Pramoedya Ananta Toer

Pimpinan Lembaga Kebudayaan Rakyat (1958-1965)
Lahir: Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Indonesia, 6 Februari 1925
Karir
  • Juru ketik Kantor Berita Domei milik Jepang di Jakarta (1942-1945)
  • Letnan Tentara Keamanan Rakyat (1946-1947)
  • Redaktur Balai Pustaka (1950-1951)
  • Pimpinan Literary dan Fitures Agency Duta (1953-1954)
  • Pimpinan Lembaga Kebudayaan Rakyat (1958-1965)
Pendidikan
  • Sekolah Radio Surabaya (1940-1941)

Pramudya Ananta Toer alias Pram adalah Novelis Sastrawan Indonesia paling berpengaruh. Pram sudah menulis 50 naskah. Diantaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Arok Dedes, Arus Balik, Panggil Aku Kartini Saja adalah beberapa dari sekian banyak karyanya yang sohor bagi pembaca Indonesia.


Pram adalah anak seorang Guru Kepala sekolah rendah Boedi Oetomo di Blora, kota kelahirannya. Dia lebih akrab dengan ibunya ketimbang ayahnya. Pram muda pernah bekerjasebagai juru ketik. Dia sering berkumpul bersama HB Jassin, Idrus dan lainnya. Belakangan, Pram pun ikut menulis seperti mereka. Pram bahkan lebih produktif. Di awal-awal karirnya sebagai novelis, karya-karyanya antara lain: Keluarga Gerilya dan Di Tepi Kali Bekasi.


Di masa revolusi kemerdekaan 1945-1949, Pram adalah Letnan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dalam Resimen 6 Divisi Siliwangi di Cikampek pada 1946. Selama revolusi, Pram sempat ditawan Tentara Belanda dan dipenjarakan di Pulau Edam dan Bukit Duri.


Setelah revolusi, Pram sempat bekerja di Balai Pustaka sebagai redaktur (1950-1951). Setelahnya dia sempat mengunjungi Belanda dan Tiongkok.


Di masa orde lama, sempat jadi pengajar di Universitas Res Publica (yang belakangan jadi Trisakti) dan Akademi Jurnalistik A Rivai. Pram juga bergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Dimana Pram termasuk Pimpinan. Bersama Lekra, Pram ikut dalam perang kebudayaan dengan kelompok yang tidak sepaham dengan Lekra. Keterlibatannya di Lekra, kemudian membuatnya harus mendekam belasan tahun dalam pembuangan. Termasuk Pulau Buru. Selama di Pulau Buru, Pram tidak berhenti menulis. Di sana dia merampungkan naskah-naskah yang kemudian diselundupkan dan berhasil diterbitkan, yang belakangan dikenal sebagai Tetralogi Buru.


Selain menulis Novel, Pram pernah ikut membuat buku Kronik Indonesia sebanyak empat jilid yang diterbitkan Kompas Gramedia. Di usia tuanya, Pram bahkan berencana menggarap buku ensklopedia soal Indonesia. Sejak lama Pram sudah banyak mengkliping koran sebagai bahan. Rencana itu tidak terlaksana karena Pram keburu meninggal pada 30 April 2006.

DarkLight