STOP PRESS! DPR Setuju Gunakan Hak Angket terhadap KPK

Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini

timeter overall

+33
Lahir
Jepara, 21/04/1879
Agama
Islam
Pendidikan
  • Europe Lager School (1886-1891)

Kartini sosok gerakan Perempuan Indonesia. Dia putri priyayi terpelajar dari Jepara. Ayahnya Bupati Jepara. Dia belajar sekolah elit Belanda ELS sebelum dipingit. Dia rajin membaca dan pengetahuannya luas. Kartini yang ingin belajar di perguruan tinggi harus terkungkung oleh adat. Dia tak bisa sekolah tinggi. Apa yang dia rasakan sering dia tulis dalam surat-suratnya pada sahabat-sahabatnya yang terpelajar.  Diantaranya kepada  Estelle "Stella" Zeehandelaar. Di mana Kartini bercerita soal keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. juga tentang penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. 


Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Kumpulan surat-surat Kartini diterbitkan dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku itu menginspirasi banyak orang dan juga pergerakan wanita Indonesia. Kartini mendirikan sekolah perempuan bersama saudara-saudaranya. Sekolah itu hanya sekolah kecil. Ide Kartini soal sekolah perempuan itu kemudian diteruskan koleganya setelah dia meninggal. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.


Untuk ukuran wanita di jamannya, yang pertama menikah di usia belasan tahun, Kartini baru menikah di usia 24 tahun. Kartini dengan beberapa syarat rela dinikahi Bupati Rembang Djojoadiningrat dan melupakan cita-citanya belajar ilmu keguruan di Jakarta. Dari perkawinan itu lahirlah Soesalit. Kartini meninggal 4 hari setelah kelahiran Soesalit.