Emha Ainun Nadjib

LahirJombang, Jawa Timur, Indonesia, 27 Mei 1953
Profesi
Karier
  • Seniman Penyair
Pendidikan
  • Pondok Modern Darussalam Gontor
  • Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah 1 Yogyakarta
  • Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada

Emha Ainun Nadjib lahir dengan nama Muhammad Ainun Nadjib di Jombang pada 27 Mei 1953. Muhammad Ainun Nadjib atau Emha Ainun Nadjib lebih akrab disapa dengan nama Cak Nun.

Emha Ainun Nadjib pernah menikah dua kali. Pernikahan pertamanya dengan Neneng Suryaningsih di tahun 1985. Pasangan ini melahirkan seorang putra yang bernama Sabrang Mowo Damar Panuluh atau sering dipanggil Noe, vokalis grup band Letto. Tetapi usia perkawinan pasangan ini tidak panjang, mereka akhirnya bercerai.

Di tahun 1997, Emha Ainun Nadjib menikah untuk yang kedua kali dengan seorang artis papan atas saat itu, Novia Kolopaking. Dari perkawinan ini, Emha Ainun Nadjib dan Novia Kolopaking memiliki empat orang anak, yaitu  Jembar Tahta Aunillah, Aqiela Fadia Haya, Ainayya Al-Fatihah, dan Anayallah Rampak Mayesha.

Emha Ainun Nadjib adalah anak keempat dari lima belas bersaudara. Ayah dan ibunya bernama Muhammad dan Chalimah.

Emha Ainun Nadjib pernah menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, tetapi tidak rampung. Lalu, Ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah 1 di Yogyakarta, dan tamat. Saat menempuh jenjang yang lebih tinggi, yaitu di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Emha Ainun Nadjib lagi-lagi tidak rampung, Ia hanya bertahan sampai semester 1.

Saat Emha menjalani kehidupannya sebagai penyair, Ia hidup di jalanan Malioboro Yogyakarta selama lima tahun. Ia dan teman-teman penyair Malioboro membentuk kelompok penyair Malioboro yang bernama Persada Studi Klub (PSK). Kehidupan Emha Ainun Nadjib tidak bisa dilepaskan dari Umbu Landu Paranggi, sang Presiden Malioboro kala itu, dan satu-satunya orang yang dianggap guru oleh Emha Ainun Nadjib.

Emha Ainun Nadjib juga berperan aktif saat terjadinya tranformasi politik dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Ia juga salah satu anggota dari Dewan Sembilan yang menghadiri pidato pengunduran diri Presiden Soeharto di Istana Merdeka.

Setelah memasuki Orde Reformasi, Emha Ainun Nadjib memutuskan untuk melakukan pendidikan politik ke masyarakat melalui gerakan sholawat. Ia memadukan kesenian, kebudayaan, politik, ekonomi, dan agama secara holistik dan komprehensif.

Dalam melakukan pendidikan politik ke masyarakat, Emha Ainun Nadjib hampir selalu ditemani oleh gamelan Kyai Kanjeng dan pemainnya. Gamelan Kyai Kanjeng sendiri, selain menjadi nama gamelan, juga merupakan nama sebuah konsep nada pada alat musik gamelan tersebut.    

Setiap bulan, Emha Ainun Nadjib melakukan aktivitas rutinnya, Maiyah, yang memiliki arti gotong royong. Induk dari Maiyah berada di Jombang, yang bernama Masyarakat Padhang Bulan. Komunitas Maiyah di Yogyakarta bernama Mocopat Syafaat, di Jakarta bernama Kenduri Cinta, di Semarang bernama Gambang Syafaat, di Surabaya bernama Bang Bang Wetan, di Banyumas bernama Juguran Syafaat, dan masih banyak lagi.

Pada tahun 2005, terjadi perubahan besar pola dan isi serta konten dekonstruksi yang dilakukan oleh Emha. Emha Ainun Nadjib mulai menggemakan tentang kebesaran Nuswantara. Ia sangat konsisten. Ia terus melakukan agitasi dan propaganda tentang kebesaran, kejayaan, dan keluhuran Nuswantara di dalam setiap kegiatannya. Tema besar tersebut membawa perubahan juga pada karya pertunjukan, film, maupun tulisan Emha Ainun Nadjib.

Bahkan, bersama putra sulungnya, Sabrang Mowo Damar Panuluh, mereka saling mengisi dan melengkapi. Sabrang Mowo Damar Panuluh memiliki pemahaman tentang sains mekanik dan kuantum. Emha Ainun Nadjib paham dan mengerti bahwa kebijaksanaan masa lalu leluhur Nuswantara, akan lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh generasi saat ini dengan menggunakan pendekatan sains.