Nurhayati Ali Assegaf

LahirSolo, 17 Juli 1963
Profesi
Karier
  • Anggota DPR RI (2009-2014)

Dr. Nurhayati Ali Assegaf, M.Si., MP mengawali karirnya sebagai Managing Director Bisnis dan Konsultan Keuangan di Assegaf & Partners Ltd, pada 1998-2004. Selain itu ia juga bekerja Associate Winarto Soemarto & Associates pada 1993-1998 dan menjadi pembawa acara dan sutradara "Perspektif Perempuan" di salah satu program Televisi Republik Indonesia (TVRI). saat ini Dr. Nurhayati Ali Assegaf tercatat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) dan menjadi anggota DPR RI Komisi 1 dari Fraksi Partai Demokrat.

Sebelum bergabung dengan partai bentukan SBY ini, Nurhayati membuat perubahan karier yang cepat dari seorang ibu rumah tangga biasa menjadi pengusaha. Kemudian ia bergabung dengan sebuah konsultan keuangan dan bisnis sebagai asosiasi, sebelum mendirikan Assegaf dan Partners. Pada 1990-an dia mendirikan organisasi relawan untuk anak-anak jalanan dan imigran, dimana hal ini bisa membuatnya bersentuhan langsung dengan kebijakan pemerintah saat itu pada sector yang bersangkutan. Seperti, imigran yang overstay, harus segera dikembalikan ke negara asalnya. Saat itu, ia juga sering mengunjungi rumah tahanan di Cengkareng, Banten, dan menjadi mediator antara imigran dan kedutaan besar mereka.

Kegiatannya sebagai aktivis organisasi sosial maupun politik dimulai ketika Nurhayati masih berstatus sebagai mahasiswa. Keterlibatannya yang kuat dengan isu-isu politik dan sosial serta hubungan internasional mendorong Nurhayati Ali Assegaf untuk menjadi pelindung dan pendiri sejumlah lembaga serta kelompok pemikir menangani isu-isu yang berkaitan dengan pemuda, perempuan dan anak, demokrasi serta pendidikan. Pada tahun 2003, ia bergabung dengan Partai Demokrat, aktif dalam struktur organisasi partai, termasuk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal dan Ketua Departemen Luar Negeri.

Sejak diberi amanah sebagai ketua Fraksi Partai Demokrat yang menggantikan Jafar Hafsah, Nurhayati Ali Assegaf, terus memikirkan bagaimana untuk mendukung program pemerintah. Menurutnya, fraksi partai di DPR merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah. Meskipun tidak mudah memimpin anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI yang berjumlah 148 orang, tetapi iaa selalu optimis dan yakin bahwa dengan menjalin komunikasi yang baik secara intens dengan para anggota partai maka tidak akan ada jalan buntu pada setiap persoalan yang ada. Tidak hanya itu, ia juga mendesak anggota FPD DPR RI untuk mengunjungi konstituen mereka setiap Jumat sampai Minggu selama reses parlemen.

Dalam perjalanan karier politiknya di parlemen sejak tahun 2004, Nurhayati terlibat di komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, bidang Perdagangan, Industri, Investasi, Usaha Kecil dan Skala Menengah, BUMN, dan National Standardisasi, dan Komisi I Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, Komunikasi dan Informasi. Saat ini, ia adalah Ketua Inter-Parliamentary Union (IPU-Indonesia) dan Panitia Kerja Milenium Development Goals (MDGs), yang sebelumnya juga sebagai Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen. Dia juga bertindak sebagai Focal Point dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk Konvensi PBB dalam memerangi Desertifikasi.

Pada saat kongres pertama Partai Demokrat tahun 2005, dia menjadi satu-satunya perempuan yang dinominasikan menjadi kandidat ketua umum Partai Demokrat bersaing dengan Hadi Utomo, adik ipar Ani Yudhoyono yang kemudian terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Kendatipun tak menang, Nurhayati menganggap dengan berpartisipasi dalam kompetisi ini, dia memotivasi para perempuan bahwa perempuan bisa memainkan peranan dalam politik.

Pada Pemilihan Umum legislatif 2009, Nurhayati kembali ikut meramaikan bursa pencalegan untuk Daerah Pemilihan Jawa Timur V yang meliputii Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu atau Malang Raya. Nurhayati terpilih menjadi anggota legislatif periode 2009-2014. Kefasihannya dalam berbahasa Inggris dan Jepang, serta pengetahuannya tentang bahasa Arab dan Perancis, menjadikannya memilih duduk di kursi Komisi I DPR yang membawahi urusan luar negeri, pertahanan dan komunikasi. Dengan kemampuannya berkomunikasi dalam berbagai macam bahasa inilah, Nurhayati sering diundang sebagai pembicara, baik dalam skala nasional maupun internasional. Ia juga menjalin hubungan baik dengan para duta besar dalam berdiplomasi maupun berbagi gagasan dalam membangun hubungan bilateral dan multilateral.