Rini Mariani Soemarno

Menteri Kementerian BUMN (2014 - 2019)
LahirMaryland, Amerika Serikat, 9 Juni 1958
ProfesiMenteri Kementerian BUMN (2014 - 2019)
Karier
  • Menteri Kementerian BUMN (2014-2019)
Pendidikan
  • Sarjana Ekonomi di Wellesley College, Massachusetts, Amerika Serikat (1981)

Rini Mariani Soemarno sempat bernama Rini Soewandi, setelah bercerai dengan sang suami, nama sang ayah melekat kembali. Rini adalah anak dari Soemarno, mantan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Kabinet Kerja III periode 1960-1962.

Rini mengikuti jejak ayahnya dengan mula-mula menyelesaikan pendidikan ekonomi di Wellesley College, Massachusetts, Amerika Serikat. Ia kembali ke tanah air untuk mengisi posisi penting di beberapa perusahaan serta bank terkemuka. Ia juga sempat menjadi Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional dan Staf Ahli Departemen Keuangan Republik Indonesia pada1998.

Sejak menahkodai Kementrian BUMN di era Jokowi, Rini banyak mendapat sorotan termasuk soal kedekatannya dengan Cina, termasuk di proyek kereta cepat. Ia kerap menghadapi serangan-serangan para politisi termasuk dari PDI-P.

Di dunia pemerintahan, Rini juga bukan orang baru. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan di Kabinet Gotong Royong pada periode 2001-2004. Pada saat yang sama, tahun 2001 hingga 2005, Rini juga menjadi presiden Direktur pada PT kanzen Motor Indonesia.

Rini disebut-sebut sebagai orang dekat Megawati. Sebagai orang yang dekat dengan Megawati, setelah Jokowi memenangkan pertarungan di Pemilu 2014, Rini segera ditunjuk sebagai Ketua Tim Transisi.
Akhirnya Jokowi mengangkat Rini sebagai Menteri BUMN. Keputusan Jokowi tentu juga didasarkan pada pengalaman panjang perempuan kelahiran Maryland, Amerika Serikat, tanggal 9 Juni 1958 itu yang kenyang makan jabatan profesional antara lain Rini sempat menjadi General Manager Finance Division di PT Astra International.

Karirnya terus naik pada tahun 1990 ketika Rini menjabat sebagai Komisaris Bank Universal dan kemudian menjadi Wakil presiden Komisaris di PT United Tractors pada tahun 1993. Selanjutnya pada tahun 1995 Rini menjadi komisaris Bursa Efek Jakarta dan Komisaris PT Astra Agro Lestari. Pada tahun 1995 Rini pernah mendapatkan prestasi sebagai Pemimpin Puncak terpuji dari Majalah Swa Sembada.

Sejak tahun 1998 - 2000, Rini diangkat sebagai Presiden Direktur PT Astra Internasional. Pada tahun 1998 Rini menjadi Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional dan Staf Ahli Departemen Keuangan Republik Indonesia. Pada tahun 1999, Rini dipercaya menjadi Presiden Komisaris PT Astra Agro lestari dan pada tahun 2000 Rini menjadi Komisaris PT Agrakom sekaligus Presiden Komisaris PT Semesta Citra Motorindo. Kemudian tahun 2000 hingga 2001, Rini diangkat menjadi Presiden Direktur di tempat yang sama.

Sebelum diangkat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, nama Rini sempat diisukan terseret beberapa kasus seperti pembelian pesawat tempur Sukhoi dan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.