Rhenald Kasali

Dosen Luar Biasa Universitas Lampung
Lahir: Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, 13 Agustus 1960
Karir
  • Dosen FE Universitas Indonesia
  • Ketua Program Pascasarjana FE Universitas Indonesia
  • Dosen Luar Biasa Universitas Sam Ratulangi
  • Dosen Luar Biasa Universitas Tanjung Pura
  • Dosen Luar Biasa Universitas Udayana
  • Dosen Luar Biasa Universitas Lampung
Pendidikan
  • Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
  • PhD University of Illinois

Guru Besar yang pernah tidak naik kelas. Fakta itulah yang mengejutkan dari sederet kiprah Rhenald Kasali. Tokoh yang dikenal sebagai akademisi, pengamat ekonomi, enterpreneur, penulis, dan inovator ini ternyata pernah tidak naik kelas saat kelas 5 SD akibat tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Beliau tidak menjawab dengan benar karena beliau memiliki alasan tersendiri. Menurutnya kalau ditanya lawan kata “kenyang” ya “belum kenyang”, lawan kata “cinta” ya “tidak cinta” karena kalau orang ditanya “apakah kamu cinta?” dalam hati pasti mengatakan tidak sehingga pasti jawabnya bukan “aku benci kamu’” melainkan ”aku tidak cinta”.

Peristiwa ini tentunya membuat Rhenald shock karena pada masa itu, anak yang tidak naik kelas pasti dianggap bodoh. Namun,hal ini tidak mematahkan semangatnya. Ia bahkan menjadikan momen itu sebagai cambuk untuk belajar lebih giat lagi.

Rhenald Kasali merupakan putra dari pasangan suami-istri dari Samuel Kasali dan Sonya Andrea. Ia tubuh dalam keluarga yang kurang mampu.
Hal ini bermula ketika ayahnya terkena PHK dari pelayaran. Karena ayahnya tidak memiliiki kemampuan apa-apa dan ibunya juga tidak bekerja, ekonomi keluargan ini menjadi limbung. Rhenald bahkan mengaku jika dirinya kerap makan hanya dengan nasi garam, atau malah tidak makan sama sekali.

Rhenald hanya memiliki satu setel pakaian seragam yang harus dipakai setiap hari. Setiap selesai dicuci, seragam itu harus segera dikeringkan di depan lampu supaya bisa dipakai keesokan hari.

Kedua orang tua adalah sosok yang sangat pentingRhenald Kasali. Orang tuanya selalu mendukung dan mendampingi beliau dimasa-masa sulit. Orang tuanya selalu membimbing Rhenald Kasali semasa kecil bahkan saat akan melaksanakan ujian sekolah, orang tua Rhenald Kasali selalu mengajak untuk berdoa bersama.

Doa orang tuanya sangat sederhana sekali, “kalau anak saya itu mampu, berikan dia kesempatan”.  Itulah doa yang selalu dipanjatkan oleh ibunda tersayangnya, Sonya. Ibunya akan sangat marah jika mengetahui Rhenald Kasali membolos dari sekolah sehingga untuk memompa semangat belajarnya, ibunya selalu memberikan yang terbaik untuk beliau. 

Hadirnya kedua orang tua adalah saat yang sangat berarti bagi Rhenald Kasali. Orang tuanya selalu mendukung dan mendampingi beliau dimasa-masa sulit. Orang tuanya selalu membimbing Rhenald Kasali semasa kecil bahkan saat akan melaksanakan ujian sekolah, orang tua Rhenald Kasali selalu mengajak untuk berdoa bersama. 

Seusai SMA, Rhenald yang hanya memiliki uang 10 ribu memutuskan untuk membeli formulir pendaftaran Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia juga mengikuti tes di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dengan harapan mendapatkan beasiswa, namun ia memilih masuk UI.

Setelah menjadi mahasiswa UI, Rhenald kuliah sambil mengajar les privat SD untuk menambah biaya. Kehidupan serba prihatin masih dijalaninya semasa kuliah. Ia mengaku, indeks prestasinya hanya menyentuh angka 2,49. Dengan IP sebesar itu, ia mengaku beruntung bisa mendapatkan beasiswa saat tingkat dua.

Setelah lulus kuliah pada tahun 1985 dan bekerja sebagai reporter sejak tahun 1984. Waktu itu beliau mendapatkan tawaran dari salah satu seniornya untuk menulis case study. Dari sanalah peluang untuk mengajar terbuka lebar karena ia ditawari untuk mengajar. 

