Li Moe Tie

CEO Lippo Group (1990-2016)
Lahir: Malang, Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia, 5 Desember 1929
Karir
  • Direktur Bank Panin (1971-1975)
  • Direktur Bank Kemakmuran (1954-1964)
  • Direktur Bank Buana (1964-1971)
  • Direktur Bank Central Asia (1975-1990)
  • CEO Lippo Group (1990-2016)

Mochtar Riady adalah pengusaha pendiri dan presiden komisaris dari Lippo Group. Lippo Group, memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas grup ini, selain di Indonesia, juga merambah di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian dan Shanghai. Bisnis Lippo meliputi perbankan, properti, industri dan lainnya. Ritel penjual pakaian Matahari juga bagian dari Lippo. Di mana Matahari sering menjadi penyewa terbesar di mall-mall tertentu. Lippo sendiri memiliki beberapa mall. Lippo juga mendirikan lembaga pendidikan Pelita Harapan. Orang-orang mengenalnya sebagai seorang praktisi perbankan andal sejak muda. Majalah Forbes tahun 2011 merilis, Mochtar Riady menduduki urutan ke-38 orang terkaya Indonesia. Dengan total kekayaan US$650 juta.

Sebelum nekad menjadi Bankir, dia pernah mengurus sebuah toko kecil mertuanya. Dalam tempo tiga tahun, toko mertuanya menjadi yang terbesar di kota Jember. Cita-citanya untuk menjadi seorang bankir membuatnya untuk membuatnya nekad pergi ke Jakarta pada tahun 1954. Padahal dia tidak memiliki seorang kenalan pun di Jakarta. Mochtar Riady mulai cari relasi dengan bekerja di sebuah CV yang terletak di Jalan Hayam Wuruk selama enam bulan. Lalu bekerja pada seorang importer. Dalam waktu bersamaan, ia juga bekerja sama dengan temannya berbisnis kapal kecil. Suatu saat temannya mengabarinya, ada sebuah bank yang sedang tertimpa masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya. Mochtar Riady tertarik dan berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah itu. Dia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut dan mulai dari nol belajar keuangan. Dalam sebulan dia makin paham soal perbankan. Hanya dalam setahun Bank Kemakmuran mengalami banyak perbaikan dan tumbuh pesat.

Tahun 1964, Mochtar Riady pindah ke Bank Buana. Ketika terjadi krisis ekonomi tahun 1966, Riady sedang ikut kuliah malam di Universitas Indonesia. Di mana dia kenal pakar ekonomi seperti macam Emil Salim atau Ali Wardhana. Mochtar Riady belajar banyak. Dia segera mengubah arah kebijakan Bank Buana dengan menurunkan suku bunga dari 20% menjadi 12%. Waktu itu bank-bank beramai-ramai menaikkan suku bunganya. Karena suku bunga yang rendah tersebut, maka para peminjam yang belum lunas bisa segera membayar kewajibannya. Para usahawan yang akan meminjam diberi syarat ketat, khususnya dalam hal jaminan. Tahun 1971,Mochtar pindah ke Bank Panin, gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia.

Mochtar Riady anak dari pedagang batik asal Fujian bernama Liapi (1888-1959) dan Sibelau (1889-1939). Kedua orangtuanya tiba di Malang pada tahun 1918. Tahun 1947, Riady ditangkap oleh NICA Belanda, karena menentang pembentukan Negara Indonesia Timur. Dia sempat ditahan di penjara Lowokwaru, Malang. Lalu dibuang ke Tiongkok. Di sana, dia sempat kuliah filsafat di Universitas Nanking. Mochtar Riady lalu tinggal di Hongkong hingga tahun 1950. Dia lalu kembali ke Indonesia. Tahun 1951 ia menikahi Suryawati Lidya, seorang wanita asal Jember. Sejak 10 tahun, Mochtar Riady kelahiran Malang,12 Mei 1929, tertarik kerja di Bank. Dia tertarik karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) alias Bank Dagang Belanda. Para pegawai bank yang berpakaian rapih dan kelihatan sibuk.

DarkLight