Siti Musdah Mulia

Profesor riset bidang Lektur Keagamaan Departemen Agama
LahirBone, Sulawesi Selatan, Indonesia, 3 Mei 2016
ProfesiProfesor riset bidang Lektur Keagamaan Departemen Agama
Karier
  • Dosen tidak tetap IAIN Alaudin (1982-1989)
  • Dosen tidak tetap Universitas Muslim Indonesia di Makassar (1982-1989)
  • Peneliti Balai Penelitian Lektur Agama Makassar (1985-1089)
  • Peneliti Balitbang Departemen Agama Pusat (1990-1999)
  • Dosen Institut Ilmu- Ilmu Al-Qur'an (IIQ), Jakarta (1997-1999)
  • Direktur Perguruan Al-Wathoniyah Pusat
  • Dosen Pascasarjana UIN
  • Ketua Divisi Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (2000-2005)
  • Profesor riset bidang Lektur Keagamaan Departemen Agama
Pendidikan
  • S1 di IAIN Alauddin Makassar
  • S2 di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
  • S3 di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Prof Dr Siti Musdah Mulia, MA, salah satu feminis Muslim terkemuka di Asia, menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2008. Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah itu dinilai sebagai sosok muslimah yang "mau dan berani bersuara".

Musdah dilahirkan di Bone, 3 Maret 1958, di tengah keluarga yang memegang teguh adat dan ajaran agama. Setelah tamat SD di Surabaya, ia dimasukkan ke Pesantren As`adiyah, Sulsel, hingga tamat 1973. Lalu, setelah menyelesaikan program Sarjana Muda di Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar (1980) dan Program S1 Jurusan Bahasa dan Sastera Arab di Fakultas Adab, IAIN Alaudin, Makassar (1982), ia mengabdikan diri di lingkungan dinas agama.

Ia mengawali kariernya di bidang pendidikan sebagai dosen tidak tetap di IAIN Alaudin dan di Universitas Muslim Indonesia di Makassar (1982-1989). Selanjutnya ditarik menjadi peneliti pada Balai Penelitian Lektur Agama, Makassar (1985-1989), lalu peneliti pada Balitbang Departemen Agama Pusat, Jakarta (1990 1999). Di Jakarta, ia meneruskan kariernya sebagai dosen di Institut Ilmu- Ilmu Al-Qur'an (IIQ), Jakarta (1997-1999). Sejak 1995 ia bahkan menjadi Direktur Perguruan Al-Wathoniyah Pusat, sampai sekarang. Mulai 1997, ia juga menjadi dosen Pascasarjana UIN, Jakarta, sampai sekarang.

Pada 1999, Musdah diberi tanggung jawab menjadi Kepala Balai Penelitian Agama Jakarta. Selain sebagai peneliti dan dosen ia juga aktif menjadi trainer (instruktur) di berbagai pelatihan, khususnya dalam isu demokrasi, HAM, perempuan, dan civil society. Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang meraih doktor dalam bidang pemikiran politik Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1997). Disertasinya, Negara Islam: Pemikiran Husain Haikal, diterbitkan oleh Paramadina tahun 2000. Ia melakukan penelitian bagi disertasinya di Kairo, Mesir.

Ia juga tercatat sebagai perempuan pertama yang dikukuhkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai profesor riset bidang Lektur Keagamaan di Departemen Agama (1999). Dalam pengukuhannya, ia menyampaikan pidato, Potret Perempuan dalam Lektur Agama (Rekonstruksi Pemikiran Islam Menuju Masyarakat Egaliter dan Demokratis).

Selain pendidikan formal, Musdah juga menjalani pendidikan nonformal. Di antaranya, kursus singkat mengenai Islam dan civil society di Universitas Melbourne, Australia (1998), kursus singkat pendidikan HAM di Universitas Chulalongkorn, Thailand (2000), kursus singkat advokasi penegakan HAM dan demokrasi (International Visitor Program) di Amerika Serikat (2000), kursus singkat Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan di Universitas George Mason, Virginia, Amerika Serikat (2001), kursus singkat Pelatih HAM di Universitas Lund, Swedia (2001), serta kursus singkat Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Perempuan di Bangladesh Institute of Administration and Management (BIAM), Dhaka, Bangladesh (2002). Pengalaman-pengalaman seperti itu yang memperkaya wawasannya. Ia menceritakan pengalamannya berkeliling negara-negara Arab, yang ternyata beragam dalam menerapkan syariat Islam.

Musdah juga pernah menjabat Ketua Divisi Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (2000-2005). Sebelum dan sesudah Musdah menjabat, belum ada lagi perempuan yang menduduki posisi itu. Setiap minggu divisinya selalu menerima surat laporan dari masyarakat tentang kelompok yang meresahkan. Musdah selalu menguatarakan pendapatnya perihal pemisahan agama dan negara. Menurut Musdah, setiap kita bicara agama pasti ujungnya adalah interpretasi. Kalau negara memakai ideologi agama, lalu interpretasi siapa yang akan diakai negara. Setiap orang menurut Musdah akan mempertahankan interpretasinya. Jika ada satu interpretasi yang dipaksakan ke pihak lain maka keutuhan negara bisa tercabik-cabik. Padahal, negara Indonesia amat beragam.