Setelah mengajar sebagai dosen dan melihat para juniornya banyak yang kembali dari luar negeri dan memiliki mempunyai gelar yang lebih baik, beliau juga ingin meneruskan kembali studynya di luar negeri. Setelah bekerja keras dengan mengajukan banyak beasiswa ke berbagai sponsor, beliau akhirnya dapat bantuan beasiswa tapi hanya intership selama 3 bulan dan bukan biaya utuk sekolah. 

Saat temannya yang lain melanjutkan studi S2, beliau kembali pulang ke Indonesia dan terus berusaha untuk mencari dan mendapatkan beasiswa. Dengan berpegang pada prinsip "seburuk apapun kondisinya, berusalah menghadapi!".Akhirnya beliau memberanikan diri untuk menemui bagian yang bertugas menyeleksi para calon penerima beasiswa dan mengatakan yang sejujurnya jika beliau meminta tolong untuk diberikan surat tanda terima. 

Akhirnya Rhenald mendapatkan sponsor dan dengan  usaha keras inilah yang mengantarkan beliau hingga bisa melanjutkan sekolah S2 dan S3 di Illinouis.

Rhenald berujar, jika dimasa kecilnya sang ibu amat berperan dalam menumbuhkan semangatnya, kini ketika sudah menikah dan mengajar di UI, pengobar semangatnya adalah sang istri tercinta, Elisa. Misalnya, saat ia mau berhenti bekerja lantaran terlalu banyak intrik, Elisa melarangnya. Menurut ibu dari Fin dan Adam itu, kampus bukan cuma dunia idealisme namun juga merupakan tempat orang meniti karir dan mencari nafkah, sehingga kepentingannya beragam. Dengan kata lain, ada persaingan yang harus dipahami secara arif.


Rhenald mengaku bahwa istrinya, Elisa, merupakan salah satu sumber motivasi terbesarnya selain kedua orang tua dan anak-anaknya. Saat Rhenald mulai gerah dengan intrik di kantor dan akan mengundurkan diri, Elisa-lah yang memintanya untuk berpikir ulang. Elisa mengatakan, pekerjaan itu tidak hanya masalah idealisme, tetapi juga cara untuk menghidupi keluarga. Persaingan adalah sesuatu yang wajar dan harus dihadapi secara bijaksan.

Sementara dalam mendidik anak, meski sebagai praktisi di dunia bisnis, Rhenald tak ingin mendorong dua buah hatinya agar mengikuti jejaknya. Menurut Rhenald, Fin dan Adam mempunyai masa depan sendiri karena mereka hanyalah titipan Tuhan. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana mendidik keduanya agar menjadi manusia yang bermoral baik, bisa menghidupi diri sendiri serta berguna bagi orang lain. Makanya, di sekolah pun Rhenald tak pernah menuntut anak-anaknya supaya mendapat peringkat sepuluh besar. "Saya tidak mau anak-anak saya menghabiskan energi hanya untuk mengejar ranking," ucap sarjana ekonomi lulusan UI ini.

Kedua anaknya juga menjadi motivasi tersebar Rhenald selama ini. Ia pun tidak serta-merta meminta kedua anaknya untuk mengikuti jalannya di dunia bisnis. Ia yakin kedua anaknya memiliki jalan masing-masing. Di sisi lain, ia tidak mau pusing memikirkan apakah anaknya mendapat ranking atau tidak di sekolah. Baginya, itu hanya akan menghabiskan energi anak-anaknya. Rhenald berpendapat bahwa kepekaan sosial-lah yang lebih pantas dikembangkan untuk anak-anaknya. Hal ini pula yang membuatnya memilih tinggal di kampung, sehingga kedua anaknya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak lain secara lebih leluasa.

 Di sela-sela kesibukannya, Rhenald mengisi waktu luangnya dengan berkebun. Ia memiliki sebidang tanah di rumahnya di bilangan Pondok Gede, di timur Jakarta. Di atas lahan seluas 300 meter persegi itu, ia menanami aneka pohon buah-buahan, antara lain, mangga, jambu, nangka, rambutan, dan delima.

Sentimen Terkini
History Sentimen
Positive
Neutral
Negative
Januari 2020
Data diambil dari 500 top media online dan 6 sentiment publik
83%
17%
Desember 2019
Data diambil dari 500 top media online dan 32 sentiment publik
84%
16%
DarkLight