Rosianna Magdalena Silalahi

Pemimpin Redaksi Kompas TV (2014)
LahirPangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia, 26 Oktober 1972
ProfesiPemimpin Redaksi Kompas TV (2014)
Karier
  • Reporter Televisi Republik Indonesia (TVRI)
  • News Anchor Surya Citra Televisi Indonesia (SCTV) (1998-2009)
  • Pemimpin Redaksi Liputan 6 Surya Citra Televisi Indonesia (SCTV) (2005-2009)
  • Pemimpin Redaksi Kompas TV (2014)
Pendidikan
  • SMA Santa Ursula Jakarta
  • Jurusan Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Dunia jurnalistik seakan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri Rosianna Magdalena Silalahi, atau yang akrab disapa “Rosi”. Rosi sejak awal sudah merancang langkahnya untuk menjadi seorang jurnalis yang berkompetensi tinggi. Ia mnenunjukkan, jurnalis merupakan sebuah profesi yang membutuhkan pengalaman serta komitmen yang tinggi.

Rosi telah menekuni dunia jurnalistik sejak masih duduk di bangku SMA. Kegiatan ekstrakurikuler majalah dinding menjadi pilihan alumni SMA Ursula ini untuk menyalurkan hobi menulisnya. Tak hanya itu, Rosi juga aktif berkegiatan di majalah sekolah, Serviant.

Seusai SMA, wanita berdarah Batak ini mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri. Sayang, Rosi gagal diterima di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI) dan diterima di pilihan kedua, Jurusan Sastra Jepang Fakultas Sastra UI. Meskipun begitu, impiannya untuk menjadi seorang jurnalis tak pernah pupus.

Setelah gelar sarjana sastra berhasil digenggamnya, Rosi mencari pekerjaan sesuai minat dan bakat di bidang jurnalistik. Bungsu dari lima bersaudara ini kemudian mencoba peruntungannya dengan mengirimkan lamaran kerja ke TVRI. Sembari menunggu panggilan dari TVRI, Rosi bekerja di perusahaan periklanan selama beberapa bulan.Tak lama kemudian, usaha Rosi akhirnya membuahkan hasil. Putri pasangan L.M. Silalahi (alm) dan Ida Hutapea ini dipanggil untuk menjalani tes di televisi milik pemerintah itu hingga akhirnya ia diterima sebagai reporter.

Momen penentu dalam karir jurnalistik Rosi hadir pada 1999, saat SCTV sedang mencari reporter dan presenter baru. Kesempatan ini pun tak disia-siakan Rosi. Berkat kemampuan dan kecerdasannya, Rosi berhasil lolos seleksi di SCTV. Setahun berkarir di televisi swasta itu, nama Rosiana Silalahi mulai dikenal publik. Saat itu ia mulai tampil di belakang meja siar sebagai seorang pembaca berita (news anchor). Tugas itu dijalaninya sembari melakukan reportase di lapangan.

Karir Rosi semakin cemerlang setelah dua seniornya, Ira Koesno dan Arief Suditomo keluar dari SCTV. Ia berkesempatan menggantikan dua orang “ikon” SCTV itu sebagai jurnalis andalan mereka. Bahkan pada tahun 2003,Rosi terpilih sebagai salah satu dari 6 jurnalis TV Asia yang mendapat kesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Presiden Amerika Serikat, George Bush di Gedung Putih, Washington DC. Kapasitasnya sebagai seorang pewawancara dengan tokoh lintas negara akhirnya mengantarkan Rosi untuk bertemu tokoh-tokoh sekaliber Mahathir Muhammad, Lee Kuan Yew, hingga Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.

Pengalaman-pengalaman tersebut mengantarkan Rosi meraih berbagai penghargaan. Di tahun 2004, Rosi berhasil menyabet gelar Pembawa Acara Talk Show Terfavorit dan Pembawa Acara Berita/Current Affair Terfavorit versi Panasonic Award, sebuah ajang penghargaan bergengsi bagi insan pertelevisian.
Saat Pemilu 2004, Rosi memproduksi program 'Kotak Suara' yang membahas mengenai money politics. Program itu berhasil mengantarkannya sebagai pemenang penghargaan 'Indonesia Journalist Board' tahun 2004.

