Moestafa Sjarief Soepardjo

LahirGombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia, NaN undefined NaN
Profesi
Karier
  • Perwira Tentara Nasional Indonesia (1945-1965)
Pendidikan
  • Sekolah Staf dan Komando Quetta, Pakistan (1963-1963)

Brigadir Jenderal Moestafa Sjarief Soepardjo adalah Panglima Komando Panglima Tempur II di Kalimantan dalam rangka Konfrontasi melawan Malaysia ketika terbang dari Kalimantan Barat ke Jakarta pada 27 September 1965. Sebelum Gerakan 30 September 1965, dia mengamati rapat-rapat antara Sjam, Pono, Letnan Kolonel Untung, Kolonel Latief, dan Mayor Soejono yang membicarakan rencana gerakan pada hari-hari sebelumnya tak ia ikuti.
Dalam Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) 1966, Soepardjo mengaku bahwa kedatangannya ke Jakarta karena istrinya mengabarkan melalui telegram bahwa anaknya sakit keras. Selama menjenguk anaknya, Soepardjo mengaku memanfatkan waktunya untuk bertemu dengan para pemimpin gerakan, terutama Sjam, seorang sipil yang menjadi informan militer. Belakangan ia kemudian bergabung dalam gerakan “menyelematkan Presiden” dari upaya kup Dewan Jenderal. Sejarawan John Roosa dalam buku Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'Etat in Indonesia (2006) menyebut Soepardjo tak sepenuhnya paham dengan gerakan tersebut.
Pada pagi 1 Oktober 1965 Soepardjo berada di pangkalan udara Halim Perdanakusuma Jakarta bersama Sjam—Ketua Biro Khusus Partai Komunis Indonesia (PKI), Letkol Untung—pemimpin gerakan dan Kolonel Latief Komandan penculikan. Gerakan menyepakati Supardjo menjadi “duta” G30S untuk menemui Presiden Soekarno guna memperoleh dukungan. Kepada Soekarno yang ia temui di Halim, Soepardjo melaporkan bahwa mereka telah menculik para Jenderal yang akan mendongkel kekuasaan Soekarno. Namun Presiden yang mereka “bela” meminta G30S dihentikan. Presiden berpandangan jika gerakan tetap berlanjut maka akan menimbulkan pertumpahan darah.
Jawaban ini membuat Soepardjo dan membuatnya kebingungan. Sementara daftar susunan komando Dewan Revolusi diumumkan di Radio Republik Indonesian (RRI) pada 1 Oktober siang. Soepardjo dicatut sebagai Wakil Komando Revolusi. Sementara sang Ketua Dewan Revolusi, adalah Letkol Untung, yang dua tingkat lebih rendah darinya.
Setelah gerakan 30 September dipatahkan pasukan Soeharto, Soeparjo bersama Sjam dan Pono melarikan diri. Mereka bersembunyi di rumah Pono untuk sementara waktu. Dan akhirnya Soepardjo ditangkap.
Soepardjo sempat membuat analisa soal gagalnya gerakan tersebut. Menurut Soepardjo salah satu penyebab kegagalan aksi itu karena tidak ada komando tunggal dalam gerakan. Sjam sebagai pemimpin operasi politik lebih banyak berdebat dengan Untung sebagai pemimpin operasi militer. Soeparjo juga menyebut bahwa para pimpinan tidak menyiapkan rencana cadangan jika G30S itu gagal. Setelah itu para pemimpin gerakan malah tercerai berai.
Soepardjo sejak jaman Revolusi di jadi Tentara. Di jaman pendudukan Jepang, dia adalah murid sekolah palayaran Jepang di Cilacap, seperti Slamet Riyadi. Soepardjo akhirnya meniti karir sebagai perwira di Divisi Siliwangi yang ikut menumpas pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. Soepardjo mengenal Sjam pada saat penumpasan gerakan Darul Islam di Jawa Barat. Soepardjo yang saat itu Komandan Korem Priangan di Garut memanfaatkan Sjam sebagai intelijen sipil. Dari informasi intelijen Sjam, Soepardjo mendapat ide taktik “Operasi Pagar Betis”. Dalam operasi ini rakyat dilibatkan dalam operasi dengan cara berjajar berdekatan sembari menyisir kawasan yang menjadi basis DI. Berkat operasi ini, Soepardjo berhasil memberangus DI, pangkatnya juga naik dari Kolonel menjadi Brigjen. Soepardjo dieksekusi mati pada 13 Maret 1967.