STOP PRESS! Gudang Beras Merek Cap Ayam Jago & Maknyuss Digerebek Polisi

Pavel Durov

Pavel Durov

Lahir
Russia, 10/10/1984
Profesi
CEO Telegram (-)
Agama
Tidak Diketahui
Karier
  • CEO Telegram (-)

Pavel Valeryevich Durov adalah seorang pengusaha Rusia yang dikenal sebagai pendiri situs jejaring sosial VK, dan kemudian Messenger Telegram. Dia adalah adik dari Nikolai Durov seorang programer terkenal asal Rusi. Sejak dipecat sebagai CEO VK pada tahun 2014 dan pada 2017 Pavel bergabung dengan WEF Young Global Leaders sebagai perwakilan Finlandia.


Pavel Durov lahir di Leningrad (sekarang St. Petersburg), namun ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Turin, Italia bersama ayahnya yang bekerja disana. Pada tahun 2006, ia lulus dari Departemen Filologi Universitas Negeri Saint Petersburg, di mana ia menerima gelar kelas satu. Kehidupan awal Pavel Durov dan karirnya dijelaskan secara rinci dalam buku berbahasa Rusia The Durov Code. Kisah Sejati VK dan Penciptanya (2012).


Durov mulai membangun Vkontakte atau VK, yaitu sebuah situs jejaring sosial terbesar di Rusia. Layanan ini diluncurkan pada tahun 2006 yang dimiliki dan dioperasikan oleh Mail.Ru Group. Jejaring sosial ini terpengaruh oleh Facebook. Pada saat dia dan saudaranya Nikolai membangun situs VKontakte, perusahaan tersebut tumbuh dengan nilai $ 3 miliar.


Pada bulan Desember 2013, Durov mendapat tekanan untuk menjual 12% saham VK-nya kepada Ivan Tavrin, pemilik perusahaan internet besar Mail.ru, dan memberikan 52% Kepemilikan mayoritas VK. Pada 2014, Mail.ru membeli seluruh saham yang tersisa menjadi pemilik tunggal VK.


Pada 14 Juli 2017 Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, meminta Internet Service Provider (ISP) memblokir 11 situs yang dinilai mengandung konten ilegal, salah satunya adalah jejaring sosial Telegram.


Permintaan itu tertuang dalam sebuah rilis melalui surat elektronik bersubjek “271. [Sangat Segera] Penambahan Database TRUST Positif 14 Juli 2017”. Dalam rilis tersebut, Kominfo meminta para ISP segera menambahkan daftar ke-11 situs tersebut ke dalam sistem filter mereka.


Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan platform Telegram berbeda dari platform lain seperti Facebook, Twitter, atau YouTube. Telegram tidak menyediakan staf, orang atau organisasi dalam melayani keluhan yang timbul akibat platform ini.


Ia menilai, platform media sosial Telegram banyak mengandung konten radikalisme dan terorisme yang membahayakan sehingga harus diblokir.