Soeharto

Soeharto

timeter overall

+8
Lahir
Argomulyo, 08/06/1921
Profesi
Presiden Republik Indonesia Ke-2 (1967-1998)
Karier
  • Ketua Presidium Kabinet Indonesia (1996-1967)
  • Panglima Angkatan Bersenjatan Republik Indonesia (1968-1973)
  • Menteri Pertahanan Indonesia (1966-1967)
  • Presiden Republik Indonesia Ke-2 (1967-1998)
Pendidikan
  • SD Pedes Yogyakarta (-)
  • SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (-)
  • Sekolah militer di Gombong (-)

Anak petani bisa jadi Presiden. Soeharto adalah salah satu buktinya. Ia bahkan menjadi presiden dengan masa jabatan terlama hingga 32 tahun. Jabatannya berakhir setelah Indonesia dihantam krisis moneter dan berakhir dengan aksi demo anarkis. Namun, masyarakat tetap tak bisa melupakan perannya dalam pembangunan Indonesia.


Soeharto adalah cah ndeso. Ia lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta pada 8 Juni 1921. Ia lahir dari rahim Sukirah. Ayahnya, Kertosudiro tidak banyak disebut karena Sukirah lah yang lebih dominan mendidik Soeharto setelah bercerai.


Karier militernya dimulai pada 1942, ketika ia mendaftar dan diterima menjadi tentara KNIL. Ketika Belanda hengkang, Soeharto kemudian bergabung dengan PETA. Kariernya di militer terus berlanjut hingga Indonesia merdeka.


Situasi politik Indonesia yang buruk pada 1965 menjadi titian tertinggi dalam perjalanan kariernya. Melalui Sidang Istimewa MPR pada 7 Maret 1967, Soeharto ditunjuk menjadi pejabat presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR dari hasil pemilu. Soeharto akhirnya menjadi presiden sesuai dengan Sidang Umum MPRS pada 27 Maret 1968. Setelahnya, posisi Soeharto sebagai presiden tak pernah goyah hingga lebih dari tiga dasawarsa.


Soeharto memimpin secara otoriter. Kekuasaannya juga diwarnai dengan tindakan represif. Partai politik tunduk sehingga kekuasaannya selalu langgeng. Korupsi, kolusi, dan nepotisme kuat berakar. Media massa yang berani mengkritik langsung dibungkam. Kondisi ini mengantarkan Indonesia menjadi negara yang rapuh. Capaian pertumbuhan ekonominya semu. Ketika krisis menghantam, Soeharto tak berkutik. Indonesia bahkan harus menerima bantuan IMF untuk memulihkannya.


Soeharto mencoba mewujudkan tuntutan reformasi dengan membentuk Komite Reformasi dan merombak kabinet. Namun, semua usaha itu sia-sia. Tuntutan mundur tak pernah surut. Demo pun merebak. Mahasiswa menjadi ujung tombak perlawanan. Empat nyawa mahasiswa melayang tertembus peluru aparat. Demo pun semakin meluas dan memburuk. Peristiwa Mei 1998 menjadi catatan kelam sejarah Indonesia.
Soeharto akhirnya mundur pada 21 Mei 1998, bertepatan dengan 70 hari setelah ia terpilih menjadi presiden untuk ketujuh kalinya. Ia digantikan oleh wakilnya, BJ Habibie.


Orde Baru berakhir. Muncul tuntutan untuk pengusutan dan pengadilan atas Soeharto. Pada 3 Desember 1998, BJ Habibie menginstruksikan Jaksa Agung AM Ghalib segera memeriksa Soeharto. Seminggu kemudian, Soeharto diperiksa Kejaksaan Agung sehubungan dengan dana yayasan, program mobil nasional, kekayaan di luar negeri, hingga kasus Tapos. Namun, Soeharto tidak pernah benar-benar diadili. Pada 12 Mei 2006, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengeluarkan Surat Keputusan Penghentian Penuntutan (SKPP) untuk perkara Soeharto dengan alasan kondisi fisik dan mental yang bersangkutan tidak layak diajukan ke pengadilan.


Soeharto tutup usia pada 27 Januari 2008 atau hampir 10 tahun setelah mundur dari jabatannya sebagai presiden kedua Indonesia. Soeharto dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo. Soeharto meninggalkan enam anak, dari hasil pernikahannya dengan perempuan berdarah ningrat, Raden Ayu Siti Hartinah.