Franz Magnis Suseno

LahirEckersdorf , 23 Mei 1936
Profesi
Karier
  • Direktur Program Pasca Sarjana STF Driyarkara STF Driyarkara (1995-2016)
  • Ketua STF Driyarkara (1990-1998)
  • Ketua Jurusan Filsafat Indonesia STF Driyarkara (1987-1990)
Pendidikan
  • Philosophissche Hochschule (1957-1960)
  • Ludwig-Maximilians, Universitas Munchen (1971-1973)

Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ atau yang dikenal dengan nama Romo Magnis merupakan rohaniwan Katolik, budayawan, akademisi, aktivis, dan seorang Indonesianis yang terkemuka. Tokoh ini biasa dipanggil “Romo Magnis”, mengacu pada statusnya sebagai rohaniwan Katolik, sekaligus pengayom bagi banyak orang. Franz Magnis-Suseno memang dikenal melalui beragam aktivitasnya di berbagai ranah pemikiran.

Franz Magnis-Suseno terlahir sebagai Franz Graf von Magnis atau lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis , pada 26 Mei 1936 di Eckersdorf, Silesia, Kabupaten Glatz, sebuah daerah Jerman paling timur yang kini telah menjadi wilayah Polandia. Kedua orangtuanya, Dr. Ferdinand Graf von Magnis dan Maria Anna Grafin, berasal dari keluarga bangsawan, cendekiawan, dan penganut Katolik yang taat. Franz adalah anak tertua dari enam bersaudara.

Franz tinggal di Indonesia sejak 29 Januari 1961 sebagai bagian dari tugasnya sebagai anggota ordo Serikat Yesuit. Sebelum berangkat ke Indonesia, Franz terlebih dulu menyelesaikan studi filsafat di Philosophissche Hochschule, Pullach, dekat kota Munchen, selama tahun 1957-1960.

Franz ditahbiskan menjadi pastor di Yogyakarta pada 1967. Sepuluh tahun kemudian (1977), ia resmi menjadi warga negara Indonesia, setelah melalui tujuh tahun mengurus proses perpindahan kewarganegaraan. Ia melepaskan kewarganegaraan asalnya dengan menyerahkan paspornya ke Kedutaan Besar Jerman di Jakarta.

Tahun pertama kehidupan Romo Magnis di Indonesia ia lewati dengan mempelajari bahasa Jawa. Empat bulan terakhir dari masa pembelajarannya ini dihabiskannya dengan tinggal di Desa Boro, Kulon Progo, sebelah barat Yogyakarta. Desa Boro sangat lekat dengan suasana Jawa di kaki Gunung Menoreh, yang amat membantu Romo Magnis dalam memperlajari bahasa Jawa. Di sana ia bersosialialisasi dengan giat, mengunjungi dan berbicara dengan sebanyak mungkin orang, agar mampu mempraktekkan bahasa yang sedang ia pelajari.

Setelah menyelesaikan pelajaran bahasa Jawanya, Romo Magnis diangkat sebagai di Jakarta sebagai guru agama di Kolese SMA Kanisius merangkap Kepala Asrama Siswa selama 1962-1964 . Beberapa tahun kemudian (1969), Magnis-Suseno bersama sejumlah rekannya ditugasi mendirikan perguruan tinggi yang kelak dikenal sebagai Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Romo Magnis sempat dua kali (1969-1971 dan 1973-1985) menjabat Sekretaris Akademis STF Driyarkara. Di masa senggang antara tahun 1971-1973, Romo Magnis memanfaatkannya untuk mendalami studi filsafat, teologi moral, dan teori politik di Ludwig-Maximilians, Universitas Munchen, Jerman, hingga mencapai gelar doktor filsafat pada 1973. Ia meraih predikat summa cum laude dengan disertasi tentang pemikiran Karl Marx muda, berjudul Die Funktion normbativer Voraussetzungen im Denken des Jungen Marx (1843-1848).

Romo Magnis dikenal dengan aktivitas mengajarnya di banyak universitas. Dalam kurun waktu 1979-1984, ia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Psikologi UI. Tahun 1979, Romo Magnis menjadi dosen tamu di Geschwister-Scholl-Institut, bagian dari Ludwig-Maximilians Universitat, dan di Hochschule fur Philosophie, keduanya di Munchen, Jerman. Tahun 1985-1993, dia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung. Tahun 1983-1987, dia kembali menjadi dosen tamu pada Hochschule for Philosophie, Munchen, dan Fakultas Teologi Universitas Innsbruck, Austria.

Di STF Driyarkara ia pernah menjabat Ketua Jurusan Filsafat Indonesia pada 1987-1990, pejabat Ketua STF Driyarkara tahun 1988-1990, Ketua STF Driyarkara tahun 1990-1998, dan sejak tahun 1995 hingga sekarang menjabat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana STF Driyarkara. Ia diangkat menjadi guru besar di sekolah itu pada 1996.

Romo Magnis juga adalah dosen luar biasa pada Program Magister Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia sejak 1990 sampai saat ini.

Aktivitas akademis Romo Magnis tidak terbatas di Indonesia saja. Pada tahun 2000, ia menjadi dosen tamu di Hochschuke fur Philosophie, Munchen. Selanjutnya, pada 2002 ia menerima gelar Doktor Teologi Honoris Causa dari Fakultas Teologi Universitas Luzern, Swiss.

Kiprah Romo Magnis dalam berbagai bidang yang digelutinya membuahkan banyak penghargaan. Ia menerima bintang jasa Satyalancana Dundyia Sistha dari Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia pada 1986 serta Das grobe Verdienstkreuz des Verdienstordens dari Republik Federasi Jerman.

Romo Magnis dikenal sebagai penulis yang produktif. Ia telah menulis beratus-ratus artikel di jurnal di suratkabar sejak empat dasawarsa lalu. Franz Magnis-Suseno juga telah menulis 33 buku berbahasa Indonesia dan dua judul berbahasa Inggris. Salah satu karyanya, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, pernah menimbulkan kontroversi ketika pertama kali terbit (1999). Sekelompok orang merazianya di sejumlah toko buku, selain berdemonstrasi dengan cara membakarnya di muka publik. Dengan menulis buku itu ia dianggap menyebarkan ide-ide Marx yang dinyatakan terlarang. Tapi kontroversi akibat kesalahpahaman itu berhenti, dan buku tersebut kemudian dicetak-ulang beberapa kali.

Buku-bukunya yang lain termasuk: Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Etika Dasar:Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Kuasa dan Moral, 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani sampai Abad ke-19; 12 Tokoh Etika Abad ke-20, 13 Model Pendekatan Etika, Mencari Makna Kebangsaan, Filsafat Kebudayaan Politik, Dalam Bayangan Lenin: Enam Pemikir Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka.

Magnis-Suseno di masa-masa belakangan makin sering berkunjung ke bekas tanah airnya, terutama untuk menghadiri undangan seminar, dan dengan cara itu ia merangkap sebagai duta independent Indonesia. Tapi ia tetap tinggal dan bekerja di Jakarta. Orang akan sering melihatnya berkemeja batik, dengan kancing mengunci sampai ke pangkal leher, meliuk.