain KAPPI atau Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia. Setelah KAPPI bubar, ia menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekretariat Bersama Golkar. Di tahun-tahun setelahnya ia mendirikan Organisasi Putra-Putri ABRI (PP-ABRI), dan menjabat sebagai Pimpinan PP-ABRI Sumatera Utara.

Karier bisnisnya sedari muda memang beragam. Ia pernah bekerja sebagai Manajer Travel Biro Seulawah Air Service, mengelola wisma di Medan, Direktur Utama PT Ika Diesel Bros untuk menjalankan usaha distributor mobil Ford dan Volkswagen, sampai menjadi kuasa usaha direksi Hotel Ika Darroy, terletak di Banda Aceh, sambil merangkap sebagai Direktur Link Up Coy, Singapura, yang bergerak di bidang perdagangan umum.

Namun karier yang paling melambungkan kesuksesannya tetap di penerbitan media. Ia menemukan tantangan disitu sebab ingin membuat perusahaan media yang sesuai idealismenya, yang sayangnya sering bertentangan dengan kehendak rezim Orde Baru.

Bermula dari pendirian Surat Kabar Harian Prioritas pada 2 Mei 1986, popularitas koran tersebut segera menjalar ke daerah-daerah. Sayang, Priorits tak berumur panjang karena SIUPP-nya dicabut pemerintah karena isinya dianggap tak berkesesuaian dengan Kode Etik Jurnalisti Indonesia.

Paloh tak menyerah. Ia menghidupkan kembali Majalah Vista. Pada tahun 1989 ia bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah mengelola Media Indonesia. Media Indonesia diboyong ke Gedung Prioritas. Ia juga mengajak kerjasama dengan sepuluh penerbit di daerah baik yang berada di Sumatera, Sulawesi, juga Bali. Ia tetap bersemangat membangun bisnisnya, terutama Prioritas karena mutunya yang baik, kritis, dan disukai masyarakat.

Ancamannya memang bukan kebangkrutan, namun pembredelan dari pemerintah. Oleh karena keberaniannya, Surya Paloh dianggap sebagai salah satu sosok di pentas bisnis penerbitan tanah air yang berjuang untuk kebebasan pers di era Soeharto.

Kebebasan yang ia cicipi setelah Soeharto tumbang menjadi jalan pembuka untuk ia membuka kanal televisi berita yang kemudian dikenal orang dengan nama Metro TV. Sebuah stasiun televisi berita pertama di Indonesia. Juga stasiun televisi pertama yang siaran 24 jam nonstop. Siaran-siarannya juga dikenal kritis pada pemerintahan, termasuk yang menghiasi konten berita koran Media Indonesia yang sekarang menjadi salah satu koran nasional terkemuka di tanah air.

Bisnis media sudah direngkuhnya. Satu bagian lain yang barangkali tak bisa ia tinggalkan mengingat kembali kesibukannya selama muda dulu adalah terjun ke politik. Juga yang tidak bisa dilupakan adalah media yang dipunyainya merupakan saluran paling efektif saat ia mesti memperkenalkan dirinya ke khalayak se-nusantara. Bahwa ia dan Nasdem, seperti yang ia teriak-teriakkan dalam orasinya, ingin merestorasi Indonesia.