Hasyim Asyhari

Rais Aam Syuriyah Nahdatul Ulama (1927 - 1947)
LahirDemak, Jawa Tengah, Indonesia, 10 April 1875
ProfesiRais Aam Syuriyah Nahdatul Ulama (1927 - 1947)
Karier
  • Founder Pesantren Tebuireng (1899-1947)
  • Rais Aam Syuriyah Nahdatul Ulama (1927-1947)

Kyai Haji Mohammad Hasyim Asyhari, selain sebagai pendiri dan pimpinan Nahdatul Ulama (NU), dikenal sebagai Kyai pendiri dari pesantren Tebuireng. Hasyim Asyhari dikenal sebagai tokoh Islam Tradisional Indonesia yang penting dalam Islam Nusantara. Meski sudah berguru ke Arab bukan berarti Hasyim adalah orang yang dengan mudah terpengaruh oleh gerakan pembaharuan Islam yang mulai berkembang di Arab Saudi. Hasyim berusaha mempertahankan ajaran dari empat Mazhab Islam (Syafi'i, Hambali, Maliki, Hanafi) yang sudah lama mengakar di Indonesia.

Hasyim bersama Kyai-kyai lain di Jawa akhirnya mendirikan Nahdatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926. NU punya basis masa yang loyal dan besar di sekitar Jawa Timur. Dimana orang-orang NU di daerah itu bisa hidup rukun dengan penganut Kristen, Katolik, Kong Hu Cu juga pada penganut kepercayaan lainnya, termasuk kejawen Abangan (kepercayaan Asli Jawa). Selama Naik Haji ke Mekkah, Hasyim setidaknya berguru pada: Syech Abbas Maliki, Syech Muhamad Mahfudz at Tarmisi, Syech Ahmad Amin Al-Athathar, Syech Said Yamani, Syech Rahmaullah, Syech Sholeh Bafadlal, juga Syech Ahmad Khatib yang asli Minangkabau.

Kembali dari Mekkah, Hasyim mendirikan pesantren Tebuireng yang kemudian dipimpinnya. Setelah memimpin Tebuireng, Hasyim menjadi kyai paling disegani dari oleh sesama kyai dan para santrinya. Sebagian kisah perjuangannya yang membela umat Islam dan Indonesia pernah difilmkan dalam Sang Kyai (2013). Anaknya, Wahid Hasyim pernah menjadi Menteri di awal kemerdekaan Indonesia. Cucunya, Abdurahman Wahid pernah menjadi Presiden Republik Indonesia. Hasyim meninggal pada