Marzuki Alie

Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Majelis Tinggi Partai Demokrat (2013-2015)
Lahir: Palembang, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, 6 November 1955
Karir
  • Pegawai Negeri Sipil di Ditjen Aanggaran, Dep.Keuangan RI Jakarta Dep.Keuangan RI Jakarta (1975-1979)
  • Pegawai Negeri Sipil di KPN, Departemen Keuangan RI Palembang Departemen Keuangan RI Palembang (1979-1980)
  • Komisaris Utama Group usaha PT.Global Perkasa Investindo PT.Global Perkasa Investindo (2006-2009)
  • PT.Semen Baturaja (Persero) Palembang, Baturaja, Lampung, Jakarta PT.Semen Baturaja (Persero) Palembang, Baturaja, Lampung, Jakarta
  • Direktur Komersiil PT.Semen Baturaja (Persero) Palembang PT.Semen Baturaja (Persero) Palembang (1999-2006)
  • Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) Partai Demokrat Sumse Partai Demokrat Sumsel (2002-2003)
  • Fungsionaris DPP Partai Demokrat, Jakarta DPP Partai Demokrat, Jakarta (2003-2005)
  • Anggota Tim Kampanye SBY-JK Tim Kampanye SBY-JK (2004)
  • Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Jakarta DPP Partai Demokrat, Jakarta (2005-2010)
  • Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (2010-2013)
  • Sekretaris Tim Kampanye SBY-Boediono Sekretaris Tim Kampanye SBY-Boediono (2009)
  • Ketua DPR-RI tahun DPR-RI (2009-2014)
  • Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Majelis Tinggi Partai Demokrat (2013-2015)
Pendidikan
  • SD Negeri 36 Palembang
  • SMP Negeri IV Palembang
  • SMA Xaverius I Palembang, jurusan IPA
  • Production Management - Fakultas Ekonomi UNSRI, Palembang
  • Corporate Finance - Magister Manajemen UNSRI, Palembang
  • Marketing Politics - PhD Program, Universiti Utara Malaysia

Di akhir tahun 2015 mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Marzuki Alie santer diberitakan pindah ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari Partai Demokrat. Adapun kabar ini berkembang lantaran sang isteri, Asmawati, terpilih menjadi wakil ketua umum partai berlambang Kabah itu.


Kabar ini dibantah Marzuki dengan mengatakan bahwa dirinya akan terus bergabung dengan partai Demokrat. Dilansir dari Kompas.com, Marzuki mengatakan bahwa loyalitasnya di Partai Demokrat bukan semata untuk menempati jabatan politik tertentu. “Niat saya bergabung ke Demokrat ini hanya untuk mengabdi bukan untuk memburu jabatan. Jadi ketua DPR pun karena nasib baik saja,” ujar Marzuki.


Sebelumnya, pada pertengahan tahun 2015 Marzuki pun ramai diberitakan hengkang dari Partai Demokrat setelah tidak lagi menduduki jabatan strategis. Nama Marzuki juga tidak masuk ke dalam struktur pengurus DPP Demokrat periode 2015-2020. Marzuki sempat ikut memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Demokrat namun kalah suara dari Anas Urbaningrum. Pria berusia 60 tahun ini lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 6 November 1955.


Marzuki kecil tumbuh di lingkungan keluarga yang agamis dan religius. Marzuki mengakui dengan modal pajaran agama dari keluarganya ini, ia menjalani hidup dalam karir sosial dan politiknya. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan, profesi yang dijalani maupun tugas yang diembannya, Marzuki Alie selalu berupaya maksimal untuk memberikan hasil yang terbaik.


Ketika masih duduk dibangku SMA, ia selalu mendapatkan nilai yang terbaik sebagai Juara Kelas dengan nilai matematika maksimal, bahkan saat menyelesaikan studi S-2 di Universitas Sriwijaya memperoleh Index Prestasi 4 dari skala 4. Marzuki Alie sebagai sosok yang tidak pernah berhenti belajar, terakhir, ia telah menyelesaikan studi S-3 di Universiti Utara Malaysia, Sintokh, Kedah Kisah Hidup Marzuki Alie Malaysia, dengan judul disertasi tentang Marketing Politic.


Ketika teman-temannya bergulat dengan bangku kuliah, Marzuki Alie meninggalkan Fakultas Tehnik Elektro Universitas Indonesia untuk menjadi pegawai negeri sipil Departemen Keuangan, Jakarta. Ketika di tugaskan di Palembang, Marzuki Alie di minta Ayahnya untuk memimpin perusahaan keluarga disamping melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya.


Pola kerja PNS di Departemen Keuangan rupanya tidak dirasa cocok dengan kemampuannya, maka Marzuki pun memilih berhenti menjadi PNS. Selain itu, dasar pertimbangan Marzuki juga karena ia mencermati peluang karir teman-temannya yang telah menyelesaikan kuliah sarjananya tetapi tidak mendapatkan penyesuaian. Marzuki lalu beralih profesi menjadi karyawan BUMN, yang pada akhirnya ia dipercaya mengelola PT Semen Baturaja (Persero).


