Karlina Rohima Supelli Leksono

LahirJakarta Selatan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, NaN undefined NaN
Profesi
Karier
  • Kepala Kelompok Ilmu Pengetahuan Alam Direktorat Pengkajian dan Penerapan Ilmu Dasar, BPPT (1987-1988)
  • Kepala Seksi Observasi Planetarium Jakarta (1982-1985)

Karlina Leksono Supelli merupakan astronom perempuan Indonesia pertama yang sekaligus aktif di bidang kemanusiaan. Ia merupakan putri ke-11 pasangan Supelli dan Margaretha.


Karlina punya kepribadian yang cenderung soliter. Hal itu disebabkan oleh lingkungan masa kecilnya. Ibunya adalah seorang berkebangsaan Belanda yang dalam kesehariannya kurang suka bergaul dan lebih memilih berada di rumah untuk membaca buku. Sedangkan ayah adalah orang sunda asli.


Ketika pecah konfrontasi RI-Belanda dalam soal Papua Barat, posisinya sebagai anak keturunan dirasa kurang menguntungkan. Ketika sedang belajar sejarah di sekolah, ia dikatakan sebagai orang yang ketinggalan kapal saat kaum pengungsi Belanda pulang ke negaranya. Walaupun kata-kata itu dimaksudkan sebagai canda semata, namun Lina sempat merasa kalau asal-usulnya dipertanyakan. Ia merasa tidak punya akar budaya. Jika ia pergi ke Belanda, ia disebut orang indo karena ayahnya orang Indonesia, sedangkan jika di Indonesia dia disebut penjajah. "Saya punya akar, tetapi tidak pernah merasa menapaknya dengan kokoh," kenangnya.


Setelah lulus SMA, Karlina masuk Fakultas Matematika Ilmu Alam (MIPA) Jurusan Astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun belakangan, Karlina mendalami filsafat. Adapun gelar doktor astronomi (MSc) diperoleh Karlina dari University College of London, Inggris. Sedangkan gelar doktor filsafat dirampungkannya di UI tahun 1997.


Menurut Karlina, awal mula perkenalannya dengan dunia filsafat cukup unik. Semula ia tidak berminat sama sekali pada filsafat. Suatu hari, Ninok Leksono Dermawan, sang suami yang berprofesi sebagai wartawan senior di harian Kompas, tidak bisa masuk kuliah. Kala itu suaminya sedang menempuh pendidikan untuk meraih gelar doktor di UI dan kebetulan juga satu mata kuliah dengan Lina. Sebagai istri, Lina menawarkan untuk menggantikannya mengikuti kuliah filsafat dengan dosen Toetie Herawati. Setelah kejadian itu, Lina merasa filsafat adalah ilmu yang menarik untuk ditekuni lebih lanjut.


Sebelum masuk Filsafat, Karlina tertarik pada Kosmologi. Selama penelitian, ia menemukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar namun tidak bisa terjawab melalui data-data empiris. Ketika mempelajari Filsafat, Karlina mengaku bisa menemukan titik terang dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Pada tahun 1992, akhirnya Karlina memutuskan ikut kuliah program master filsafat UI. Ketika ia meneruskan program doktor filsafat, Karlina menemukan hubungan antara semua ilmu yang dikuasainya. Karlina menarik kesimpulan bahwa apa yang dianggap sebagai kebenaran ilmiah dalam kosmologi, sebenarnya hanya konstruksi benak manusia dan selalu berubah.


Karlina suka berorganisasi. Ketika menjadi mahasiswa di ITB, tahun 1978, Karlina menjadi aktivis kampus dan menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB. Saat reformasi 1998 terjadi, ia mendadak menjadi sorotan media karena berdiri di bundaran HI sambil memprotes soal harga susu bersama para ibu dan aktivis perempuan lainnya dalam aksi Suara Ibu Peduli (SIP). Akibatnya, ibu dua anak ini harus bermalam di Polda selama 23 jam. Bersama kedua rekannya, Gadis Arivia dan Wilarsih, Karlina didakwa dengan tuduhan melanggar Pasal 510 KUHP.


Saat itu Karlina bekerja sebagai seorang peneliti pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dosen luar biasa Jurusan Filsafat UI. Ia pun wakil pemimpin redaksi (wapemred) media Jurnal Perempuan.
Aksi Lina dalam bidang kemanusiaan tak berhenti di situ. Setelah itu, bersama para tokoh pro pemberantasan korupsi Indonesia, Karlina juga melayangkan seruan dan kritikan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia menyikapi kepemimpinan SBY yang dinilai kurang kuat dalam membangun ketertiban hukum. Dalam aksi itu, para tokoh juga menandatangani sebuah surat seruan terhadap Penyelamatan Bangsa dan dukungan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut tuntas kasus korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M.Nazaruddin.