Omar Dhani

LahirSolo, 23 Januari 1924
Profesi
Karier
  • Kepala Staf Angkatan Udara Tentara Nasional Indonesia

Di liang lahat yang sama dengan isteri pertamanya Sri Wuryanti, Omar Dhani dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta. Tidak ada upacara kemiliteran yang dilakukan hari itu. Padahal karir militer yang dirintisnya sejak puluhan tahun lalu amatlah cemerlang. Puncaknya, ia diangkat menjadi Panglima Angkatan Udara pada 1962.

Karir yang cemerlang itu berakhir pada 1965 ketika pecah Gerakan 30 September. Keterlibatan beberapa pihak dari Angkatan Udara membuatnya dituduh teribat dalam peristiwa itu. Omar pun diadili dan divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada Desember 1966. Walapun kemudian pada 1995 Omar mendapat grasi dari Presiden Soeharto, namanya tak serta merta menjadi bersih.

Setelah hidup bebas bersama keluarga selama 14 tahun, Marsekal (Purn) Omar Dhani meninggal dunia pada Jumat 24 Juli 2009 pukul 14.05 WIB, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara dr Esnawan Antariksa, Halim Perdanakusuma, Jakarta. Omar meninggal setelah mendapat perawatan akibat usia tua dan komplikasi penyakit yang sudah lama diderita.

Jenazah ayah lima anak ini, disemayamkan di rumah duka di Komplek Pejaten Indah D-12, Jalan H Samali, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Setelah itu, Jumat malam (24/7/2009) disemayamkan di Skuadron 17 Halim Perdanakusuma untuk memberi kesempatan kepada pihak TNI AU melakukan penghormatan terakhir. Kemudian Sabtu siang 25 Juli 2009, dimakamkan secara sipil di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta.

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama FB Soelistyo, pemakaman Omar Dani dilakukan tanpa upacara kemiliteran, disebabkan persyaratan administratif. Omar Dani pernah diberhentikan dari dinas kemiliterannya sehingga secara administratif tidak diperkenankan adanya upacara militer di hari pemakamannya. Selain itu, seluruh tanda jasa almarhum juga pernah dicabut lantaran dugaan keterlibatannya dalam Gerakan 30 September.

Omar lahir di Solo, pada 23 Januari 1924. Ayahnya adalah KRT Reksonegoro, Asisten Wedana Gondawinangu, Klaten. Ia pernah mengecap pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Kristen, Klaten, Jawa Tengah tahun 1937. Kemudian melanjut ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Kristen, Solo, 1940. Lalu tahun 1942, melanjutkan pendidikannya ke Algemeene Middlebare School (AMS) B sampai kelas II di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)Yogyakarta. Bahkan tahun 1946, ia masih belajar di Sekolah Menengah Teknologi (SMT). Kemudian ia melanjutkan ke TALOA Academy of Aeronautics, Bakersfiels, California, 1952 dan RAF Staff College, Andover, Inggris, 1957.

Sebelum berkarir di militer (AURI sejak November 1950), Omar pernah meniti karir sebagai Sinder Perkebunan Kebon Arum, Klaten (1942-1944), penyiar RRI/Voice of Indonesia, Tawangmangu pada 1946 dan penyiar bahasa Inggris di Kementerian Penerangan dan RRI Jakarta tahun 1946-1947. Pada tahun 1952, Omar Dhani pernah bertugas sebagai kopilot pesawat Dakota di Cililitan, Jakarta, setelah menyelesaikan pendidikannya di Academy of Aeronautics, TALOA, California, AS, selama setahun. Omar Dhani pun pernah ambil bagian secara aktif dalam operasi udara menumpas pemberontakan di wilayah Timur Indonesia.

Presiden Soekarno melantiknya menjadi Kepala Staf Angkatan Udara pada 19 Januari 1962. Kala itu Laksamana S. Suryadarma ditarik dari jabatan Panglima Angkatan Udara dan Omar dinilai Soekarno adalah sosok paling tepat yang menempati jabatan itu. Tampaknya, Presiden Soekarno menilai Omar sebagai seorang perwira tinggi yang penuh dedikasi.

Presiden Soekarno mengisyaratkan pembentukan "Angkatan Kelima", yaitu buruh dan petani yang dipersenjatai, Omar Dhani menyambut dengan antusias. Padahal, di pihak lain, Angkatan Darat tampak jelas tak berselera. Tidak hanya itu. Omar pun melangkah lebih jauh. Ia menyetujui pelajaran Marxisme diajarkan di sekolah-sekolah dan Kursus Angkatan Udara. Ia bahkan tak keberatan apabila penasihat dari unsur Nasakom ditempatkan mendampingi pimpinan Angkatan Udara.

Karir militer Omar yang cemerlang menemui akhirnya pada 1965. Omar Dhani yang dikenal sangat loyal kepada Soekarno dituding terlibat bersama AURI dalam Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. Nama Omar Dhani sulit dilepaskan dari gerakan yang membawa malapetaka itu. Ia salah satu dari dua tokoh nasional yang menyambut Bung Karno di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, 1 Oktober 1965 pagi. Tokoh lainnya adalah DN Aidit, Ketua CC PKI.

Selain itu, pada saat gerakan penculikan para jenderal tanggal 30 September 1965 meletus, Omar Dhani menulis perintah harian Men/Pangau setelah mendengar siaran berita RRI pukul 07.00 tentang G30S. Perintah harian itulah, yang kemudian menjadi persoalan besar sehingga ia diadili Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) dan divonis hukuman mati (Desember 1966). Namun, vonis hukuman mati itu tidak segera dieksekusi. Omar ditahan di penjara selama 29 tahun sejak 25 Desember 1966, dan dibebaskan pada tanggal 16 Agustus 1995, setelah bersama Soebandrio, ia mendapat grasi dari Presiden Soeharto pada 2 Juni 1995.