Selama bekerja di PT. Semen Baturaja ini, kemampuan manajerial Marzuki Alie berkembang pesat ketika dipercaya menjabat sebagai kepala biro di berbagai tempat, yaitu: kepala Biro Umum, Biro Anggaran, Biro Akuntansi, dan Biro Pemasaran serta Kepala Departemen Keuangan.


Kompetensi Marzuki Alie menghadapi ujian berat ketika PT Semen Baturaja (Persero) pada tahun 1997 terancam bangkrut. Keadaan merupakan imbas dari krisis Ekonomi global sehingga menjadi salah satu perusahaan yang menjadi ‘pasiennya‘ Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).


Kemudian Kementerian BUMN menunjuk Konsultan Boston Consulting Group untuk melakukan penilaian terhadap PT. Semen Baturaja dan menyimpulkan bahwa PT Semen Baturaja harus dilikuidasi. Namun Marzuki Alie tidak sependapat karena keputusan Likuidasi itu bukan solusi terbaik untuk menyelamatkan perusahaan.


Kementerian BUMN menunjuknya sebagai Direktur Komersil Perusahaan untuk menyelamatkan perusahaan. Berbekal pengalaman dan ilmu keuangan yang dimiliki, ia dan timnya dengan penuh percaya diri melakukan penyehatan perusahaan melalui restrukturisasi keuangan, berhasil keluar dari BPPN dan menjadi perusahaan yang sangat sehat.


Marzuki sekaligus menyelamatkan PT Semen Baturaja dari kebangkrutan tanpa bantuan pemerintah akibat krisis moneter 1998-2000. Nilai aset hasil penilaian dari “Independent Appraisal Company” tahun 2001 menjadi sebesar Rp 1,2 trilyun dari negative value penilaian Boston Consulting Group tahun 1999. Marzuki diangkat sebagai Direktur Utama PT. Semen Baturaja (Persero) pada November 2001.


Di samping waktunya banyak tersita untuk memimpin kedua perusahaan: PT Semen Baturaja (Persero) dan Perusahaan Keluarga, Marzuki Alie juga sangat aktif dalam organisasi-organisasi pendidikan, sosial dan kepemudaan, keagamaan, dan profesi serta politik.


Kesenangan berorganisasi sudah tumbuh sejak duduk bangku sekolah. Tertantang dengan reformasi politik dan sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), maka Marzuki Alie memutuskan untuk terjun ke dunia politik dimulai sejak tahun 2002 yaitu sebagai Majelis Pertimbangan Daerah Partai Demokrat Sumatera Selatan.


Tahun 2003 Marzuki Alie menjabat sebagai fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat dan aktif dalam Pilleg dan Pilpres 2004. Selanjutnya pada tahun 2005 dipercaya menduduki jabatan strategis di partai sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat.


Pada Pilpres tahun 2009, Marzuki Alie dipercaya sebagai Sekretaris Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono. Berbekal pengalaman dan kiprahnya, setelah terpilih sebagai anggota DPR di Daerah Pemilihan DKI Jakarta III (Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu) yang disebut sebagai Dapil neraka pada Pemilu 2009, Marzuki Alie diberikan amanat yang tidak ringan, yakni diusulkan oleh Fraksi Partai Demokrat dan didukung oleh fraksi-fraksi di DPR lainnya sebagai Ketua DPR periode 2009-2014.


Pada pidato pelantikannya sebagai Ketua DPR pada 1 Oktober 2009, Marzuki Alie mengatakan bahwa tugas kepemimpinannya di DPR merupakan amanat mulia yang menuntut tanggung jawab tinggi yang harus senantiasa dijaga dan ditunaikan secara optimal.


Guna memperbaiki citra DPR, Marzuki bertekad membangun sistem, sehingga DPR mampu hadir sebagai lembaga yang aspiratif dan berwibawa. Sistem tersebut menurut Marzuki tidak semata-mata terkait dengan jaminan kelengkapan teknis operasional yang memperlancar tugas dan kinerja anggota dewan, tetapi juga yang lebih penting adalah menjamin berkembangnya kualitas sumber daya manusia DPR, sehingga mampu menghadapi dan menjawab berbagai tantangan dan kendala yang kompleks,” ujarnya.


“Persoalan citra DPR yang kian terpuruk juga tidak terlepas dari supporting system-nya. Bagaimanapun kinerja sekretariat jenderal sangat mempengaruhi pencitraan lembaga wakil rakyat,” kata Marzuki.


Dalam rangka itu, sebagai pimpinan DPR Marzuki Alie melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki Kesetjenan DPR-RI. Upaya itu terbukti berhasil. Selama kepemimpinannya, kesetjenan DPR sebagai lembaga supporting system telah mendapat penghargaan yang selama ini tidak pernah diraih oleh Kesetjenan. Kinerja Kesetjenan DPR mendapat penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK selama sejak 2010 sampai 2013 ini.

DarkLight