Idris Laena

Anggota DPR -RI (2014-2019)
Lahir: Riau, Indonesia, 12 Januari 1965
Karir
  • Anggota DPR -RI (2014-2019)
Pendidikan
  • UNIVERSITAS TRI SAKTI

H.M. Idris Laena merupakan Anggota DPR-RI yang terpilih di dua periode yaitu, periode 2009-2014 dan periode 2014-2019 dari Partai Golongan Karya (Golkar) mewakili Dapil Riau II setelah memperoleh 91,595 suara pada periode kedua. Idris adalah politisi senior dari Golkar dan bertugas di Komisi XI yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan dan perbankan. Januari 2016, ia dimutasi menjadi anggota Komisi VI DPR-RI.

Latar belakang Idris memang seorang politisi dan sekaligus sebagai seorang pengusaha besar yang mengawali bisnis di bidang jasa penyaluran TKI. Sekarang menjabat sebagai pemilik dari Laenaco Group yang memiliki bidang usaha antara lain di biro perjalanan haji dan umroh (Laena Tour), valuta asing (Laena Valas) dan properti (PT. Laenaco Utama).

Di periode 2009-2014, Idris menjabat sebagai anggota di Komisi VI yang membidangi perdagangan, industri, umkm dan bumn. Di 2012, Idris tersangkut kasus pemerasan terhadap direksi bumn yaitu PT. PAL dan PT. Garam dan diberikan sanksi oleh Badan Kehormatan lalu dipindahkan dari komisi yang membidangi BUMN tersebut. Pada April 2015 terjadi banyak mutasi di Fraksi Golkar dan sekarang Idris bertugas di Komisi VII yang membidangi energi sumber daya mineral dan lingkungan hidup.

Idris Laena memulai karir politiknya dengan menjadi kader dari Golkar di provinsi Riau sejak 2003.  Idris dipercaya untuk maju menjadi Calon Legislatif dari Golkar di Dapil Riau II pada Pemilu Legislatif 2004 tetapi tidak menang. Namun karena kasus korupsi yang menjerat Saleh Djasit, Idris Laena dilantik menjadi Anggota DPR-RI periode 2004-2009 sebagai pengganti dan Pejabat Antar Waktu (PAW).  Idris menggantikan Saleh Djasit di DPR-Ri dan bertugas di Komisi VII yang membidangi energi, sumber daya mineral dan lingkungan hidup.

Idris kemudian menjabat sebagai Ketua Bidang Politik dan Legislatif Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar di 2009 dan mencalonkan diri lagi sebagai Calon Legislatif di Pileg 2009 dan menang. Muhammad Idris Laena bergelut di dunia usaha dan politik. Dia ingin memperjuangkan amanah rakyat, yang bertujuan terciptanya lapangan kerja yang seluas-luasnya seperti diamanatkan di dalam UUD 45. Untuk itulah pendiri Kelompok Lena Group ini, terjun dan terlibat aktif di dalam Partai Golkar.

 

Dia pengusaha yang sangat peduli kepada nasib TKI. Setiap kali muncul masalah menyangkut TKI, baik di dalam maupun di luar negeri, dia selalu langsung mempelajari dan berusaha mencari solusinya. Begitu juga jika ada peraturan atau kebijakan pemerintah menyangkut TKI, Wakil Ketua Umum APJATI ini selalu segera membahasnya dengan para anggota PJTKI. Sosoknya memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bisnis pelatihan dan pengerahan TKI. Sebenarnya ada delapan jenis bisnisnya tapi dia memberikan perhatian yang lebih kepada TKI dibanding usahanya yang lain.

Aktifitas Idris di dunia politik khususnya di Partai Golkar cukup berliku dan panjang. 5 Tahun silam lalu, dirinya pernah menjadi Caleg dari Dapil Riau namun karena saat itu, belum mendapatkan amanah, Idris tidak terpilih menjadi anggota Dewan. Sebelumnya, Idris juga pernah menjadi anggota PAW menggantikan Shaleh Djasid dari Provinsi Riau selama kurang lebih 1 tahun dia menjabat sebagai anggota Dewan dari Komisi VII DPR RI.

Perjuangan Idris masuk ke lingkungan Senayan, berlanjut pada tahun 2009. Dia mencalonkan diri kembali sebagai Caleg di Provinsi Riau dan akhirnya terpillih, mendapatkan suara terbanyak sebesar 100 ribu suara. Selaku anggota Dewan yang ditugaskan Partai di Komisi VI DPR, dirinya bercita-cita untuk memajukan dan mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sehingga benar-benar dapat menjadi penopang perekonomian Indonesia dengan berbasis usaha kerakyatan.

Idris selalu teringat pesan gurunya sewaktu sekolah dulu, gurunya pernah mengatakan bahwa Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Hankamrata) dapat tercipta apabila Indonesia dapat membangun stabilitas nasional melalui kesejahteraan dan kemakmuran yang merata. Kenangan tersebut terasa menancap kuat di dalam benak Idris, sampai dirinya mengkhawatirkan nasib Indonesia akan seperti Negara Polandia, dimana terjadi revolusi akibat tingginya angka pengangguran terdidik di negara tersebut.

Sentimen Terkini
History Sentimen
Positive
Neutral
Negative
November 2019
Data diambil dari 500 top media online dan 38 sentiment publik
66%
8%
26%
Oktober 2019
Data diambil dari 500 top media online dan 26 sentiment publik
77%
4%
19%
DarkLight