Pramono Anung Wibowo

LahirKediri, Jawa Timur, Indonesia, 11 Juni 1963
Profesi
Karier
  • Sekretaris Kabinet Republik Indonesia (2015)
Pendidikan
  • Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (2010-2013)
  • Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada (1990-1992)
  • Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (1982-1988)
  • SMA Negeri 1 Kediri (1979-1982)
  • SMP Pawyatan Daha Kediri (1976-1979)
  • SD Pawyatan Daha Kediri

Pria bernama lengkap Pramono Anung Wibowo ini menduduki jabatan sebagai Sekretaris Kabinet Indonesia sejak 12 Agustus 2015. Pramono juga pernah menjadi Wakil Ketua DPR RI 2009 – 2014 mewakili Fraksi PDI Perjuangan. Lahir di Kediri pada 11 Juni 1963, Pramono mengawali kariernya dengan menggeluti dunia bisnis sebagai pemangku beberapa posisi penting. Ia kemudian merambah kariernya sebagai politikus dengan bergabung menjadi anggota PDI Perjuangan.

Pramono berhasil menamatkan pendidikan sarjananya di Teknik Pertambangan ITB. Ia kemudian melanjutkan studinya di Magister Manajemen UGM. Pada 11 Januari 2013 lalu, gelar doktor Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Padjajaran berhasil disandang Pramono. Ia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Komunikasi Politik dan Interpretasi Para Anggota DPR kepada Konstituen Mereka”.

Perjalanan karier pria berusia 52 tahun ini bermula sebagai pengusaha yang menduduki jabatan penting. Sebelum terjun berpolitik, Pramono memang banyak bergerak di dunia bisnis. Di posisi tinggi manajerial Pramono pernah menjadi Direktur PT. Vietmindo Energitama (1979 – 1982) dan PT. Tanito Harum (1988 – 1996). Setelahnya, pada 1996 – 1999 ia menjabat sebagai Komisaris PT. Yudhistira Haka Perkasa.

Di PDI Perjuangan, pria yang telah aktif di partai itu sejak 1998 berhasil memegang beberapa posisi strategis. Dengan menjadi Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan pada tahun 2005, Pramono kemudian melesatkan jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan lima tahun kemudian. Kelihaiannya berpolitik mengantar Pramono terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2009 – 2014. Saat itu pula, pria berkaca mata ini ditunjuk sebagai Wakil Ketua DPR RI oleh Marzuki Alie yang saat itu menjabat Ketua DPR RI.

Pramono dikenal sebagai pribadi yang lihai melakukan lobi politik. Saat DPR terbelah menjadi dua, yaitu Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih, Pramono tak sepakat dengan keputusan partainya yang hendak membentuk kekuatan tandingan. Dari situ, ia mengambil langkah dengan menjadi jembatan untuk mendamaikan kubunya dengan kubu Prabowo.

Pemahaman dan pengalaman politik, relasi, serta kelihaiannya berkomunikasi membuat Pramono dikenal sebagai pelobi handal. Itu kemudian mengantarnya menjadi menteri yang bertugas menjadi penghubung Presiden dan publik, termasuk DPR. Tak heran, posisinya Menteri Sekretaris Kabinet di pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla merupakan puncak karier bagi pria yang pernah terpilih sebagai tokoh pemimpin muda berpengaruh ini. Harapannya, keahlian dan senioritas Pramono dapat menjadi mediator presiden dalam mengkomunikasikan kebijakan-kebijakannya.

Terkait isu pemusnahan buku-buku berpaham kiri baru-baru ini, Istana Kepresidenan melalui Pramono pun mengecam langkah tersebut. Ia menganggap bahwa keputusan tersebut merupakan tindakan yang berlebihan. Sebagai Sekretaris Negara, Pramono menegaskan bahwa Presiden Jokowi mewanti-wanti agar pejabat negara juga menghormati kebebasan berekspresi, termasuk kebebasan untuk membaca.