Pada November 2005, setelah 5 tahun menjadi pembaca berita, Rosi akhirnya diangkata sebagai Pemimpin Redaksi Liputan 6. Kesempatan ini, yang diperolehnya pada usia relatif muda (33 tahun), baginya adalah anugerah dari Tuhan.

Sebulan kemudian, tepatnya Desember 2005, tropi Panasonic Award kembali dianugerahkan padanya karena berhasil terpilih sebagai Presenter Berita (Curent Affairs) Terbaik. Setelah sempat absen selama satu tahun, Rosi kembali terpilih di ajang Panasonic Award tahun 2007, dan untuk kali ketiga ia sukses meraih gelar Pembawa Acara Berita/Current Affair Terfavorit.

Pada 12 Desember 2009, Rosi tak lagi menjabat sebagai Pemred Liputan 6 SCTV. Posisinya kemudian digantikan oleh Direktur PT Surya Citra Media, Fofo Suriaatmadja. Mengenai pergantian itu, sempat tersiar kabar yang menyebutkan bahwa terjadi keretakan hubungan antara Fofo dengan Rosi. Namun kabar itu dibantah oleh Humas SCTV, Budi Darmawan.

Setelah lengser dari kursi Pemred Liputan 6, Rosi bersama dua orang rekannya sesama alumni SCTV, Bayu Sutiono dan Gunawan, membuat sebuah rumah produksi bernama Rosi. Inc. Tim kreatif, kamerawan, bahkan tenaga operasional pun diboyong dari SCTV.

Dunia jurnalistik tampaknya tidak mau jauh-jauh dari Rosi. Pada akhir 2009, ia ditawari membuat acara talk show oleh Global TV. "Sebenarnya saya mau nawarin program yang lain. Cuma, sama pak Daniel, bos Global TV, saya diminta bikin program sendiri. Katanya, kalau saya punya konsep sendiri, akan diberi nama "Rossy". Kebetulan Global TV memang salah satu TV yang agresif mendekati saya dan berani ngasih prime time," ungkapnya. Konsep talk show yang dibuat Rosi ini sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama. Bahkan, dia terus didesak oleh teman-temannya baik di divisi pemberitaan maupun di luar pemberitaan.

Rosi sempat tidak percaya diri sebelum akhirnya menerima “tantangan” itu. "Rossy" sekaligus menandai kembalinya ia ke layar kaca. Sebab dia sudah lama berada di balik layar ketika masih di SCTV. Lewat "Rossy", Rosiana Silalahi tampil menyapa para pemirsa setianya. Jika dulu masyarakat mengenal wanita berambut pendek ini dengan image yang serius, tajam bahkan terkesan galak, kali ini Rosi hadir dengan karakter barunya. Atribut setelan formil dan kacamata yang menjadi ciri khasnya dulu ketika menjadi pembaca berita, kini tak lagi dikenakannya. Rosi tampil segar dengan
busana kasual dan tanpa kacamata.

arjana Sastra Jepang UI ini juga menginginkan talk show-nya menjadi acara yang tak hanya sekadar menyajikan informasi namun juga dapat mengusung gerakan moral, menginspirasi, serta mengajak pemirsanya berpikir. "Saya ingin memiliki program yang berpengaruh yang jadi alternatif tontonan di tengah banyaknya tayangan sinetron," jelasnya.

Rosi mengaku memandu acara talk show lebih sulit dibandingkan acara bertema politik. Sebab, dia harus mampu mendidik sekaligus menghibur namun tidak menggurui. Ia juga harus menyiapkan banyak pertanyaan yang mengeksplorasi perasaan narasumbernya.

Awalnya, Rosi dan timnya sempat ragu bahwa acaranya mampu diterima permirsa TV. Apalagi di jam yang sama, TV lain menayangkan sinetron, lawakan, musik, dan reality show. Namun, sepanjang berpegang pada komitmen awal, ia meyakini acaranya akan mendapat tempat di hati penonton. Ia pun memanfaatkan jaringan yang dimiliki untuk menghadirkan narasumber yang belum tentu bisa dilakukan talk show lain. Antara lain, Direktur Pelaksana Bank Dunia
Sri Mulyani, Setiawan Djody, Menteri BUMN (2011-2014)
Dahlan Iskan, dan Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Jusuf Kalla.