Soedirman

Panglima Tentara Nasional Indonesia (1945 - 1950)
LahirPurbalingga, Jawa Tengah, Indonesia, 24 Januari 1916
ProfesiPanglima Tentara Nasional Indonesia (1945 - 1950)
Karier
  • Guru Sekolah Muhamadiyah (1935-1943)
  • Daidancho Tentara Sukarela Pembela Tanai Air (PETA) (1943-1945)
  • Panglima Tentara Nasional Indonesia (1945-1950)
Pendidikan
  • SD di Hollandsch Inlandsch School (HIS) (1923-1930)
  • SMP di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Taman Siswa (1932-1935)

Soedirman adalah Panglima Tentara Indonesia pertama, sejak 16 Desember 1945. Sejak bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia dikenal sebagai Panglima Besar Soedirman. Soedirman diputuskan sebagai Panglima (TKR) setelah voting para komandan divisi dari Jawa dan Sumatra dalam sebuah konferensi di Yogyakarta, pada 12 November 1945.

Suara Muhamad Noeh, satu-satunya yang datang dari sumatra, dia mewakili divisi-divisi di Sumatra, jadi suaranya bernilai enam. Enam suara itu diberikan untuk Soedirman. Hingga Oerip Soemohardjo yang sejak awal menyusun organisasi ketentaraan di Yogyakarta tetap jadi Kepala Staf TKR.


Sebelum diangkat sebagai Panglima TKR, Soedirman, Komandan Divisi V/Banyumas. Pangkatnya Kolonel. Di masa pendudukan Jepang, Soedirman adalah Daidanco (Komandan Batalyon) di Banyumas. Sebenarnya Soedirman kalah pengalaman dengan Oerip Sumohardjo. Selama puluhan tahun jadi perwira KNIL sejak 1914.

Ia merupakan tentara senior di lingkungan tentara didikan Belanda.
Ujian pertama Soedirman sebagai Panglima TKR adalah buntut kedatangan AFNEI (Allied Forces Nedeland East Indie) ke Indonesia.

Pasukan AFNEI yang mundur ke Semarang membebaskan tawanan Belanda. Namun diketahui tawanan Belanda di jaman Jepang itu justru dipersenjatai. Hal inilah yang menimbulkan gejolak rakyat dan TKR. Di saat kondisi itu Soedirman memerintahkan untuk melakukan serangan terhadap pasukan AFNEI di Ambarawa.

Soedirman menerapkan strategi supit urang, semacam penyerangan dari 3 sektor untuk menggiring pasukan AFNEI ke Semarang. Pertempuran berjalan 4 hari dan berakhir pada 15 Desember 1945. Tiga hari kemudian Soedirman diberi gelar Panglima Besar.


Selama perang kemerdekaan, Soedirman tak suka dengan hasil diplomasi pemerintah dengan Belanda. Di mana Pemerintah Indonesia selalu mengalah dalam Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville. Soedirman pun jadi sepaham dengan Tan Malaka.

Tan Malaka yang menginginkan kemerdekaan 100% kemudian mendirikan Persatuan Perjuangan (PP) di Purwokerto, Banyumas di awal tahun 1946. Tujuan PP adalah menciptakan wadah bagi organisasi politik, laskar, dan partai untuk menyerukan kemerdekaan penuh bagi Indonesia.

PP juga menjadi semacam antithesis bagi diplomasi yang dilakukan Sjahir. Pada 15-16 Januari 1946, PP mengadakan kongres di Surakarta. Jenderal Soedirman menghadiri konferensi itu sebagai wakil dari TKR. Soedirman mendukung berdirinya PP. Tan Malaka yang menganggas PP juga memberikan kesempatan untuk berpidato di podium kongres. Di kongres inilah Soedirman mengucapkan pidatonya yang spektakuler, “Lebih baik kita diatom daripada merdeka kurang dari 100%”.


Soedirman belakangan kena tuberkolosis sehingga paru-parunya terganggu. Baru sebulan di rumah sakit, pada 19 Desember Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Soedirman yang sedang sakit mengajak Presiden dan Wakil Presiden untuk memimpin gerilya melawan Belanda. Ajakan ini ditolak oleh Soekarno. Soedirman lantas meninggalkan kota Yogyakarta untuk memimpin perang gerilya semesta.
Tujuh bulan Soedirman bergerilya di wilayah RI.

Dari wilayah gerilya yang berpindah-pindah sembari ditandu dan dikawal ajudannya yang setia, Soeparjo Rustam, Soedirman berkomunikasi dengan tentara-tentara yang bergerilya di kota, termasuk dengan Sultan Hamengkubuwono IX. Dari komunikasi inilah serangan Umum 1 Maret 1949 dilancarkan. Kemenangan 6 jam TNI di kota Yogyakarta itu menjadi modal penting dalam lobi internasional.


Soedirman baru keluar dari tempat gerilya setelah Sultan Hamengkubuwono memerintahkan Soeharto untuk menemuinya. Soeharto berhasil menemui Soedirman di Karangmojo, Gunung Kidul. Dari pembicaraanya dengan Soeharto, Soedirman akhirnya turun ke kota pada Juli 1949.


Soedirman lalu menemui Soekarno di Istana Yogyakarta. Mereka berpelukan. Dua pemimpin besar yang kadang sejalan dan tidak ini melepaskan keharuannya. Soekarno kemudian melarang Soedirman untuk memimpin gerilya karena kesehatannya yang tak memungkinkan. Ia kemudian menempatkan Soedirman untuk menjalani perawatan di Magelang. Pada 29 Januari 1950 Soedirman wafat di Pesanggrahan Tengara Badaan, Magelang, di lembah Gunung Tidar.


Belakangan Soeharto, yang dulu diangkat Soedirman sebagai Kolonel di Resimen III Wiyoro, menganugerahinya sebagai Jenderal Besar pada 1997.


Masyarakat Indonesia mengenang sosok Soedirman sebagai Panglima, yang ditandu dan memakai blangkon, sambil memimpin perang gerilya. Soedirman bergerilya dengan dengan sakit paru-paru yang terus menggerogoti tubuhnya. Dia dikenal suka merokok klobot.