Sukmawati Soekarnoputri

Ketua PNI Marhaenisme
LahirJakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, 26 Oktober 1951
ProfesiKetua PNI Marhaenisme
Karier
  • Ketua PNI Marhaenisme

Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme, Sukmawati Soekarnoputri melaporkan Habib Rizieq ke Bareskrim Polri karena dianggap telah melecehkan Pancasila saat Tabligh Akbar FPI. Sukmawati meminta polisi memanggil Habib Rizieq untuk klarifikasi.

Dalam video, disebutkan Sukmawati, Habib Rizieq yang juga merupakan Imam Besar FPI itu menyatakan 'Pancasila Sukarno Ketuhanan ada di Pantat sedangkan Pancasila Piagam Jakarta Ketuhanan ada di Kepala'.


Dalam laporan resmi bernomor LP/1077/X/2016/Bareskrim. Sukmawati melaporkan Rizieq dengan tuduhan melakukan tindak pidana penodaan terhadap lambang dan dasar negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154a KUHP dan ata Pasa 310 KUHP dan atau Pasl 57a jo Pasal 68 Undang-undang no. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsan. Laporan tersebut berdasarkan rekaman video yang diunggah di Youtube.

Diah Mutiara Sukmawati adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Sukmawati juga merupakan adik dari Megawati Soekarnoputri, mantan presiden Indonesia.


Sukmawati termasuk tokoh yang sangat memperhatikan sejarah bangsa Indonesia. Pada tahun 2011, beliau menuliskan kesaksian sejarah terkait dengan kehidupannya selama 15 tahun di Istana Merdeka dalam sebuah buku yang berjudul ''Creeping Coup D'Tat Mayjen Suharto''.


Buku ini mengungkapkan kisah hidup Sukmawati sejak dilahirkan di Istana merdeka ketika ayahnya masih menjabat sebagai presiden Indonesia,  hingga usia remaja. Sukmawati juga menceritakan kesaksian sejarahnya terkait kudeta yang dialami Bung Karno pada tahun 1965-1967.


Sukmawati meyakini adanya kudeta yang dilakukan oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto (saat itu, yang kemudian menjadi Presiden Soeharto menggantikan Bung karno) bersama anggota-anggota militer lainnya dengan menggunakan Surat Perintah 11 Maret 1966. Dalam pengakuannya, Sukmawati mengaku tidak akan memaafkan Soeharto karena telah melakukan pelanggaran HAM pasca peristiwa 1965.


Sukmawati mengikuti jejak ayah dan saudara-saudaranya terjun ke dunia politik dengan menjadi ketua umum Partai PNI Marhaenisme. Di sisi lain, tokoh Gerakan Rakyat Marhein (GRM) ini memang mencintai dunia seni. Seperti seni tari, seni lukis, dan belakangan juga menulis. Kecintaannya pada bidang seni, membuat Sukma begitu betah berlama-lama nongkrong di Taman Ismail Marzuki (TIM ), berkumpul dengan rekan sesama seniman.